Masih Mau Jauh dari Riba? Part 1

Apr 16, 2018 | | Say something

Sudah semakin terang-benderang kalau hampir seluruh kegiatan kita di jaman now berkaitan dengan riba.

Yang sudah jelas riba adalah tabungan kita yang ada di bank. Walaupun memang diakui ada alternatif menabung di bank syariah, namun kalau diteliti lebih dalam, bank syariah yang ada saat ini belum murni bebas riba, walaupun sudah jauh lebih baik daripada yang konvensional.

Yang saya ingin tulis di sini adalah, dengan saya dan anda jauh dari riba, saya rasakan biaya hidup meningkat dan hidup semakin susah.

Kok bisa?

Mari saya beri contoh produk perbankan yang sama-sama kita tahu. Namanya kartu kredit!

Kartu kredit adalah salah satu produk riba. Yang menyebabkan riba bukan hanya bunganya kalau telat bayar (sehingga banyak yang bilang kalau tidak telat ya tidak riba), tapi juga akadnya yang mensyaratkan adanya denda dan bunga.

Siapa yang bisa membantah bahwa dengan kartu kredit kita banyak berhemat?

Promo diskon produk dan jasa bertebaran di mana-mana.

Ada program cicilan 0% hingga 36 bulan.

Iuran tahunan? Tinggal telepon customer service minta waived, minggu depan sudah ter-waived tuh biayanya.

Ada sistem poin atau cashback atau apa lah namanya untuk pengguna yang sering gesek. Makin sering gesek, makin tinggi poin, bisa dipakai untuk berhemat di kemudian hari.

Ada privilege ke tempat-tempat tertentu, misalnya lounge bandara. Tanpa kartu kredit, tidak mungkin bisa masuk tanpa bayar.

Bayar online lebih mudah. Mau toko online dalam negeri. Mau luar negeri. Semua terima pembayarannya.

Kelemahannya cuma satu, yaitu jangan sekali-kali bayar telat. Jika telat, silakan dinikmati bunga yang sangat besar hingga 40% per tahun. Kalau tidak pakai telat, ya kartu kredit ini benar-benar membuat hidup lebih hemat.

Berikutnya adalah tabungan.

Ada bunga. Bentuknya ada yang biasa, ada yang lebih besar (deposito), ada juga yang jauh lebih besar (investasi).

Uang banyak tidak bingung, karena uang bisa diternakkan.

Mudah bertransaksi, sehingga tidak perlu ke kantor pos untuk kirim uang. Malah tidak perlu ke ATM untuk sekedar transfer atau bayar-bayar. Hanya lewat sms dan internet, semua transaksi kita lancar.

Malah seringkali ada tabungan yang kasih gratis transaksi-transaksi tertentu, misalnya transfer antar bank. Sehingga lebih banyak lagi uang yang bisa dihemat.

Tabungan sangat cocok untuk orang-orang yang sudah pensiun. Sewaktu masih aktif bekerja, mereka aktif mencari uang. Setelah pensiun dan dapat pesangon besar, uangnya yang bekerja untuk mereka.

Simpan di deposito, obligasi, sukuk dan kawan-kawannya, uang bulanan bisa diperoleh tanpa mengurangi uang pokok.

Ada promo diskon di hari-hari khusus, misalnya pada hari ulang tahun bank.

Ada undian berhadiahnya pula.

Enak banget kan? Sudah hemat, mudah pula.

Mari saya kasih perbandingan dengan yang menjauhi riba.

Kartu kredit?

Belum jauh dari riba namanya kalau kartu kreditnya belum digunting.

Efeknya apa kalau kartu kreditnya digunting?

Mau transaksi, uangnya harus ada dulu. Kalau pakai kartu kredit, uang di tabungan atau dompet tidak perlu ada dulu, selama pas jatuh tempo uang tersebut harus tersedia untuk membayar tepat waktu.

Mau beli online, kartu kredit paling awal diterima di toko-toko online besar. Malah di Google Play, kalau beli pakai kartu kredit, bayarnya lebih murah minimal 12%.

Angka darimana tuh? Angka dari perbandingan kalau bayar dengan pulsa.

Beli online di luar negeri, kartu kredit hampir diterima di semua tempat. Beli buku pelajaran sertifikasi profesi di luar negeri, mudah sekali menggunakan kartu kredit. Kartu debit tidak diterima sama sekali.

Oleh karena itu, kalau mau beli barang dari luar negeri bagi yang tidak punya kartu kredit, harus lewat perantara pihak ketiga.

Ada sih yang namanya paypal, dan bisa dikoneksikan ke kartu debit. Tapi sayangnya kartu debitnya belum ada yang dari bank syariah (paling tidak yang saya ketahui sampai saat ini). Masa harus pakai kartu debit bank konvensional? Riba juga namanya!

Belanja di mal tanpa kartu kredit? Siap-siap saja bayar penuh. Hampir semua mal bekerja sama dengan kartu kredit.

Sepatu seharga Rp 500.000 dapat ditebus dengan hanya membayar Rp 300.000 kalau pakai kartu kredit.

Kalau bayar cash, ya tetap Rp 500.000.

Makan di restaurant seharga Rp 300.000 berdua bisa dibayar hanya Rp 150.000 karena ada program buy 1 get 1 free.

Bayar cash, ya tetap Rp 300.000.

Tabungan?

Tidak dipungkiri ada dua bank wajib yang perlu dipunyai oleh setiap orang yang hidup di negara Republik Indonesia. Bank tersebut adalah bank yang terdiri dari 3 huruf pertama dan bank yang tidak mau bergantung kepada orang lain.

Punya tabungan di salah satu, atau kedua bank tersebut, sudah mencakup lebih dari 95% transaksi online maupun transaksi pakai mesin EDC di outlet offline.

ATM kedua bank tersebut ada di mana-mana. Di setiap mal pasti ada. Di gang sebelah kemungkinan besar ada. Eh di depan toko Pak Amin pun ada. Mudah sekali. Tidak repot harus jauh-jauh untuk mengambil uang atau bertransaksi online.

Kalau tidak ada tabungan atau minimal tabungannya di bank syariah bagaimana?

ATM-nya, cari di mana?

Setiap kali transfer untuk transaksi online, pasti kena biaya transfer antar bank. Jelas tidak hemat.

Malah bagi yang jualan online, kalau tabungan kita bukan dua bank di atas, siap-siap calon customer minta diskon biaya transfer atau transaksi tidak jadi sama sekali.

Uang beternak? Tidak boleh, itu kan riba.

Tapi kan inflasi tetap ada.

Itulah kenapa saya bilang dari awal bahwa kalau menjauhi riba, siap-siap biaya meningkat. Salah satunya kena biaya yang namanya inflasi.

Satu lagi yang tidak boleh terlewat…

Layanan perbankannya.

Yang dua bank besar di atas, layanannya lengkap.

Ada internet banking. Cabangnya banyak. ATM-nya di mana-mana. Customer servicenya ramah dan memudahkan.

Kalau yang bank syariah?

Internet banking kemungkinan ada, karena sekarang sudah standar sepertinya.

Cabang dan ATM-nya tidak banyak di kota-kota besar sekalipun. Apalagi di kota kabupaten yang kecil.

Customer servicenya kadangkala suka tidak mengerti keinginan customernya atau terlalu kaku dan tidak memberikan solusi.

Apalagi kalau dibahas masalah KPR, KPM, Go-Pay, E-Money, dan kawan-kawannya, kelihatan banget kalau semakin jauh dari hal-hal tersebut, biaya hidup semakin meningkat dan hidup rasanya malah jadi jauh dari mudah.

Lalu apa akibatnya jauh dari riba?

Pertama, itu artinya melawan arus.

Saat orang ingin hidup lebih mudah, eh yang jauh dari riba malah memilih hidup lebih susah.

Kedua, itu artinya melawan sistem.

Sistem riba sudah ada di seluruh sendi kehidupan. Jauh darinya, yah berarti melawan sistem.

Ketiga, itu artinya melawan gaya hidup.

Gaya hidup masyarakat saat ini yang sangat dinamis, penuh inovasi dan apa-apa online. Dengan meninggalkan itu semua apakah mau kembali ke gaya hidup jaman old?

Semua keuntungan tidak kita manfaatkan karena takut terkena riba.

Semua fasilitas kita tidak lirik karena ngeri bahaya riba.

Seberapa lama saya dan anda akan bertahan bila akibatnya seperti itu?

Posted in: Perjalanan Hidup | Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *