Nostalgia Angkutan Umum Jaman Dulu Bagian 3

Jan 14, 2018 | | Say something

Di bagian tiga ini saya akan menceritakan nostalgia naik angkutan umum sewaktu duduk di Sekolah Menengah Atas. Bagian pertama dapat dibaca di sini. Sedangkan bagian kedua dapat dibaca di sini.

Saat di sekolah menengah atas, kebetulan saya dan abang saya bersekolah di tempat yang sama. Sehingga berangkat pun kami bareng. Hebatnya lagi sekolahan saya itu letaknya masih di satu komplek perumahan dengan tempat sekolah waktu di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Oleh karena itu angkutan umum yang saya pergunakan pun pada prinsipnya sama.

Apa yang beda kalau begitu?

Yang beda adalah variasinya.

Biasanya saat pagi mau berangkat sekolah, saya dan abang saya naik KWK dari komplek perumahan. Kemudian menjelang masuk ke Kalimalang, kami turun dari KWK dan melanjutkan jalan kaki hingga sampai ke sekolahan.

Kenapa jalan kaki? Karena itu sangat menghemat waktu. Dengan jalan kaki kami hanya berjarak 15 menit dari sekolahan. Namun ketika mengikuti angkutan umum, kemacetan sudah mulai tampak bahkan dari beberapa ratus meter menjelang masuk ke Jalan Raya Kalimalang, sehingga tidak jelas waktu sampai ke sekolahan.

Tempat sekolah saya waktu di sekolah menengah atas lebih dekat ke Jalan Raya Kalimalang daripada saat masih di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Jaraknya kalau jalan kaki bisa sampai 8 menitan. Namun kondisi kemacetan waktu di sekolah menengah atas jauh lebih hebat daripada saat masih sekolah dasar atau sekolah menengah pertama.

Waktu keberangkatan saya dari rumah saat sekolah menengah atas pun sekitar pukul 6.30. KWK di komplek perumahan pada jam segitu cukup banyak. Kami dapat menemui paling tidak dua KWK dalam jarak berdekatan pada jam tersebut.

Perjalanan menuju Curug, Kalimalang membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Namun karena macet di beberapa ratus meter menjelang Curug, maka saya dan abang saya memutuskan untuk jalan kaki ke sekolah dari tempat tersebut.

Kami biasanya sampai sekolah antara pukul 6.55 hingga pukul 7.05. Yah kadangkala telat, tapi kebanyakan tidak telat. Jika telat pun hanya beberapa menit dan masih diperbolehkan untuk masuk pintu gerbang sekolah oleh satpam sekolah.

Kalau telatnya lebih dari 7.30, baru kami tidak diperbolehkan masuk oleh satpam sekolah dan terpaksa kembali ke rumah hari itu. Namun hal itu tidak pernah terjadi.

Jika abang saya tidak bersama saya hari itu, maka saya akan berangkat lebih pagi. Biasanya saya berangkat pukul 6 hingga pukul 6.15. Kenapa kalau bersama abang saya berangkatnya lebih lambat? Karena memang abang saya demennya mefet-mefet berangkatnya….hehehe.

Kebanyakan saya yang menunggunya daripada dia yang menunggu saya.

Kenapa harus bersama-sama? Karena saat berjalan selama 15 menit menuju sekolah, jalur yang kami lalui adalah jalur sawah yang kebanyakan jalan tanah dan sepi dari lalu lintas orang. Jalan berdua jauh lebih aman daripada hanya berjalan sendiri. Oleh karena itu kami senantiasa berdua bila berjalan melalui jalan pintas ke sekolah.

Kalau pulangnya bagaimana?

Sekolahan kami saat duduk di sekolah menengah atas memberlakukan jam belajar yang berbeda daripada sekolah biasa. Jika sekolah lain sudah bisa pulang menjelang waktu Zuhur, sekolah kami pulangnya menjelang waktu Ashar. Ada tambahan jam belajar 3 jam setiap harinya.

Apakah ada kompensasinya? Iya ada! Sabtu kami libur! Mirip seperti orang kerja kantoran yang waktu itu sudah mulai menerapkan hari Sabtu sebagai hari libur.

Pulang pada pukul setengah empat sore membuat kami pulang bukan pada jam sibuk. Ketika pulang, saya dan abang saya kadang barengan kadang tidak. Tergantung jam pulang kelas masing-masing. Lagipula teman abang saya dan saya pun berbeda. Jadi pulangnya tidak selalu bareng.

Saat pulang alternatifnya hanya satu, yaitu jalan kaki dari sekolah ke Jalan Raya Kalimalang. Kemudian naik Metromini T54 hingga ke Curug, Kalimalang. Memang bisa juga naik Mikrolet, tapi tarif Metromini yang hanya Rp 100 per trip membuatnya jauh lebih menarik daripada naik Mikrolet.

Karena bukan jam sibuk, Metromini di jam-jam segitu potensi untuk dapat tempat duduknya besar sekali. Andaikata tidak dapat pun, saat berdiri masih terasa begitu lega. Tidak dempet-dempetan seperti naik KRL sekarang ini saat jam sibuk.

Yang jadi masalah adalah saat dari Curug, Kalimalang menuju komplek perumahan. Kenapa masalah? Karena bukan jam sibuk.

Waktu ngetem KWK jadi lebih panjang daripada biasanya. Biasanya 10-15 menit sudah jalan, kali ini bisa sampai 30 menit pun belum jalan. Sehingga saya jadi lebih sering menggunakan ojek untuk sampai ke rumah jika melihat naik KWK waktu tunggunya lama.

Saat itu jika naik KWK tarifnya Rp 200, sedangkan kalau naik ojek tarifnya Rp 500. Ada perbedaan yang cukup signifikan. Namun karena saya lebih sering membawa makanan sendiri ke sekolah, karena pulangnya lebih sore, sehingga uang jajan praktis tidak terlalu banyak kepakai setiap harinya, naik ojek pun masih mencukupi budget uang jajan mingguan dari orang tua.

Lagipula di pagi harinya, saya pun masih bisa berhemat Rp 100 (jika naik Metromini) hingga Rp 200 (jika naik Mikrolet) karena berjalan kaki dari beberapa ratus meter menjelang Curug.

Yang menjadi alasan lainnya adalah waktu belajar yang lebih lama daripada biasanya membuat badan lebih letih rasanya. Hal itu memberikan motivasi lebih untuk sampai rumah lebih cepat lagi. Saya tidak naik ojek bila melihat bahwa KWK sudah hampir penuh atau sedang mau berangkat saat itu. Atau saya lagi tidak ada uang karena uangnya sudah habis atau dihemat untuk rencana yang telah saya buat sebelumnya.

Praktis, angkutan umum yang saya naiki sejak jaman sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas adalah sama. Hal itu terjadi karena rutenya sama. Yang berbeda hanya variasinya. Jadi saya tidak mengenal angkutan lain di masa itu selain KWK, Mikrolet M26, Mikrolet M19, Metromini T54 dan ojek yang masuk ke komplek perumahan saya.

Sekali atau dua kali sebulan memang suka ada ekstra kulikuler di tempat lain, seperti berenang di Galaxy, Bekasi atau berkunjung ke rumah teman di daerah Pondok Kelapa dan sekitarnya. Tapi jenis angkutan umum yang dipakai tetap sama.

Ketika masuk kuliah, saya pun merasakan angkutan umum lainnya. Ada satu bentuk angkutan umum yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Apakah itu? Nantikan di bagian keempat tulisan ini.

Posted in: Layanan Publik | Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *