Udah Ada Uber (Taksi) Perlukah Punya Mobil?

Jan 3, 2016 | | 6 comments

Kalau sebelumnya saya membuat artikel untuk menunjukkan bahwa jika menjadi supir Uber kita akan memperoleh keuntungan walaupun dengan kerja keras, sekarang ini pertanyaannya, apakah kalau sudah ada Uber (Taksi) atau Grab Car kita masih perlu punya mobil? Mungkin ini pertanyaan yang jawabannya tergantung pribadi masing-masing.

Namun di artikel ini saya akan mencoba untuk membahas murni dari segi keekonomian, dimana biaya yang termurah untuk mendapatkan hal yang sama yang tampil sebagai pemenang.

Untuk membandingkan biaya menggunakan jasa Uber dengan biaya memiliki mobil, tentu harus dibuat agar keadaannya betul-betul sama. Kata kerennya, apple to apple.

Mari kita lihat apa saja yang kita dapat dengan layanan Uber.

1. Kita dijemput di tempat yang kita tentukan, dimana saja, selama ada jasa Uber di kota tersebut.

2. Kita diantar ke tempat tujuan kita, kemana saja, selama ada jasa Uber di kota tersebut.

3. Kita dapat membawa keluarga (ayah, ibu, dan maksimal 3 anak) ke dalam mobil.

4. Kita dapat pula membawa barang-barang kita selama muat dimasukkan ke dalam mobil dari tempat penjemputan hingga ke tujuan.

5. Bisa digunakan kapan saja selama 24 jam asal mobil tersedia.

6. Selama berada di mobil, mobilnya pastinya ber-AC, punya radio dan tidak sharing dengan pihak ketiga yang tentunya tidak kita kenal.

Keadaan di atas juga harus sama dengan keadaan jika kita memiliki mobil sendiri. Oleh karena itu punya supir pribadi adalah keharusan.

Untuk membandingkan biaya memiliki mobil sendiri dengan menggunakan jasa Uber, maka kita perlu melihat biaya-biaya apa saja yang harus dikeluarkan seseorang ketika memiliki mobil sendiri.

Tentu kita mulai dengan biaya tetap. Biaya tetap ketika memiliki mobil antara lain

1. Biaya STNK per tahun

Dengan asumsi memiliki mobil Toyota Avanza sesuai artikel sebelumnya, maka biaya STNK per tahun adalah Rp 3,6 juta.

2. Biaya Depresiasi per tahun

Dengan asumsi yang sama sesuai artikel sebelumnya, biaya depresiasi per tahun adalah Rp 14 juta.

3. Biaya Asuransi per tahun

Jika memiliki mobil pribadi, asuransi bukanlah kewajiban. Namun perlu untuk dimiliki. Dengan asumsi yang sama sesuai artikel sebelumnya maka biaya asuransi per tahun adalah Rp 4,2 juta

4. Biaya Parkir per tahun

Memiliki mobil pribadi tentu akan keluar biaya parkir. Bisa saja parkir di kantor, mal, pasar atau parkir pinggir jalan di mana pun kita berada. Mungkin juga ada biaya parkir di tempat tinggal kita, baik itu di kos, apartemen atau retribusi parkir di perumahan. Dengan rata-rata biaya parkir Rp 200 ribu per bulan, maka biaya parkir untuk satu tahun dapat mencapai Rp 2,6 juta. Nilai yang sebenarnya cukup kecil untuk parkir kendaraan di Jakarta, tapi cukup adil digunakan sebagai perhitungan.

5. Biaya Supir per tahun

Karena di layanan Uber kita memiliki supir untuk mengantar ke mana-mana, tentu perbandingannya harus ada supir yang kita perkerjakan untuk mengantar kita ke mana-mana. Biaya supir per bulan di Jakarta saat ini sudah Rp 2 juta per bulan net. Satu tahun ditambah dengan THR minimal kita menghabiskan biaya Rp 26 juta.

Total biaya tetap per tahun untuk memiliki mobil adalah Rp 50,5 juta.

Selanjutnya adalah biaya variabel dalam memiliki mobil. Biaya variabel tersebut antara lain

1. Biaya Perawatan Berkala

Dengan asumsi yang sama sesuai artikel sebelumnya, biaya perawatan berkala adalah Rp 80 per kilometer

2. Biaya Pergantian Ban

Dengan asumsi yang sama sesuai artikel sebelumnya, biaya pergantian ban adalah Rp 50 per kilometer

3. Biaya Bahan Bakar Minyak (BBM)

Dengan asumsi yang sama sesuai artikel sebelumnya, biaya BBM adalah Rp 725 per kilometer.

Total biaya variable per kilometer untuk memiliki mobil adalah Rp 855.

Lalu bagaimana dengan biaya tol? Biaya tol dikeluarkan dalam perbandingan karena dengan atau tanpa Uber pun tiap kali kita masuk tol kita akan ditagih biaya tol. Jadi keduanya mengenakan biaya tol, sehingga tidak perlu dimasukkan dalam perhitungan biaya.

Sekarang kita bahas mengenai biaya jasa Uber.

Seperti sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, bahwa tarif Uber sesungguhnya di Jakarta untuk UberX, dimana memiliki jenis mobil yang sama dengan perbandingan biaya di atas, yaitu Toyota Avanza, adalah Rp 3.201 per kilometer. Dengan demikian perbedaan per kilometer antara jasa Uber dengan memiliki mobil sendiri adalah Rp 2.346 per kilometer.

Jika angka perbedaan itu dimasukkan ke dalam perhitungan biaya tetap, maka biaya tetap akan sama bila jasa Uber sudah mencapai 21.535 kilometer per tahun atau kira-kira dihitung per harinya dengan asumsi hari pemakaian per bulan 30 hari adalah 60 km.

Artinya jika mau untung memiliki mobil, maka setiap hari pengguna mobil harus menjalankan mobilnya sejauh 30 km bolak-balik. Jarak 30 kilometer itu adalah kira-kira sejauh Tol Bekasi Timur ke Semanggi.

Bagaimana kalau tanpa supir? Pasti lebih sedikit lagi kilometernya, tapi kan tidak apple to apple. Namun baiklah saya akan tambahkan dalam perbandingan ini.

Biaya supir tadi kan kita masukkan ke biaya tetap. Oleh karena itu jika tidak ada supir, maka kita kurangkan biaya supir dalam biaya tetap kita. Tanpa supir, biaya tetap berkurang dari Rp 50,5 juta menjadi Rp 24,5 juta.

Dengan demikian jarak tempuh per tahunnya berubah menjadi 10.450 kilometer. Dengan asumsi 30 hari per bulan, maka per harinya harus menempuh 29 kilometer.

Artinya tiap hari pengguna mobil jika menempuh jarak 14 – 15 km bolak-balik sudah cukup baginya untuk lebih menguntungkan daripada harus naik Uber setiap kali. Jarak 14 – 15 kilometer itu adalah kira-kira sejauh Tol Pondok Gede Barat ke Slipi atau dari kantor RCTI menuju Terminal Lebak Bulus.

Jarak 14 – 15 km bolak-balik setiap hari selama bukanlah hal yang sulit bagi seseorang yang memiliki mobil, apalagi jarak tempuh per tahunnya hanyalah 10.000-an kilometer. Namun bagiamana jika mobil yang dimilikinya bukan Toyota Avanza? Bagaimana jika Toyota Innova yang kelasnya lebih tinggi daripada itu? Loh tapi nanti tidak apple to apple lagi donk? Ya memang, tapi kan bisa jadi bahan pertimbangan.

Jika yang dimiliki adalah Toyota Innova, maka biaya tetap sesuai dengan artikel sebelumnya yaitu Rp 34 juta ditambah biaya parkir Rp 2,6 juta menjadi Rp 36,6 juta.

Biaya variabelnya menjadi Rp 1.300 per km. Perbedaan tarif UberX dengan biaya variabel adalah Rp 1.901 per km. Jumlah kilometer untuk menutup biaya tetap adalah 19.280 km per tahun atau 54 km per hari untuk 30 hari dalam sebulan. Hasilnya hampir sama dengan menggunakan supir pada mobil Toyota Avanza, namun tentu Toyota Innova memiliki fitur dan kenyamanan yang berbeda dengan Toyota Avanza.

Kesimpulannya adalah, jika anda ingin mendapatkan kenyamanan setara dengan layanan Uber dan perjalanan komuter anda dengan mobil di bawah 15 kilometer bolak-balik per hari, maka sebaiknya anda tidak perlu membeli mobil walaupun mobil itu setara Toyota Avanza sekalipun. Anda hanya perlu menggunakan layanan Uber semaksimal mungkin karena biaya menggunakan Uber masih lebih murah daripada memiliki kendaraan sendiri.

Atau yang mudahnya, jika sekarang pemakaian mobil anda kurang dari 10.000 km per tahun, maka sudah tentu anda lebih baik menggunakan Uber untuk keperluan sehari-hari dan segera jual mobil anda karena secara ekonomis lebih baik menggunakan Uber daripada memelihara sebuah mobil untuk digunakan sehari-hari.

Bagi yang punya mobil yang kelasnya lebih tinggi daripada Toyota Avanza, saran saya adalah sering-sering digunakan mobilnya untuk jalan-jalan daripada disimpan saja di rumah. Biasanya untuk mobil yang kelasnya di atas Toyota Avanza jarang digunakan sehari-hari karena lebih boros BBM. Digunakan hanya untuk acara-acara khusus satu kali atau dua kali dalam sebulan.

Jika memang demikian, maka sebaiknya anda perlu memiliki mobil sekelas Toyota Avanza untuk keperluan sehari-hari, dan pada acara khusus satu atau dua kali dalam sebulan tersebut gunakanlah layanan UberBlack. Paling tidak anda bisa gunakan UberBlack pada saat pergi ke suatu acara biar bisa dilihat oleh orang banyak anda bawa mobil apa, dan ketika balik dari acara tersebut, pesanlah UberX karena tidak ada lagi orang yang melihat anda naik apa ketika pulang.

Nah sekarang masih perlu punya mobil atau tidak?

Posted in: Kebijakan Transportasi | Tags: ,

6 Responses

  1. Saya sudah tiga bulan lebih selalu menggunakan Uber kemana saja, jauh maupun dekat. Pengeluaran transport rata-rata per bulan sekitar 1 – 1,5 rupiah. Uber sangat hemat dan tidak membuat saya capek menyetir. Akhirnya kemarin saya resmi menjual mobil pribadi saya. Semoga Uber tetap berjaya di Jakarta dan menambah armadanya.

    1. itu pengeluarannya 1-1,5 juta ya? wah kalo gitu mah bersaing donk dengan pengeluaran bulanan kalo punya mobil. Ongkos BBM, tol dan parkir aja bisa mendekati itu.

      1. Untuk orang seperti saya, Uber lebih hemat. Saya tinggal di tengah kota. Sehingga rute perjalanan saya per hari tidak jauh-jauh. Untuk perjalanan jauh Jabodetabek, kami sekeluarga pakai kombinasi Uber+KRL. Iseng-iseng saya menghitung, kami sudah 100 kali beruber, total +/- 1100 km, 60 jam, ongkos 3,5 juta. Hidup rasanya lebih mewah tanpa punya mobil pribadi.

  2. Saya berniat untuk menjadi driver uber dengan biaya cicilan mobil (Agya type G Manual) 4,5jt selama 2 tahun, kira2 untuk 2-3 tahun kedepan apakah masih menguntungkan untuk saya menjalani bisnis ini?

    1. berdasarkan artikel http://www.plibaknikmatstrelak.com/2016/01/untung-gak-sih-jadi-supir-uber-taksi/ kalo ada cicilan berarti kerjanya jadi lebih lama per harinya. Bisa sampai 18 jam sehari. Dan kilometer mobilnya setahun bisa tembus 60ribu kilometer. Dua atau tiga tahun ke depan artinya lebih dari 150ribu kilometer. Agak susah jual mobilnya kalo kilometernya dah setinggi itu pada harga pasar normal. Paling didiskon cukup besar. Nah hitung aja apakah dengan mendiskon harga jual mobil pada tahun ketiga masih untung atau tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Levidio Invitation