CERITA BANJIR JAKARTA

31 Desember 2019 malam.

Saya baru saja pulang kantor karena hari itu secara mengejutkan tidak ada dispensasi sama sekali dari kantor. Semua orang pulang normal, bahkan beberapa pulang agak telat karena masih ada kerjaan yang harus dikerjakannya menjelang tahun baru.

“Tanggung!”, kata teman kantor saya ketika saya ajak pulang ketika sudah menjelang waktu Maghrib.

Sesampainya saya di rumah, seluruh keluarga sudah berkumpul. Makanan sudah disiapkan oleh istri dan ibu mertua saya. Kami hanya tinggal perlu menyantapnya sambil menikmati film bioskop televisi di malam tahun baru.

Kami memang tidak ke mana-mana saat malam tahun baru. Apalagi malam itu hujan cukup lebat.

“Kira-kira yang ikutan acara tahun baru di monas bubar apa gak ya?”, demikian pikir saya sekilas dan kembali fokus ke film bioskop yang ada di televisi.

Pukul 10 malam seluruh acara televisi isinya menyambut tahun baru. Saya pun mulai siap-siap tidur. Hujan turun dengan beberapa kali dalam intensitas tinggi.

“Enak ya malam-malam hujan, jadinya kan dingin dan gak terlalu butuh AC di kamar”, pikir saya.

1 Januari 2020 dini hari.

Pukul 12 malam lewat sedikit mulai terdengar bunyi petasan dari luar. Petasan kali ini agak kurang menggelegar terdengar karena bersamaan dengan bunyi hujan intensitas sedang.

Biasanya bunyi petasan bertahan 30 menit saat tahun baru, namun saat itu belum sampai 15 menit sudah tidak lagi terdengar bunyi petasan.

Hujan pun semakin deras dan membuat saya tidur semakin nyenyak.

Hujan yang terus menerus sejak saya pulang dari kantor mulai membuahkan hasil. Kali kecil yang ada di sebelah komplek kami airnya semakin meninggi.

Satpam komplek kami pun sigap dengan kenaikan air di kali sebelah komplek. Beberapa dari mereka langsung mendatangi rumah ketua RW melaporkan kenaikan air di kali yang hampir luber ke jalan.

Saat itu pukul 3 pagi. Saat di mana orang-orang yang pulang dari acara tahun baru telah sampai rumah dan baru saja terlelap dan orang yang seperti saya masih dalam tidur lelap yang semakin dalam.

Pak RW pun langsung terbangun mendengar gedoran dari beberapa satpam yang melaporkan ketinggian air di kali. Begitu menerima laporan, Pak RW langsung mengecek ketinggian air di hulu sungai lewat internet untuk memastikan apakah kenaikan air tersebut karena limpahan dari hulu atau murni karena hujan.

Setelah memastikan bahwa ada tren kenaikan air kali di sisi hulu dalam 10 jam terakhir, maka Pak RW langsung berkoordinasi dengan beberapa ketua RT di komplek untuk segera memberitahukan warga bahwa akan ada air yang akan masuk ke komplek kami.

Dari  enam ketua RT yang dihubungi, hanya satu yang masih belum merespon. Pak RW pun menginstruksikan satpam komplek untuk terus melaporkan ketinggian air kali tiap 15 menit sekali. Tidak lupa dia juga laporkan keadaan ini kepada Bu Lurah kami untuk mengkoordinasikan bantuan darurat bila diperlukan.

Azan Subuh pun mengumandang. Beberapa warga mulai datang ke masjid walaupun tidak sebanyak biasanya karena sedang hujan dan baru saja malam tahun baru. Pak RW pun ikutan shalat subuh di masjid.

Selesai shalat subuh Pak RW meminta ijin untuk berbicara kepada para jamaah agar bersiap-siap menghadapi banjir dan segera menyelamatkan harta bendanya ke tempat yang lebih aman.

Benar saja, tak lama setelah Pak RW menyampaikan pengumumannya, air kali mulai luber masuk ke dalam komplek. Pak RW langsung menyarankan jamaah yang ada di masjid untuk segera memindahkan kendaraannya ke tempat yang lebih tinggi karena kemungkinan besar air akan cukup tinggi hari itu.

Tidak berhenti sampai situ, Pak RW langsung berkoordinasi dengan beberapa ketua RT dan satpam komplek untuk memberikan informasi door-to-door kepada warga untuk segera mengamankan kendaraannya dan bersiap-siap akan terjadinya banjir di komplek kami.

Ada warga yang menanggapi secara serius himbauan ini, ada juga yang menganggap himbauan ini terlalu dini karena air yang masuk komplek pun ketinggiannya bahkan belum sampai mata kaki orang dewasa.

Mulai pukul 5 pagi satu per satu warga mulai memindahkan mobil dan motornya ke tempat yang lebih aman. Ada yang memindahkannya ke tempat kenalan, ada juga yang memindahkannya ke jalan raya di tempat yang lebih tinggi.

Ada juga warga yang tidak berbuat apa-apa dengan berbagai alasan. Ada yang santai dan yakin air tidak akan meninggi dan juga ada yang tidak dapat dikontak karena masih tertidur lelap karena ikut acara tahun baru sampai dini hari.

Pukul 7 pagi air di komplek semakin meninggi. Lebih banyak warga yang memindahkan mobilnya ke tempat yang lebih aman.

Pukul 8 pagi air mulai setinggi betis dan sampai pukul 11 pagi ketinggian air tidak berubah sama sekali, tetap setinggi betis.

Hujan sudah mulai reda. Beberapa warga masih ada yang baru memindahkan mobilnya walaupun air sudah lebih tinggi daripada sebelumnya.

Mobil sekelas Avanza masih bisa menembus banjir setinggi betis. Namun kalau lebih tinggi dari itu maka sudah tidak mungkin lagi dilalui oleh mobil sekelas Avanza.

Sayangnya masjid di komplek kami mulai kemasukan air dan shalat berjamaah di hari itu mulai terganggu sejak waktu zuhur.

Jalanan komplek setinggi betis dan masjid yang tidak mengadakan shalat berjamaah membuat warga praktis hanya berada di rumah dan menunggu air surut.

Pak RW pun menginstruksikan agar masing-masing ketua RT mendatangi rumah warganya untuk mengetahui kondisi masing-masing warga dan sebagai data untuk mengkoordinasikan bantuan dengan Bu Lurah bila dibutuhkan.

Setiap ketua RT dibantu satu orang satpam komplek mendatangi rumah masing-masing warga. Warga antusias menyambut kunjungan ketua RT dan menceritakan kondisinya secara detail. Ketua RT menawarkan bila ada warga yang membutuhkan bantuan, silakan menghubungi dia kapan saja, nanti akan dikoordinasikan dengan ketua RW dan kelurahan.

Beberapa warga yang tidak sempat memindahkan kendaraannya ke tempat yang aman mulai gelisah. Ada satu warga yang melapor kepada ketua RT mengenai masalahnya tersebut.

Ketua RT pun tanggap dan langsung mengkoordinasikan hal tersebut kepada Pak RW. Pak RW pun langsung berkoordinasi dengan kelurahan dan tanggap darurat tingkat provinsi.

Akhirnya Pak RW berhasil mendapatkan kontak towing mobil untuk membantu mengangkut mobil-mobil warga yang masih terjebak di rumah. Namun sayangnya jasa towing ini tidak gratis, masih ada biaya yang perlu dikeluarkan oleh warga yang menggunakan jasanya, yaitu Rp 500 ribu per mobil. Harga yang lebih murah daripada pasaran, namun karena pasti mendapatkan order yang banyak, maka pihak towing setuju dengan harga yang disepakati.

Pak RW pun mengirimkan informasi kepada para ketua RT dan para ketua RT menyampaikan informasi lewat grup whatsapp kepada warganya untuk segera menghubungi pihak towing bagi yang membutuhkan.

Sejak pukul 2 siang, saat ketinggian air mulai mendekati dengkul, seringkali terdengar bunyi towing yang mengangkut mobil-mobil warga yang masih tertinggal di rumah.

Selepas waktu Ashar anak-anak saya mulai tertarik dengan banjir yang menimpa komplek kami. Mereka berniat ingin membantu agar airnya cepat turun. Saya pun mengatakan ke mereka untuk berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa agar airnya cepat diturunkan sehingga kami bisa dapat beraktivitas seperti semula.

Menjelang Maghrib ketinggian air pun sudah melewati lutut. Truk towing masih terus bolak-balik komplek kami karena banyaknya warga yang membutuhkan jasanya.

Pak RW pun mulai berkoordinasi dengan kelurahan apakah bisa disediakan perahu karet di malam hari agar warga dapat keluar masuk komplek bila ada keperluan mendesak.

Sayangnya kelurahan kami tidak memiliki perahu karet yang standby. Bukan tidak ada budget, tapi karena perahu karet yang ada sedang digunakan di tempat lain yang lebih parah banjirnya.

Akhirnya Pak RW menawarkan beberapa warga menjadi sukarelawan untuk mengoperasikan gerobak sampah yang dapat mengangkut beberapa orang serta barang untuk keluar masuk komplek.

Akhirnya 20 warga dari pemuda bersedia menjadi relawan. Pak RW pun mengkoordinasi mereka terbagi dalam dua shift.

Setiap shift beranggotakan 10 orang dan akan menjadi dua tim yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tugas tim adalah mengantarkan orang yang mau keluar masuk komplek tanpa dikenakan biaya. Bila ada yang mau kasih tip sebagai tanda terima kasih, maka akan menjadi milik para relawan.

Supaya tidak terlalu banyak gerobak yang digunakan dan agar relawan tidak terlalu lelah, maka hanya satu gerobak yang digunakan.

Warga yang membutuhkan dapat meminta gerobak ke rumahnya lewat whatsapp grup dan nanti tim relawan akan datang ke rumahnya.

Setiap relawan dilengkapi senter untuk keamanan. Setiap shift durasinya empat jam dan selain membantu warga yang keluar masuk komplek, juga diharapkan bantuannya untuk memonitor ketinggian air di jalan komplek.

Pukul 11 malam hujan mulai turun lagi. Hujan ini cukup deras dan menaikkan air di dalam komplek secara cepat.

Rumah beberapa warga sudah mulai kemasukan air hingga di dalam rumah. Listrik komplek masih menyala, sehingga beberapa warga berinisiatif mematikan sendiri listriknya karena takut korslet atau kesetrum.

Pak RW yang mengetahui air semakin naik terus memonitor keadaan warganya. Bahkan relawan gerobak diminta bantuannya untuk mengevakuasi warga yang membutuhkan ke lantai dua masjid komplek.

Saya dan orang-orang yang ada di rumah pun tidak ketinggalan untuk segera memindahkan barang-barang ke lantai 2. Bahkan anak saya yang masih kecil pun ikut membantu memindahkan barang-barang tersebut dan dia sangat semangat dengan hal itu.

Setelah semua barang-barang kecil sudah dipindahkan ke lantai dua rumah saya, maka tiba waktunya untuk berjaga-jaga dan mulai bertindak cepat saat air mulai masuk rumah. Kami pun berjaga bergantian. Ada yang tidur dulu sementara, ada juga yang berjaga. Jangan sampai semua orang kelelahan saat air benar-benar masuk rumah nantinya.

2 Januari 2020 dini hari.

Menjelang pukul 1 malam dini hari air semakin meninggi. Saat ini di jalan komplek sudah sepinggang orang dewasa.

Bagi warga yang rumahnya sudah kemasukan air, maka kesibukan mereka terus berlanjut malam itu.

Sibuk menaikkan barang-barang ke lantai atas atau ke posisi lebih atas. Bayangan banjir besar 2007 mulai kembali ke masing-masing warga.

Saat itu tinggi air di jalan komplek seleher orang dewasa dan di dalam rumah rata-rata sepinggang orang dewasa.

Di saat harapan mulai putus, tiba-tiba pukul 2 malam air mulai surut. Hal ini disadari oleh orang-orang yang rumahnya kemasukan air. Beberapa malah dalam rumahnya sudah mulai kering, tinggal lumpur yang harus dibersihkan dengan segera.

Menjelang subuh Pak RW pun keliling komplek dengan relawan gerobak untuk memonitor kondisi warganya.

Alhamdulillah seluruh warga baik-baik saja. Warga yang terpaksa mengungsi ke masjid pun mulai kembali ke rumahnya lewat bantuan relawan gerobak untuk fokus membersihkan rumahnya

Pak RW pun mengumumkan lewat whatsapp grup bahwa berdasarkan observasinya dari tinggi muka pintu air di hulu, banjir sudah surut dan tinggal menunggu kering di pagi maupun siang harinya. Namun warga tetap harus waspada akan datangnya banjir susulan bila kondisi berubah tiba-tiba.

Pukul 8 pagi ketinggian air mulai di bawah betis orang dewasa. Beberapa warga sudah mulai mengambil mobilnya yang diparkir di tempat tinggi di jalan raya.

Perlahan-lahan seluruh warga mulai mengambil kendaraannya yang diselamatkan saat banjir terjadi di komplek kami.

Di sana-sini terlihat warga membersihkan rumah dan pekarangannya akibat banjir selama 30 jam tersebut.

Sekarang komplek kami sudah lebih siap menghadapi banjir walaupun dengan peralatan seadanya lewat gotong royong dan koordinasi dengan seluruh warga.

Alhamdulillah tidak ada warga yang kelaparan dalam drama banjir 30 jam tersebut. Dan pastinya tidak ada warga yang panik mendengar isu banjir kiriman dari bendungan katulampa karena komplek kami berada di kali yang berbeda dengan jalur bendungan katulampa.

Demikian seharusnya cerita banjir di tempat kami selama banjir di malam tahun baru tersebut. Sayangnya cerita di atas bukan merupakan cerita sebenarnya dan hanya imajinasi fiksi penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *