Perjalanan Umroh, Ngapain Aja Sih? Bagian 2

Jan 20, 2019 | | Say something

Ngapain Saja Saat Perjalanan Umroh?

 

Saya sudah dua kali melakukan perjalanan umroh dalam 11 bulan terakhir. Yang saya rasakan adalah itinerary umroh untuk dua perjalanan tersebut relatif sama. Sehingga yang saya bagikan di sini adalah pengalaman umroh saya untuk dua perjalanan tersebut.

Perjalanan umroh saya selalu dimulai dari Madinah dan berakhir di Mekkah. Sehingga ketika berumroh saya tidak pernah ganti pakaian ihram di pesawat. Kenapa harus ganti pakaian ihram di pesawat? Kenapa saya tidak? Silakan anda googling sendiri mengenai kabar tersebut karena ada perbedaan pendapat antara beberapa ulama mengenai hal tersebut.

 

Hari pertama: Hari Keberangkatan

Untuk yang penerbangannya mendarat di Jeddah, biasanya travel akan memberangkatkan jamaah dari bandara Soekarno-Hatta mulai pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang. Kenapa di jam-jam ini? Karena target mereka adalah sampai di Jeddah sekitar Maghrib atau permulaan Isya waktu setempat.

Perjalanan pesawat akan memakan waktu 10 jam untuk yang direct flight atau penerbangan langsung dan 13 jam untuk yang transit. Langsung atau transit adalah kebijakan dari masing-masing travel. Sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu mengenai hal ini sebelum membayar, pakai airline apa, apakah langsung atau transit dan lain sebagainya.

Khusus penerbangan langsung mendarat di Madinah biaya yang ditawarkan travel biasanya lebih mahal. Untuk yang mendapatkan fasilitas bintang 5, biasanya penerbangan langsung ke Madinah. Namun saya akan bercerita pengalaman saya yang mendarat di Jeddah, karena dua perjalanan umroh saya mendaratnya di Jeddah.

Dengan pesawat berangkat mulai pukul 9 pagi hingga pukul 12 siang, maka peserta umroh diharapkan sudah berada di titik berkumpul sejak setelah waktu subuh. Waktu yang sering diambil adalah pukul 6 pagi. Ada yang berkumpul di hotel sekitar bandara, ada yang langsung berkumpul di terminal keberangkatan di bandara. Itu tergantung kebijakan masing-masing travel.

Saat datang ke tempat berkumpul, dari pihak travel langsung mengumpulkan bagasi yang anda bawa untuk mereka urus. Jangan kuatir masalah bagasi, karena semuanya akan diurus travel sampai anda pulang lagi ke tanah air.

Beberapa saat sebelum check in, pihak travel akan membagikan paspor anda dengan boarding pass keberangkatan dan sebuah receiver audio untuk kepentingan umroh di Mekkah nanti. Khusus untuk receiver audio harus disimpan baik-baik oleh peserta karena biasanya menjadi alat tukar untuk mendapatkan air zam-zam 5 liter saat kepulangan. Receiver ditukar dengan air zam-zam. Receiver hilang, air zam-zam tidak dapat.

Bagi yang ingin membeli paket umroh dari operator telekomunikasi Indonesia, saat sebelum berangkat seperti inilah saat terbaik untuk mengaktifkan paket umroh. Jangan lupa aktifkan internasional roaming di smartphone anda dan juga konfirmasi ke operator apakah kartu anda sudah aktif internasional roamingnya beberapa hari sebelumnya.

Setelah itu anda akan diantar oleh seorang pemimpin perjalanan, biasanya disebut Muthawif, yang akan bertanggung jawab untuk perjalanan umroh anda. Jangan ragu bertanya seputar perjalanan umroh kepadanya. Biasanya jika ada masalah dalam perjalanan umroh kita, baik dari sisi pelayanan, makanan atau bahkan bantuan tambahan selama di tanah suci, Muthawif inilah yang akan menyelesaikan permasalahan kita.

Untuk bisa masuk ke tempat tunggu keberangkatan internasional, anda harus melewati imigrasi bandara terlebih dahulu. Di imigrasi hanya perlu mempersiapkan paspor dan boarding pass yang barusan diberikan oleh travel. Lamanya urusan imigrasi tergantung antrian yang ada. Khusus bagi pemegang e-paspor ada antrian khusus otomatis tanpa petugas. Tinggal scan paspor dan anda bisa melewati imigrasi dengan mudah.

Setelah melewati imigrasi, maka tinggal masuk gate yang sesuai dan menunggu panggilan di ruang tunggu yang disediakan.

Jangan lupa, untuk yang membawa barang dalam kabin, jangan pernah membawa air atau cairan dengan isi hingga 100 ml. Jika saat pemeriksaan barang bawaan oleh petugas bandara ditemukan air minum botol, biasanya petugas tersebut langsung menyuruh anda untuk menghabiskan minumannya. Namun bila yang ditemukan adalah hal lain, misalnya sabun cair, lotion atau mungkin madu yang isinya lebih dari 100 ml, maka petugas akan menahan barang tersebut dan tidak bisa anda bawa pergi.

Untuk barang yang ada di dalam bagasi jangan sampai membawa powerbank, apalagi yang kapasitasnya besar. Pasti dibongkar saat handling bagasi dan anda pasti dipanggil oleh pihak travel untuk membuka koper anda dan mengeluarkan powerbank dari bagasi anda.

Jadi untuk amannya, barang-barang yang isinya cairan, masukkan ke dalam bagasi. Powerbank masukkan ke dalam kabin.

Begitu mendapatkan panggilan untuk boarding, maka langsung masuk ke pesawat dengan menunjukkan kembali boarding pass dan paspor. Biasanya kalau udah lewat imigrasi, lewat yang ini tak terlalu ketat.

Di pesawat tinggal cari kursi yang sesuai di boarding pass dan tinggal nikmati pejalanan 10 – 13 jam, tergantung apakah langsung atau ada transit terlebih dahulu.

Untuk yang pesawatnya full board airline, maka selain mendapatkan makanan minimal dua kali, juga dapat menyaksikan acara video on demand, dimana ada film-film hollywood yang gak baru-baru amat tapi masih tergolong baru. Lumayan untuk menghilangkan bosan duduk 10 jam di pesawat.

Untuk yang naik airline hemat atau low cost, rasanya masih dapat makan tapi yang pasti gak dapat hiburan di dalam pesawatnya. Silakan siapkan buku bacaan yang cukup tebal, atau sekalian baca Al-Quran sepanjang perjalanan. Lumayan bisa dapat 5-10 juz di dalam perjalanan 10 jam itu. Kok cuma sampai 10 juz? Ya kan ada tidur dan makan, jadi gak full baca terus.

Sepanjang perjalanan menuju Jeddah anda akan melihat bahwa langit gak gelap-gelap. Bawaannya terang terus. Apalagi kalau berangkat sebelum pukul 12 siang. Sampai mendarat di Jeddah pun kemungkinan langit masih terang, padahal anda sudah berjalan 10 jam lebih.

Kok bisa? Itu karena ada perbedaan 4 jam antara Jakarta dengan Jeddah. Jakarta lebih cepat 4 jam daripada Jeddah. Dengan perjalanan 10 jam sebenarnya anda baru berjalan selama 6 jam menurut waktu Jeddah. Oleh karena itu bila berangkatnya di bawah pukul 12 siang, maka anda akan sampai sebelum pukul 6 sore dimana langit masih terang saat itu karena baru menjelang Maghrib.

Ujian kesabaran pun dimulai setelah mendarat di Jeddah. Pertama, untuk jamaah umroh, turun pesawatnya dibedakan dengan penumpang biasa. Penumpang biasa dipersilahkan untuk turun dahulu. Sudah ada bus besar yang menunggu saat turun dari pesawat untuk membawa anda ke kedatangan terminal haji dan umroh di bandara King Abdul Aziz.

Terminal haji dan umroh ini berbeda dengan terminal internasional King Abdul Aziz yang biasa. Bangunannya model lama, fasilitasnya seperti bandara-bandara daerah di pedalaman Indonesia, padahal bandara internasional.

Kesabaran pertama dimulai dari melewati petugas imigrasi. Tidak semua loket ada petugasnya. Biasanya hanya tersedia kurang dari separo petugas saat melewati imigrasi. Sehingga antrian pun mengular semakin panjang.

Tidak semua petugas imigrasi mampu berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Semua komunikasi kebanyakan disampaikan lewat isyarat atau kode kepada para penumpang. Untuk kunjungan pertama ke Saudi Arabia setiap penumpang diambil gambarnya lewat sebuah kamera yang terpampang di samping petugas. Untuk yang sudah kedua kali atau lebih, pengambilan kamera tidak lagi dilakukan.

Antrian untuk melewati petugas imigrasi adalah sekitar 1 jam untuk seluruh jamaah yang ikut dalam rombongan. Ada yang cepat, namun ada juga yang lambat. Kecepatan melayani jamaah dari masing-masing petugas juga berbeda.

Setelah melewati imigrasi, ujian selanjutnya sudah menunggu. Di bandara Internasional yang penumpangnya sekali datang ada ratusan atau bahkan ribuan jika ada beberapa pesawat sekaligus mendarat di waktu yang hampir bersamaan, jumlah toiletnya kurang dari lima, baik untuk pria maupun wanita.

Antrian untuk buang air kecil ataupun besar pun mengular tanpa henti. Jadi pastikan sebelum mendarat di bandara, anda sudah buang air kecil di pesawat. Kalau buang air besar, ya silakan antri cukup panjang. Ini berlaku untuk pria dan wanita ya.

Setelah melewati dua ujian besar tersebut mulailah ada titik terang. Koper sudah terkumpul. Perwakilan travel yang di Saudi Arabia sudah melayani anda dan dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka sudah langsung menunjukkan letak parkir bus yang akan membawa anda ke Madinah. Biasanya di saat inilah anda akan bertemu dengan pembimbing ibadah umroh anda yang bermukim langsung di Saudi Arabia namun lancar berbahasa Indonesia maupun arab. Pembimbing ini biasanya orang Indonesia asli yang sudah lama bermukim di Saudi Arabia.

Namun jangan senang dulu karena untuk dapat ditunjukkan letak parkir bus, semua jamaah sudah harus melewati semua ujian yang sebutkan di atas. Ada satu saja yang tertinggal, maka semua jamaah harus menunggu di terminal sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Sampai di parkiran bus anda akan takjub melihat jenis busnya. Bentuknya besar sekali, beda dengan bus AKAP yang ada di Indonesia. Semua penumpang berada di bagian atas bus, sedangkan semua bagasi berada di bagian bawah. Mirip seperti bus tingkat, tapi bagian bawahnya tidak terlalu tinggi. Jika dianalogikan dengan bus-bus yang ada di tanah air, bus semacam ini tergolong bus super executive.

Namun kondisi bus belum tentu prima. Kerusakan sana-sini biasanya masih ada. Apalagi bagi anda yang memilih perjalanan dengan fasilitas hotel bintang 3 atau bintang 4. Biasanya kalau buat yang fasilitas bintang 5 andaikata dari Jeddah, busnya tetap mendapatkan yang terbaik dan ternyaman. Nyaman adalah kuncinya untuk bus yang berangkat langsung dari bandara King Abdul Aziz.

Saat mau berangkat menuju Madinah yang jarak tempuhnya sekitar 5 – 6 jam, pembimbing yang anda temui saat menuju parkiran bus akan memberikan pilihan kepada anda. Apakah anda akan mampir dahulu di tengah jalan di sebuah masjid besar untuk shalat Maghrib dan Isya secara Jamak, atau anda sendiri melakukan shalat Jamak di mushala bandara atau di atas bus.

Saat perjalanan umroh pertama saya, jamaah lebih memilih untuk mampir dahulu ke masjid besar untuk shalat. Di perjalanan umroh kedua saya, jamaah lebih memilih untuk shalat di mushala bandara atau di atas bus. Pilihan tergantung keinginan jamaah saat itu.

Perjalanan pun dimulai. Untuk yang tidak mampir ke masjid besar, maka perjalanan akan membutuhkan waktu 5 jam. Untuk yang mampir, mungkin membutuhkan waktu hampir 6 jam.

Pukul 1 – 2 pagi biasanya sudah sampai di hotel yang jaraknya sangat dekat dengan Masjid Nabawi, tergantung hotel yang dipilih. Menara Masjid Nabawi sudah terlihat kira-kira 10 menit sebelum sampai di hotel karena saking tingginya Menara tersebut. Ada cahaya hijau di menaranya. Rupanya cahaya hijau di sebuah menara menandakan bahwa menara tersebut adalah menara sebuah masjid.

Waktu check in hotel biasanya membutuhkan waktu 1 jam hingga semua benar-benar bisa masuk. Biasanya waktu check in cukup cepat karena di jam tersebut tamu hotel lain banyak yang masih tertidur dan liftnya tidak terpakai secara penuh.

Jamaah biasanya dianjurkan untuk bersiap-siap ke Masjid Nabawi di pukul 3 atau pukul 4 pagi atau sesuai kesepakatan. Yang pasti sebelum waktu Subuh supaya pembimbing umroh dapat memberitahukan jalan masuk ke masjid dan memberikan Informasi penting seputar area Masjid Nabawi bagi yang pertama kali datang ke masjid tersebut.

bersambung ke bagian ketiga…

Posted in: Perjalanan Hidup | Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *