CERITA BANJIR JAKARTA

31 Desember 2019 malam.

Saya baru saja pulang kantor karena hari itu secara mengejutkan tidak ada dispensasi sama sekali dari kantor. Semua orang pulang normal, bahkan beberapa pulang agak telat karena masih ada kerjaan yang harus dikerjakannya menjelang tahun baru.

“Tanggung!”, kata teman kantor saya ketika saya ajak pulang ketika sudah menjelang waktu Maghrib.

Sesampainya saya di rumah, seluruh keluarga sudah berkumpul. Makanan sudah disiapkan oleh istri dan ibu mertua saya. Kami hanya tinggal perlu menyantapnya sambil menikmati film bioskop televisi di malam tahun baru.

Kami memang tidak ke mana-mana saat malam tahun baru. Apalagi malam itu hujan cukup lebat.

“Kira-kira yang ikutan acara tahun baru di monas bubar apa gak ya?”, demikian pikir saya sekilas dan kembali fokus ke film bioskop yang ada di televisi.

Pukul 10 malam seluruh acara televisi isinya menyambut tahun baru. Saya pun mulai siap-siap tidur. Hujan turun dengan beberapa kali dalam intensitas tinggi.

“Enak ya malam-malam hujan, jadinya kan dingin dan gak terlalu butuh AC di kamar”, pikir saya.

Continue reading

DIPAKSA JAGO

Tahun 2019 ini dimulai dengan kejutan yang terjadi di dunia persepakbolaan Asia. Qatar untuk pertama kalinya tampil menjadi juara di ajang Piala Asia dan di final mengalahkan negara tersukses di Asia yaitu Jepang dengan skor 3-1.

Dulu kesebelasan Qatar hanya menjadi kasta kelas dua di timur tengah maupun di Asia.

Kenapa kelas dua? Karena masih ada kelas tiga seperti Indonesia dan kelas empat seperti Hong Kong.

Lalu siapa kelas satunya?

Di timur tengah ada Saudi Arabia dan Iran. Irak juga.

Di level asia ada dua raksasa Jepang dan Korea ditambah satu pendatang baru, Australia.

Kemudian di awal tahun dua ribu belasan, Qatar nekat untuk mendaftar menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Tak tahunya kenekatan itu berbuah hasil. Qatar pun berhasil mengalahkan pesaing-pesaingnya tuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022.

Bagi pengamat sepakbola amatiran seperti saya, langkah Qatar menjadi tuan rumah piala dunia 2022 adalah semata-mata untuk mendapatkan tiket gratis piala dunia, dimana Qatar belum pernah masuk ke piala dunia sebelumnya. Qatar sendiri tidak pernah dikenal sebagai negara yang kuat kultur sepakbolanya walaupun tidak jelek-jelek amat mainnya.

Namun Qatar pun membuktikan kualitasnya.

Continue reading

Perjalanan Umroh, Ngapain Aja Sih? Bagian 9

Berinteraksi di Tanah Suci

Pergi ke tanah suci adalah pergi ke negeri orang. Budaya, bahasa, kebiasaan dan juga cuaca bisa jadi berbeda dengan tempat anda berada. Bahkan bisa jadi juga berbeda dengan negeri orang yang sudah pernah anda kunjungi. Jadi persiapkan dahulu diri anda sebelum berkunjung ke tanah suci, minimal sama dengan anda mempersiapkan diri untuk berkunjung ke negeri orang.

Pertama masalah bahasa. Di negara Saudi Arabia, penduduk lokalnya sangat fasih berbahasa arab namun jarang yang bisa Bahasa Inggris atau Indonesia secara benar. Memang banyak yang bisa berbahasa Indonesia, namun kebanyakan mereka ada pedagang yang tahu bahwa banyak calon konsumennya dari Indonesia.

Jika anda ke tanah suci hanya ingin berinteraksi dengan pedagang di sana, maka modal dapat berbahasa Indonesia sudah cukup. Mereka mengerti mengenai angka dan beberapa kata bahasa Indonesia.

“Satu Real”

“Sepuluh Real”

“Lima puluh Real”

“Halal”, bila anda menawar harga yang dapat diterimanya

“Haram”, bila anda menawar harga yang tidak dapat diterimanya

“Bagus”

“Rafi Ahmad, Arifin Ilham, Ustad Maulana”, untuk memanggil laki-laki datang ke tokonya

“Syahrini, Ayu Ting-ting”, untuk memanggil perempuan muda ke tokonya

“Mamah Dedeh”, untuk memanggil perempuan separo baya atau lebih ke tokonya

Namun ketika anda bertanya kepada mereka mengenai hal spesifik mengenai barang yang ditawarkannya, biasanya dia bingung mau menjawab apa. Untungnya banyak toko-toko di sana yang memperkerjakan orang dari Indonesia, sehingga kadangkala orang itulah yang menjadi penyambung lidah kita kepada juragan tokonya bila kita akan bertanya sesuatu mengenai barangnya.

Jangan dilupakan juga kalau urusan berdagang, penduduk lokal sana juga menerima rupiah. Jadi jangan kuatir rupiah anda tidak dapat digunakan di sana.

Jika urusan dagang banyak dari mereka yang bisa bahasa Indonesia, lain lagi bila urusan pelayanan publik. Di kedua masjid besar di sana, selalu ada petugas-petugas yang tersebar di sekeliling masjid. Ada petugas kebersihan dengan seragamnya warna hijau atau biru, ada petugas keamanan dengan seragamnya yang berwarna coklat, mirip seperti seragam polisi di Indonesia dan juga petugas penjaga pintu masuk yang seragamnya mirip seperti pakaian yang digunakan Raja Salman saat ke tanah air, yaitu menggunakan sorban.

Dari sekian banyak petugas di masjid yang berinteraksi langsung dengan jamaah, hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Biasanya yang berbahasa Inggris hanyalah petugas yang menggunakan sorban. Selebihnya hanya bisa berbahasa arab atau bahasa dari negara tempat dia berasal.

Iya, pekerja di sana bukan hanya dari arab, tapi ada juga dari negara lain termasuk dari Indonesia. Beruntunglah anda bila menemukan petugas masjid, biasanya dari bagian kebersihan atau rumah tangga masjid yang dari Indonesia karena bisa bertanya banyak seputar fasilitas dan rahasia-rahasia yang tidak banyak orang ketahui mengenai kedua masjid besar tersebut.

Ada satu rahasia di Masjid Nabawi yang saya ketahui dari cerita petugas kebersihan yang kebetulan dari Indonesia. Rahasia tersebut akan saya ungkap di bagian lain tulisan ini.

Bagi petugas yang hanya mengerti bahasa arab, maka ketika ia menegur anda atau jamaah lainnya, dia akan menggunakan kata “Hajj” bagi laki-laki dan “Hajjah” bagi perempuan. Dan anda tidak akan tahu apa maksudnya namun dia akan memberi kode. Biasanya mengusir dari suatu tempat atau mengajak untuk menuju ke suatu tempat. Yah kebanyakan hal itulah yang mereka biasa lakukan.

Selain bahasa, ada kebiasaan unik lain yang perlu diperhatikan saat berada di tanah suci. Kebiasaan ini bukan hanya ada di kota Mekkah dan Madinah, tapi juga termasuk Jeddah. Bisa jadi kebiasaan ini merupakan aturan dari pemerintah setempat untuk menghormati waktu shalat.

Sesaat menjelang waktu azan biasanya setiap toko, dimana pun ia berada, baik di pasar, ruko, maupun mal langsung tutup dan orang-orangnya tidak terlihat dari depan toko. Bagi yang tidak tutup, ketika ada petugas yang keliling memeriksa, akan langsung ditegur, bahkan pelanggan yang masih berada di sekitar toko juga akan ditegur untuk langsung melaksanakan shalat.

Kira-kira setengah jam setelah waktu azan, atau ketika shalat berjamaah awal waktu di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram berakhir, toko-toko itu pun buka kembali. Kadangkala anda tidak melihat petugas tokonya pergi ke masjid ketika tokonya tutup, tapi begitu anda balik dari masjid, mereka sudah membuka tokonya kembali.

Jadi tutup toko bukan berarti petugas atau pemilik tokonya ikut shalat di masjid, tapi itu hanya sekedar mematuhi aturan pemerintah setempat.

Pernah saya waktu di hari kepulangan saat di Mekkah pergi ke toko penjual makanan di lantai bawah gedung tempat saya menginap. Kebetulan saya turun pas sedang azan. Saya temui tokonya sudah tutup. Lalu saya menunggu saja di depan tokonya karena ada meja dan tempat duduk untuk menunggu di sana.

Begitu seorang petugas keamanan gedung keliling melakukan inspeksi dan menemukan saya berada di meja sambil menunggu, padahal sudah masuk waktu shalat, saya pun ditegurnya dan langsung diusir dari situ untuk segera melaksanakan shalat. Orang lain yang juga berada di situ pun ditegurnya tanpa pandang bulu.

Terpaksa saya kembali ke hotel terlebih dahulu, shalat di kamar (karena sudah keburu Tawaf Wada’ di pagi harinya, sehingga tidak lagi shalat di Masjidil Haram), dan kembali lagi ke toko penjual makanan setelah mengetahui bahwa shalat berjamaah di masjid sudah selesai.

Hebatnya, jam buka toko ini dimulai sejak berakhirnya shalat subuh. Hal ini berlaku untuk hampir semua toko yang berada di lingkungan masjid, baik di Mekkah maupun Madinah. Toko-toko ini akan benar-benar tutup tidak lama setelah shalat isya berakhir. Pukul 8 malam lewat sedikit biasanya sudah pada tutup, kecuali toko-toko di dalam mal yang tutup sekitar pukul 9 – 10 malam.

Kalau anda kagum dengan kebiasaan toko yang tutup saat azan, maka anda akan sangat terkejut ketika melihat pelayanan dari petugas hotel yang anda tempati. Kenapa bisa terkejut?

Selama 3 hari di Madinah dan 4 hari di Mekkah, di hotel bintang apa pun anda, tidak ada satupun petugas hotel yang datang untuk melakukan pembersihan, perapihan, atau sekedar mengganti atau menambah peralatan mandi atau air minum mineral. Padahal mereka ada jadwal keliling kamar untuk melakukan hal tersebut. Namun bila anda tidak berada di kamar, mereka akan melewatkan kamar anda sampai anda datang, baru mereka membersihkan kamar.

Kenapa harus nunggu sampai penghuni kamarnya datang? Biasanya mereka mengharapkan tips dari anda, sebesar 5 – 10 Real. Jika diberikan uang, maka kerjanya benar. Jika tidak diberikan uang, maka tidak dikerjakan.

Jadi bila anda sangat sibuk dan hanya berada di kamar seperlunya selama berada di Madinah dan Mekkah, maka siap-siap, tidak ada yang akan membersihkan kamar anda selama berada di sana. Malah untuk minta sesuatu ke front desk, misalkan anda meminta handuk yang kurang disediakan di kamar, anda harus memintanya berkali-kali sampai handuk itu benar-benar datang. Kecuali ya tadi, kebetulan petugasnya lewat, namun anda harus rela memberinya tips karena usahanya tersebut.

Untuk amannya saat persiapan dari rumah, silakan bawa juga peralatan mandi secukupnya dan handuk kecil untuk jaga-jaga handuk dari hotel yang datangnya telat. Daripada anda tidak mandi, mending lakukan persiapan sebelumnya.

Di hotel bintang lima biasanya agak mending sedikit, tapi kebiasaan mengharapkan tips juga tetap ada di sana. Mereka tidak akan beranjak dari tempatnya hingga anda memberikan tips. Kadang mereka minta, kadang mereka tidak minta tapi diam saja gak keluar-keluar dari kamar anda atau tidak beranjak dari luar pintu kamar anda.

Selanjutnya mengenai budaya berpakaian. Di kota suci Mekkah dan Madinah tidak akan ada atau sulit sekali menemukan orang berkeliaran dengan aurat terbuka. Yang perempuan selalu menggunakan jilbab dan yang laki-laki kebanyakan menggunakan gamis. Khusus bagi laki-laki kenapa mereka senang sekali menggunakan gamis ya?

Saya pun mencoba membeli gamis saat perjalanan umroh pertama saya. Yang saya rasakan saat menggunakan gamis adalah, gamis mampu menolak panas yang masuk ke tubuh saya. Toh gamis menutupi hampir seluruh tubuh saya kecuali kepala. Tidak ada bekas kebakar di tubuh walaupun matahari bersinar sangat terik dan panas.
Di perjalanan umroh kedua saya, cuaca kebetulan dingin. Dengan menggunakan gamis, dinginnya cuaca tidak terlalu terasa ke tubuh saya. Gamis menahan dinginnya cuaca dan membuat tubuh saya lebih hangat. Sepertinya gamis ini cocok untuk segala cuaca. Saat panas, ia menolak panas dan saat dingin ia menolak dingin.

Tapi jangan senang dulu, itu khusus di tempat yang kelembabannya rendah.

Kalau gamis dibawa ke Indonesia, maka anda akan merasa sangat panas saat hari panas, bahkan keringat mengucur deras karena gamis tersebut menambah panas yang masuk ke dalam tubuh. Seperti berada di sauna.

Ketika dingin, tebalnya gamis yang tidak seberapa tidak terlalu berpengaruh kepada kehangatan tubuh anda. Jadi memang gamis tidak terlalu cocok dipakai untuk iklim Indonesia yang kelembabannya tinggi. Tapi kalau dipakai untuk sekedar shalat berjamaah di masjid tanah air, gamis sangat praktis untuk digunakan.

Ngomongin tentang cuaca, di Saudi Arabia cuacanya sering berubah sesuai bulannya dan tidak seperti di Indonesia yang selalu sama sepanjang tahun. Beberapa tahun terakhir ini, waktu umroh dimulai kira-kira Bulan Oktober setelah berakhirnya musim haji. Nah bulan-bulan akhir tahun itu biasanya cuaca di sana mulai dingin, dan mencapai puncaknya di Bulan Desember menjelang tahun baru.

Setelah tahun baru, cuaca perlahan-lahan naik dan mulai terasa panas di akhir Maret atau awal April. Nanti puncak panasnya setelah selesai bulan puasa, atau bulan Juni dan Juli dan itu artinya menjelang masuknya musim haji.

Perjalanan umroh pertama saya waktu itu berlangsung di akhir Maret hingga awal April 2018. Waktu itu cuaca mulai panas, pernah sampai 40 derajat celcius di siang hari. Walaupun panas, tapi tidak serta merta kita banjir keringat karena kelembaban udaranya sangat rendah, cuma sekitar 40%, dibandingkan di Indonesia yang kelembaban udaranya mencapai 90%.

Pas perjalanan umroh kedua yang berlangsung di awal Januari 2019, cuacanya mirip dengan cuaca puncak. Dingin sekali pada pagi hari dan malam hari, biasa saja saat siang hari.

Di antara Mekkah dan Madinah, cuaca Madinah umumnya lebih dingin sedikit daripada Mekkah. Kalau di Madinah cuacanya 30-35 derajat celcius, maka di Mekkah bisa mencapat 40 derajat celcius. Jika di Madinah 15-20 derajat celcius, maka di Mekkah bisa mencapai 30 derajat celcius.

Bagi laki-laki tak perlu kuatir dengan cuaca, tinggal bermodal gamis untuk menghadapi kedua jenis cuaca sudah cukup. Kalau yang dingin, mungkin ditambah jaket yang agak tebal dikit sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya cuaca sekitar.

Bagi perempuan silakan menyesuaikan dengan kondisi yang ada, karena saya tak pengalaman untuk pakaian yang digunakan perempuan saat umroh, baik umroh pertama maupun umroh kedua.

VISA PROGRESIF

Januari 2019 lalu saya umroh. Itu merupakan umroh kedua saya setelah sekitar 10 bulan sebelumnya saya juga sudah melaksanakan umroh. Tentu saja saya terkena kewajiban yang disebut orang sebagai visa progresif.

Apa itu visa progresif?

Visa progresif adalah nama yang diberikan oleh kebanyakan orang Indonesia, termasuk dari travel umroh yang memberangkatkan anda ke tanah suci. Padahal kalau ditanya ke kedutaan Saudi Arabia, mereka sendiri tidak mengenal visa progresif.

Ah masa sih? Buktinya apa?

Silakan search di internet, web-web resmi yang berkaitan dengan visa Saudi Arabia, apakah ada yang namanya visa progresif? Pasti tidak ada!

Lalu apa itu visa progresif?

Visa progresif adalah biaya visa normal yang dikenakan kepada setiap orang yang bukan berkewarganegaraan Saudi Arabia atau tidak memiliki ijin tinggal di Saudi Arabia yang akan memasuki negara tersebut.

Jadi kalau mau pergi ke Saudi Arabia, apa pun kepentingannya, apakah haji, umroh, kerja atau sekedar menjadi turis, maka akan terkena biaya visa normal ini.
Dahulu, khusus untuk haji dan umroh tidak terkena biaya visa ini. Soalnya bagi jamaah yang ingin haji dan umroh dianggap sebagai tamu Allah dan tamu Allah tidak dikenakan biaya apa pun jika hanya ingin masuk negara Saudi Arabia.

Perlahan-lahan kebijakan negara Saudi Arabia pun berubah seiring seringnya orang bolak-balik mengerjakan haji dan umroh. Dari mana pemerintah Saudi Arabia mengetahui bahwa ada orang yang bolak-balik haji dan umroh? Ya gampang saja, dari nomor paspor orang yang masuk ke negara tersebut.

Awalnya dikenakan visa progresif adalah bagi orang yang haji dan umroh dua kali atau lebih dalam tahun yang sama, atau dalam dua tahun berurutan. Kalau jaraknya sudah lebih dari dua tahun, maka tidak lagi terkena visa progresif. Untuk visa yang semacam ini, cocok disebut progresif, karena biasanya progresif terkena akumulasi dalam kurun waktu tertentu, dalam hal ini satu atau dua tahun masa haji atau umroh.

Visa progresif yang dikenakan pun tidak membuat orang jera dan malah menyiasati dengan mengatur keberangkatan haji dan umrohnya selang dua tahun sekali agar tidak terkena visa progresif. Masih banyak orang yang bolak-balik haji dan umroh, walaupun tidak sesering sebelumnya.

Akhirnya di tahun 2017 diberlakukanlah kebijakan untuk memberlakukan biaya visa normal bagi siapa pun yang bukan warga negara Saudi Arabia atau tidak memiliki ijin untuk tinggal di Saudi Arabia, untuk keperluan apa pun, yang ingin masuk ke negara Saudi Arabia. Khusus untuk haji dan umroh diberikan dispensasi visa gratis untuk kunjungan pertamanya dan hanya pertamanya.

Haji dan umroh memiliki visa terpisah, sehingga bisa untuk kunjungan haji pertama dan umroh pertama.

Dengan demikian kunjungan kedua, ketiga dan seterusnya walaupun dilakukan dalam selang waktu 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun atau bahkan 50 tahun akan terkena kewajiban membayar visa normal yang saat ini nilanya SAR 2000 (dua ribu riyal) atau sekitar Rp 7,5 juta hingga Rp 8 juta tergantung kurs yang berlaku saat itu.

Sewaktu tahun 2017 yang menjadi kontrol bahwa orang tersebut melakukan haji atau umroh yang kedua kali sejak tahun 2017 adalah nomor paspor. Bila seseorang menggunakan nomor paspor yang sama untuk dua kali atau lebih melakukan kunjungan ke Saudi Arabia, sudah pasti terkena visa normal. Bila paspornya sudah keburu ganti karena habis buku atau habis masa berlaku atau ganti karena alasan apa pun, maka dia kembali dianggap melakukan kunjungan pertama kali baik untuk haji maupun umrohnya dan bebas dari kewajiban membayar visa normal.

Lagi-lagi banyak orang yang menyiasati aturan ini dengan mengganti paspor sesaat sebelum pengurusan visa umroh atau haji dan bebas dari kewajiban membayar visa normal. Biasanya ganti paspornya dari paspor biasa menjadi paspor e-paspor. Walaupun e-paspor lebih mahal, namun lumayan menghemat jutaan rupiah daripada harus membayar visa masuk Saudi Arabia.

Lalu di awal tahun 2019 ini, pemerintah Saudi Arabia makin pintar dan meminta untuk melakukan rekam biometrik sebelum pengajuan visa umroh. Dengan demikian, biarpun paspornya telah ganti puluhan kali, tapi selama biometriknya telah berhasil direkam, maka untuk kunjungan haji atau umrohnya yang kedua, akan tetap terkena kewajiban membayar visa.

Rekam biometrik ini lah yang akhirnya dipermasalahkan oleh anggota dewan yang terhormat dan meminta kepada kedutaan Saudi Arabia untuk menghentikan kegiatan rekam biometrik yang membebankan biayanya kepada jamaah. Entah bagaimana akhirnya wacana ini, apakah pemerintah kita berhasil menghentikan proses rekam biometrik atau proses tersebut terus berlangsung karena memang harus mengikuti aturan dari dalam negeri negara Saudi Arabia.

Lalu adakah celah saat ini untuk bebas dari visa progresif atau minimal kewajibannya tidak sebesar Rp 7,5 juta atau Rp 8 juta tersebut?

Bagi yang pernah umroh antara tahun 2017 hingga sebelum Januari 2019, maka lakukan saja siasat mengganti paspor sebelum mengajukan visa umroh. Pastilah tidak terkena visa progresif karena untuk data sebelum Januari 2019 masih mengandalkan nomor paspor sebagai kontrolnya.

Tapi bagi yang sudah pernah umroh setelah Januari 2019 maka tidak ada jalan lain selain membayar sebesar SAR 2000. Jika ingin lebih murah, maka bisa diwujudkan bila kurs rupiah menguat terhadap riyal.

Bagaimana caranya rupiah menguat terhadap riyal?

Gampang saja, kurs riyal itu berbanding lurus dengan kurs dolar. Bila dolar menguat terhadap rupiah, maka riyal pun menguat terhadap rupiah. Bila dolar melemah terhadap rupiah, maka riyal pun melemah terhadap rupiah.

Ngerti kan maksudnya? Untuk melemahkan riyal, ya lemahkan saja dolar terhadap rupiah!

Bagaimana caranya rupiah menguat terhadap dolar?

Nah untuk ini ada rumusnya. Namun rumus umumnya seperti ini:

Dolar akan menguat ketika dolar banyak pergi keluar negara Indonesia, sehingga dolar di Indonesia sedikit. Karena jumlahnya sedikit maka dolar mahal dan menguat.

Dolar akan melemah ketika dolar banyak masuk ke negara Indonesia, sehingga dolar di Indonesia banyak. Karena jumlahnya banyak maka dolar murah dan melemah.

Kalau dari ilmu ekonomi, dolar banyak pergi keluar negara Indonesia saat negara kita melakukan impor barang dari luar negeri. Sebaliknya, bila dolar banyak masuk ke negara Indonesia, maka saat itu negara kita melakukan ekspor barang ke luar negeri.

Dari catatan nilai ekspor dan impor negara Indonesia dua tahun terakhir yang saya ambil dari link https://id.tradingeconomics.com/indonesia/current-account
menjelaskan bahwa nilai transaksi berjalan Indonesia sejak tahun 2016 hingga awal tahun 2019 selalu mengalami defisit. Itu artinya dalam dua tahun terakhir ini lebih banyak barang impor yang masuk ke negara kita daripada negara kita ekspor barang ke luar negeri.

Defisit transaksi berjalan terjadi karena kebijakan dari pemerintah. Kebijakan pemerintah yang lebih pro kepada konsumsi daripada pro kepada produksi membuat nilai impor selalu lebih besar daripada ekspor.

Apa saja barang-barang yang diimpor dari kebijakan pemerintah? Banyak! Lihat saja di media online, koran-koran atau berita televisi. Tak perlu lagi disebutkan satu-satu di sini.

Lalu bagaimana caranya agar ekspor lebih besar daripada impor ke depannya?

Ya mumpung tahun 2019 adalah tahun pemilu, pilihlah pemimpin yang tidak pro impor! Pilih pemimpin yang pro kepada pengembangan usaha. Mulai dari pengusaha kecil hingga menengah.

Para pengusaha tersebut nantinya akan lebih banyak menghasilkan produk-produk berkualitas yang bukan hanya dijual di dalam negeri, tapi juga dapat diterima di luar negeri.

Bagi produk-produk yang biasa diimpor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sudah saatnya pemerintah menargetkan swasembada. Petani-petani dan produsen pangan lainnya diberikan kemudahan, pelatihan dan pendampingan agar produktivitasnya meningkat dapat menghasilkan produksi yang lebih banyak dan berkualitas.

Apakah ada pemimpin yang seperti itu di tahun 2019 ini?

Hanya anda yang dapat menjawabnya!

Misalkan nanti dolar jadi Rp 10.000 saja, dan riyal pun kira-kira sekitar Rp 2.500 (ketika dolar Rp 15.000, riyal Rp 4.000, perbandingan dolar dengan riyal hampir 4 banding 1), maka SAR 2000 nilainya menjadi sekitar Rp 5 juta. Lumayan menghemat Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta untuk keperluan haji dan umroh berikutnya.

Kan katanya kalau sudah pernah ke tanah suci pasti ingin balik lagi ke tanah suci.

Pilih pemimpin yang pro produksi dalam negeri, maka pergi ke tanah suci dan melepas rindu dengan dua masjid suci jadi lebih murah.

Masih mau bayar mahal untuk visa progresif?

PEMILU PILIH PARTAI?

S: “Dua setengah bulan lagi pemilu loh. Dah tahu mau milih siapa?”
T: “Lah kan jelas mau milih Pak **ow* nanti.”
S: “Bukan itu maksudnya. Yang pemilihan anggota dewan, mau milih siapa?”
T: “Ah pilih partai yang mendukung Pak **ow* aja.”
S: “Tapi kan sekarang pemilihannya serentak, pilih partai tidak mempengaruhi seorang calon presiden bisa maju atau tidak.”

T: “Iya sih, habis tidak ada yang kenal sih calonnya. Masih bisa kan pilih partai?”Perbincangan di atas benar-benar terjadi antara S (saya) dengan T (teman) saya beberapa waktu lalu. Pemilu kali ini walaupun tinggal dua bulan lebih sembilan hari lagi, tapi masih ada saja beberapa orang yang belum tahu akan memilih siapa nanti. Bukan pilihan presiden, tapi pilihan anggota dewan.

Pemilihan Presiden saya rasa sudah banyak orang menetapkan pilihan. Bagi para fans garis keras Jokowi, atau yang dikenal dengan sebutan Cheby, tentu sudah mengkampanyekan beliau untuk dua periode bahkan sejak beberapa tahun lalu. Kemungkinan besar, dengan probabilitas 99,99% akan memilih Pak Jokowi dalam pemilu 17 April 2019.

Bagi para fans garis keras Prabowo, atau bagian dari kaum Kempi, tentu sudah yakin bahwa Pak Prabowo lah yang mampu membawa negara kita menuju kemakmuran. Kemungkinan dengan probabilitas yang sama yaitu 99,99% akan memilih Pak Prabowo dua bulan lagi.

Masalahnya pemilu kali ini bukan hanya pemilihan presiden. Ada pemilihan anggota DPR RI, DPRD tingkat I, DPRD tingkat II dan DPD.

DPR RI, DPRD tingkat I dan DPRD tingkat II calon anggotanya berasal dari partai. Ada 20 partai yang resmi terdaftar ikutan pemilu tahun 2019 ini. Empat partai di antaranya khusus berada di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 16 partai lain berada di seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Khusus untuk DPD, calonnya tidak berasal dari partai. Calon DPD ini nantinya lebih dikenal sebagai senator daerah, yaitu orang yang benar-benar mewakili daerah atau provinsinya masing-masing.

Apakah kita sudah tahu mau pilih siapa di pemilu serentak nanti?

Paling tidak, apakah sudah tahu siapa-siapa saja calonnya?

Barangkali anda akan menjawab, “Ah saya mah pilih partai pendukung Pak **ow* aja! Supaya ketika dia menang nanti kebijakannya didukung oleh parlemen.”

Logika tersebut memang masuk akal. Tapi itu berlaku hanya sampai pemilu tahun 2014.

Kenapa hal tersebut sudah tidak berlaku lagi saat ini?

Karena ada tiga hal yang menyebabkan memilih calon hanya karena dari partai sudah ketinggalan jaman.

Pertama,
Memilih partai bukan untuk mendukung calon anda untuk maju jadi calon presiden.

Tentu hal ini sudah tahu kan ya?

Belum tahu juga?

Masa sih?

Jangan sampai anda mikir, “Saya bakal milih PDIP, karena nanti pasti PDIP mencalonkan Pak Jokowi jadi Presiden.”

Atau jangan pula kira-kira mengatakan seperti ini, “Saya mah pilih Gerindra aja. Gerindra menang kan Pak Prabowo Presiden.”

Untuk yang ini tidak perlu dijelaskan lagi ya…

Kedua,
Memilih partai bukan berarti memilih dukungan parlemen untuk presiden pilihan anda.

Ingat di jaman Pak SBY atau Pak Jokowi awal-awal menjadi Presiden? Apakah kedua presiden tersebut memiliki pendukung mayoritas di parlemen?

Pak SBY sewaktu menjadi presiden, partai pendukung terkuatnya, Partai Demokrat hanya memiliki tujuh persen suara nasional. Pak Jusuf Kalla, sang Wakil Presiden saat itu pun tidak didukung oleh partai yang menjadi tempatnya berlabuh, Partai Golkar. Sehingga praktis saat Pak SBY awal mula memerintah, dukungan parlemen kepadanya sangat minim.

Pak Jokowi pun saat awal menjadi presiden tidak memiliki dukungan mayoritas parlemen. Memang tidak sekecil dukungan parlemen pas jaman Pak SBY, tapi yang pasti bukan mayoritas. Malah pada awal mula ketika anggota dewan yang terhormat baru dilantik dan memilih pimpinannya, partai-partai pendukung Pak Jokowi tidak mendapatkan kursi-kursi strategis di parlemen.

Namun godaan kekuasaan sangat kuat, bahkan sangat menggiurkan. Perlahan tapi pasti, Pak SBY dan Pak Jokowi mendapatkan dukungan mayoritas parlemen tidak lama setelah memerintah. Malah kebanyakan dari partai-partai tersebut mendukung keduanya untuk maju dalam pemilihan presiden periode kedua.

Bisa saja saat ini partai yang anda pilih mendukung calon presiden pilihan anda. Namun bila calon presiden anda tidak terpilih, dan partai tersebut “butuh” untuk turut ikut andil mencicipi lezatnya kue kekuasaan, maka bisa saja kebijakannya partainya berubah menjadi mendukung calon presiden yang bukan pilihan anda.

Atau bisa jadi calon presiden pilihan anda menang dan partai yang anda pilih merupakan salah satu pendukung calon presiden anda. Lalu karena dinamika politik, partai yang anda pilih memiliki konflik dengan presiden terpilih, sehingga tidak merasakan lezatnya kue kekuasaan. Partai tersebut pun berganti arah menjadi oposisi untuk presiden terpilih.

Banyak contoh yang sudah terjadi dalam alasan pertama ini. Contoh yang paling jelas adalah Partai Golkar yang awalnya tidak mendukung Pak SBY dan Pak Jokowi di awal masa pemerintahannya, namun akhirnya mendekat dan menjadi pendukung kedua presiden tersebut.

Ketiga,
Memilih partai bukan berarti calon terbaik partai yang jadi anggota dewan.

Ingat ya, di pemilu itu memang ada dua pilihan agar coblosan anda nanti dianggap sah oleh panitia pemilu di dekat rumah anda.

Pilihan pertama adalah mencoblos partai, baik lambangnya, namanya, nomornya dan sesuatu yang menunjukkan bahwa posisi yang anda coblos pas kena ke partai tersebut.

Pilihan kedua adalah mencoblos satu nama di bawah lambang, nomor dan nama partai. Ada beberapa nama disertai nomor urut yang tersedia untuk dicoblos, dan selama anda mencoblos di dalam kotak yang menunjukkan nomor urut atau nama tersebut, maka coblosan anda sah. Malah sahnya dua kali, yaitu sah karena memilih nama disertai nomor urut calon anggota dewan dan sah karena sudah memilih partai.

Untuk pilihan pertama di atas, hasil coblosan anda hanya akan digunakan untuk menentukan jumlah kuota anggota dewan dari partai yang anda pilih. Misalkan kuota dari satu daerah pemilihan adalah 6 anggota dewan. Jumlah suara sah di daerah pemilihan tersebut adalah 600 suara. Artinya setiap satu anggota dewan mewakili 100 suara sah yang didapat dari 600 suara sah dibagi 6.
Jika partai yang anda pilih jumlah suaranya adalah 101 suara sah, maka partai tersebut berhak mendapatkan satu kursi anggota dewan. Namun siapa yang berhak dari beberapa nomor urut calon yang bersaing di partai tersebut?

Itulah gunanya memilih nama orang langsung. Bila memilih partai, maka suara kita hanya sampai hitungan 101 suara sah. Namun orangnya bukan kita yang milih, tergantung kepada calon mana dari 101 suara sah yang memperoleh suara sah terbanyak di partai tersebut. Dia lah yang kemudian berhak melenggang sebagai anggota dewan dari partai tersebut.

Jadi, bila kita memilih langsung nama orang dan nomor urutnya, maka pilihan kita akan masuk dalam dua hitungan. Hitungan pertama dari jumlah suara sah partai. Hitungan kedua dari jumlah suara sah calon yang kita pilih.

Sehingga bila kita semua memilih calon anggota dewan terbaik menurut kita, maka bisa saja nantinya anggota dewan akan diisi oleh orang-orang terbaik di negeri ini.
Tentu kita tidak mau lagi mendengar kata-kata dari anggota dewan seperti “ngeri-ngeri sedap” atau “masuk barang tuh”. Masih ingat kan?

Setelah ini lalu bagaimana?

Ya kenali calon anggota dewan di daerah pemilihan anda. Ada nama, foto bahkan biodata diri anggota dewan. Beberapa malah sudah menyesaki desa dan kota anda dengan spanduk dan stikernya. Beredar sejak mulai anda keluar rumah hingga anda masuk rumah lagi. Malah seringkali spanduk dan stikernya dipasang di pagar, pekarangan atau bagian lain dari rumah anda.
Tapi apakah itu cara terbaik mengenal calon terbaik anda?

Saya punya kabar gembira untuk yang tinggal di daerah pemilihan Jawa Tengah IX, Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal. Saya memiliki rekomendasi calon anggota dewan dari daerah pemilihan tersebut.

Namanya adalah Dr. Ir. HARRIS TURINO, M.Si.,M.M.

Doktor ekonomi jebolan Universitas Indonesia ini adalah pemegang rekor MURI untuk lulusan doktor ekonomi bidang manajemen stratejik tercepat se-Indonesia. Pengetahuannya tentang ekonomi tentu tidak perlu diragukan lagi karena sudah pasti setara dengan pengamat ekonomi senior Faisal Basri atau Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Kemampuan kepemimpinannya sudah teruji dari sejak dia bergabung di kepolisian. Memang dia bukan polisi reserse yang menyelidiki kasus pembunuhan ataupun kasus korupsi. Dia adalah salah satu staf pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian di Jakarta, sekaligus menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi dan saat ini menjabat sebagai ketua alumni Sekolah Tinggi Prasetiya Mulya, tempat Pak Basuki Tjahaja Purnama mengambil kuliah pasca sarjananya.

Doktor Harris Turino menjadi calon anggota DPR RI lewat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) nomor urut 2.

Selain itu saya juga memiliki kabar gembira untuk anda yang bermukim di daerah pemilihan Jawa Barat VI, Kota Depok dan Kota Bekasi. Saya memiliki rekomendasi calon anggota dewan dari daerah pemilihan tersebut. Jika sebelumnya calon yang saya rekomendasikan adalah laki-laki dengan gelar doktor, maka calon yang satu ini adalah perempuan dengan gelar dokter.

Namanya adalah dr. SYAHNIDAR HELVIANI

Dokter umum jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi ini sudah aktif berorganisasi sejak masih bersekolah di bangku SMP. Waktu itu organisasi yang diikutinya adalah Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Keahlian organisasinya makin terasah saat aktif ikut di berbagai organisasi saat masa kuliah.

Bakat kepemimpinannya pun juga teruji ketika pernah menjabat menjadi dokter tentara di Komando Distrik Militer (Kodim) Bekasi. Kebiasaan disiplin di ketentaraan terbawa dalam kehidupan sehari-harinya termasuk saat berorganisasi.

Sebagai praktisi di bidang kesehatan (dokter), dia sudah paham segala permasalahan yang dialami oleh masyarakat sebagai penerima jasa manfaat kesehatan dan juga para dokter sebagai pemberi jasa manfaat kesehatan.

Dokter Syahnidar Helviani menjadi calon anggota DPR RI lewat Partai Demokrat nomor urut 3.

Lalu bagaimana cara mengenal calon di daerah pemilihan anda?

Yang perlu dilakukan hanyalah akses website KPU. Lalu cari daerah pemilihan anda. Cari nama-nama calon yang menurut anda perlu anda telaah lebih lanjut rekam jejaknya. Kalau perlu, hubungi yang bersangkutan secara pribadi.

Bisa dari akun sosial medianya.

Bisa ngobrol dengannya, supaya tahu visi dan misinya.

Sedikit bocoran dari saya…

Bila calon yang anda ingin hubungi untuk ketemu langsung susah untuk dihubungi atau ditemui, maka apa jadinya bila saat dia terpilih nanti?

Jadi gunakan dua bulan ini sebaik-baiknya, temui sebanyak-banyaknya calon agar anda mengenal calon anda dan tidak ragu lagi dalam memilih dalam pemilu ini.

Masih pilih partai di pemilu kali ini?

Perjalanan Umroh, Ngapain Aja Sih? Bagian 8

Berinteraksi di Tanah Suci

Pergi ke tanah suci adalah pergi ke negeri orang. Budaya, bahasa, kebiasaan dan juga cuaca bisa jadi berbeda dengan tempat anda berada. Bahkan bisa jadi juga berbeda dengan negeri orang yang sudah pernah anda kunjungi. Jadi persiapkan dahulu diri anda sebelum berkunjung ke tanah suci, minimal sama dengan anda mempersiapkan diri untuk berkunjung ke negeri orang.

Pertama masalah bahasa. Di negara Saudi Arabia, penduduk lokalnya sangat fasih berbahasa arab namun jarang yang bisa Bahasa Inggris atau Indonesia secara benar. Memang banyak yang bisa berbahasa Indonesia, namun kebanyakan mereka ada pedagang yang tahu bahwa banyak calon konsumennya dari Indonesia.

Jika anda ke tanah suci hanya ingin berinteraksi dengan pedagang di sana, maka modal dapat berbahasa Indonesia sudah cukup. Mereka mengerti mengenai angka dan beberapa kata bahasa Indonesia.

“Satu Real”

“Sepuluh Real”

“Lima puluh Real”

“Halal”, bila anda menawar harga yang dapat diterimanya

“Haram”, bila anda menawar harga yang tidak dapat diterimanya

“Bagus”

“Rafi Ahmad, Arifin Ilham, Ustad Maulana”, untuk memanggil laki-laki datang ke tokonya

“Syahrini, Ayu Ting-ting”, untuk memanggil perempuan muda ke tokonya

“Mamah Dedeh”, untuk memanggil perempuan separo baya atau lebih ke tokonya

Namun ketika anda bertanya kepada mereka mengenai hal spesifik mengenai barang yang ditawarkannya, biasanya dia bingung mau menjawab apa. Untungnya banyak toko-toko di sana yang memperkerjakan orang dari Indonesia, sehingga kadangkala orang itulah yang menjadi penyambung lidah kita kepada juragan tokonya bila kita akan bertanya sesuatu mengenai barangnya.

Jangan dilupakan juga kalau urusan berdagang, penduduk lokal sana juga menerima rupiah. Jadi jangan kuatir rupiah anda tidak dapat digunakan di sana.

Jika urusan dagang banyak dari mereka yang bisa bahasa Indonesia, lain lagi bila urusan pelayanan publik. Di kedua masjid besar di sana, selalu ada petugas-petugas yang tersebar di sekeliling masjid. Ada petugas kebersihan dengan seragamnya warna hijau atau biru, ada petugas keamanan dengan seragamnya yang berwarna coklat, mirip seperti seragam polisi di Indonesia dan juga petugas penjaga pintu masuk yang seragamnya mirip seperti pakaian yang digunakan Raja Salman saat ke tanah air, yaitu menggunakan sorban.

Dari sekian banyak petugas di masjid yang berinteraksi langsung dengan jamaah, hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris.  Biasanya yang berbahasa Inggris hanyalah petugas yang menggunakan sorban. Selebihnya hanya bisa berbahasa arab atau bahasa dari negara tempat dia berasal.

Iya, pekerja di sana bukan hanya dari arab, tapi ada juga dari negara lain termasuk dari Indonesia. Beruntunglah anda bila menemukan petugas masjid, biasanya dari bagian kebersihan atau rumah tangga masjid yang dari Indonesia karena bisa bertanya banyak seputar fasilitas dan rahasia-rahasia yang tidak banyak orang ketahui mengenai kedua masjid besar tersebut.

Ada satu rahasia di Masjid Nabawi yang saya ketahui dari cerita petugas kebersihan yang kebetulan dari Indonesia. Rahasia tersebut akan saya ungkap di bagian lain tulisan ini.

Bagi petugas yang hanya mengerti bahasa arab, maka ketika ia menegur anda atau jamaah lainnya, dia akan menggunakan kata “Hajj” bagi laki-laki dan “Hajjah” bagi perempuan. Dan anda tidak akan tahu apa maksudnya namun dia akan memberi kode. Biasanya mengusir dari suatu tempat atau mengajak untuk menuju ke suatu tempat. Yah kebanyakan hal itulah yang mereka biasa lakukan.

Selain bahasa, ada kebiasaan unik lain yang perlu diperhatikan saat berada di tanah suci. Kebiasaan ini bukan hanya ada di kota Mekkah dan Madinah, tapi juga termasuk Jeddah. Bisa jadi kebiasaan ini merupakan aturan dari pemerintah setempat untuk menghormati waktu shalat.

Sesaat menjelang waktu azan biasanya setiap toko, dimana pun ia berada, baik di pasar, ruko, maupun mal langsung tutup dan orang-orangnya tidak terlihat dari depan toko. Bagi yang tidak tutup, ketika ada petugas yang keliling memeriksa, akan langsung ditegur, bahkan pelanggan yang masih berada di sekitar toko juga akan ditegur untuk langsung melaksanakan shalat.

Kira-kira setengah jam setelah waktu azan, atau ketika shalat berjamaah awal waktu di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram berakhir, toko-toko itu pun buka kembali. Kadangkala anda tidak melihat petugas tokonya pergi ke masjid ketika tokonya tutup, tapi begitu anda balik dari masjid, mereka sudah membuka tokonya kembali.

Jadi tutup toko bukan berarti petugas atau pemilik tokonya ikut shalat di masjid, tapi itu hanya sekedar mematuhi aturan pemerintah setempat.

Pernah saya waktu di hari kepulangan saat di Mekkah pergi ke toko penjual makanan di lantai bawah gedung tempat saya menginap. Kebetulan saya turun pas sedang azan. Saya temui tokonya sudah tutup. Lalu saya menunggu saja di depan tokonya karena ada meja dan tempat duduk untuk menunggu di sana.

Begitu seorang petugas keamanan gedung keliling melakukan inspeksi dan menemukan saya berada di meja sambil menunggu, padahal sudah masuk waktu shalat, saya pun ditegurnya dan langsung diusir dari situ untuk segera melaksanakan shalat. Orang lain yang juga berada di situ pun ditegurnya tanpa pandang bulu.

Terpaksa saya kembali ke hotel terlebih dahulu, shalat di kamar (karena sudah keburu Tawaf Wada’ di pagi harinya, sehingga tidak lagi shalat di Masjidil Haram), dan kembali lagi ke toko penjual makanan setelah mengetahui bahwa shalat berjamaah di masjid sudah selesai.

Hebatnya, jam buka toko ini dimulai sejak berakhirnya shalat subuh. Hal ini berlaku untuk hampir semua toko yang berada di lingkungan masjid, baik di Mekkah maupun Madinah. Toko-toko ini akan benar-benar tutup tidak lama setelah shalat isya berakhir. Pukul 8 malam lewat sedikit biasanya sudah pada tutup, kecuali toko-toko di dalam mal yang tutup sekitar pukul 9 – 10 malam.

Kalau anda kagum dengan kebiasaan toko yang tutup saat azan, maka anda akan sangat terkejut ketika melihat pelayanan dari petugas hotel yang anda tempati. Kenapa bisa terkejut?

Selama 3 hari di Madinah dan 4 hari di Mekkah, di hotel bintang apa pun anda, tidak ada satupun petugas hotel yang datang untuk melakukan pembersihan, perapihan, atau sekedar mengganti atau menambah peralatan mandi atau air minum mineral. Padahal mereka ada jadwal keliling kamar untuk melakukan hal tersebut. Namun bila anda tidak berada di kamar, mereka akan melewatkan kamar anda sampai anda datang, baru mereka membersihkan kamar.

Kenapa harus nunggu sampai penghuni kamarnya datang? Biasanya mereka mengharapkan tips dari anda, sebesar 5 – 10 Real. Jika diberikan uang, maka kerjanya benar. Jika tidak diberikan uang, maka tidak dikerjakan.

Jadi bila anda sangat sibuk dan hanya berada di kamar seperlunya selama berada di Madinah dan Mekkah, maka siap-siap, tidak ada yang akan membersihkan kamar anda selama berada di sana. Malah untuk minta sesuatu ke front desk, misalkan anda meminta handuk yang kurang disediakan di kamar, anda harus memintanya berkali-kali sampai handuk itu benar-benar datang. Kecuali ya tadi, kebetulan petugasnya lewat, namun anda harus rela memberinya tips karena usahanya tersebut.

Untuk amannya saat persiapan dari rumah, silakan bawa juga peralatan mandi secukupnya dan handuk kecil untuk jaga-jaga handuk dari hotel yang datangnya telat. Daripada anda tidak mandi, mending lakukan persiapan sebelumnya.

Di hotel bintang lima biasanya agak mending sedikit, tapi kebiasaan mengharapkan tips juga tetap ada di sana. Mereka tidak akan beranjak dari tempatnya hingga anda memberikan tips. Kadang mereka minta, kadang mereka tidak minta tapi diam saja gak keluar-keluar dari kamar anda atau tidak beranjak dari luar pintu kamar anda.

Selanjutnya mengenai budaya berpakaian. Di kota suci Mekkah dan Madinah tidak akan ada atau sulit sekali menemukan orang berkeliaran dengan aurat terbuka. Yang perempuan selalu menggunakan jilbab dan yang laki-laki kebanyakan menggunakan gamis. Khusus bagi laki-laki kenapa mereka senang sekali menggunakan gamis ya?

Saya pun mencoba membeli gamis saat perjalanan umroh pertama saya. Yang saya rasakan saat menggunakan gamis adalah, gamis mampu menolak panas yang masuk ke tubuh saya. Toh gamis menutupi hampir seluruh tubuh saya kecuali kepala. Tidak ada bekas kebakar di tubuh walaupun matahari bersinar sangat terik dan panas.

Di perjalanan umroh kedua saya, cuaca kebetulan dingin. Dengan menggunakan gamis, dinginnya cuaca tidak terlalu terasa ke tubuh saya. Gamis menahan dinginnya cuaca dan membuat tubuh saya lebih hangat. Sepertinya gamis ini cocok untuk segala cuaca. Saat panas, ia menolak panas dan saat dingin ia menolak dingin.

Tapi jangan senang dulu, itu khusus di tempat yang kelembabannya rendah.

Kalau gamis dibawa ke Indonesia, maka anda akan merasa sangat panas saat hari panas, bahkan keringat mengucur deras karena gamis tersebut menambah panas yang masuk ke dalam tubuh. Seperti berada di sauna.

Ketika dingin, tebalnya gamis yang tidak seberapa tidak terlalu berpengaruh kepada kehangatan tubuh anda. Jadi memang gamis tidak terlalu cocok dipakai untuk iklim Indonesia yang kelembabannya tinggi. Tapi kalau dipakai untuk sekedar shalat berjamaah di masjid tanah air, gamis sangat praktis untuk digunakan.

Ngomongin tentang cuaca, di Saudi Arabia cuacanya sering berubah sesuai bulannya dan tidak seperti di Indonesia yang selalu sama sepanjang tahun. Beberapa tahun terakhir ini, waktu umroh dimulai kira-kira Bulan Oktober setelah berakhirnya musim haji. Nah bulan-bulan akhir tahun itu biasanya cuaca di sana mulai dingin, dan mencapai puncaknya di Bulan Desember menjelang tahun baru.

Setelah tahun baru, cuaca perlahan-lahan naik dan mulai terasa panas di akhir Maret atau awal April. Nanti puncak panasnya setelah selesai bulan puasa, atau bulan Juni dan Juli dan itu artinya menjelang masuknya musim haji.

Perjalanan umroh pertama saya waktu itu berlangsung di akhir Maret hingga awal April 2018. Waktu itu cuaca mulai panas, pernah sampai 40 derajat celcius di siang hari. Walaupun panas, tapi tidak serta merta kita banjir keringat karena kelembaban udaranya sangat rendah, cuma sekitar 40%, dibandingkan di Indonesia yang kelembaban udaranya mencapai 90%.

Pas perjalanan umroh kedua yang berlangsung di awal Januari 2019, cuacanya mirip dengan cuaca puncak. Dingin sekali pada pagi hari dan malam hari, biasa saja saat siang hari.

Di antara Mekkah dan Madinah, cuaca Madinah umumnya lebih dingin sedikit daripada Mekkah. Kalau di Madinah cuacanya 30-35 derajat celcius, maka di Mekkah bisa mencapat 40 derajat celcius. Jika di Madinah 15-20 derajat celcius, maka di Mekkah bisa mencapai 30 derajat celcius.

Bagi laki-laki tak perlu kuatir dengan cuaca, tinggal bermodal gamis untuk menghadapi kedua jenis cuaca sudah cukup. Kalau yang dingin, mungkin ditambah jaket yang agak tebal dikit sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya cuaca sekitar.

Bagi perempuan silakan menyesuaikan dengan kondisi yang ada, karena saya tak pengalaman untuk pakaian yang digunakan perempuan saat umroh, baik umroh pertama maupun umroh kedua.

bersambung ke bagian kesembilan.

Perjalanan Umroh, Ngapain Aja Sih? Bagian 7

Hari Kesembilan: Hari Tiba di Tanah Air

Ketika naik pesawat menuju tanah air, sudah dipastikan bahwa tidak lama setelah take off anda pasti tertidur. Tidur di pesawat adalah kunci apakah anda akan jet lag di esok harinya atau tidak saat sampai di tanah air.

Jika anda berangkat naik pesawat kira-kira abis Maghrib atau Isya, maka begitu naik pesawat satu atau dua jam, anda wajib tidur dan nanti terbangun kira-kira pukul 5 pagi waktu Indonesia barat untuk melaksanakan shalat subuh di pesawat. Bila badan anda fit saat itu, maka esok harinya anda sudah dapat melakukan aktivitas lagi seperti biasa, karena tubuh anda sudah mengatasi jet lag.

Namun bila anda berangkat naik pesawat pas tengah malam, kemudian pesawatnya pun delay saat berangkat, maka dalam waktu Indonesia barat, anda paling cepat tidur pukul 4 atau 5 pagi. Anda bisa langsung tidur, namun cemas akan lewat waktu subuh, atau anda ikuti ritme tubuh anda mengikuti waktu tanah air dan bisa bablas baru bangun pada pukul 10 pagi waktu Indonesia barat di pesawat.

Intinya waktu tidur di pesawat sangat menentukan apakah esok harinya anda masih jet lag atau tidak.

Pengalaman saya waktu umroh pertama, pesawat berangkat menjelang Isya. Setelah menyantap makanan di pesawat untuk pertama kalinya, saya pun tertidur. Kemudian terbangun lagi saat menu makanan berikutnya dan itu tandanya sudah subuh.

Esok harinya saya tidak mengalami jet lag tapi memang sudah terkena flu satu hari menjelang kepulangan dari tanah suci. Saya tidak masuk satu hari untuk bekerja karena flu, bukan karena jet lag.

Pengalaman saya waktu umroh kedua, pesawat berangkat lewat tengah malam. Delay hampir satu jam karena keterlambatan handling bagasi dari pihak airline. Begitu take off saya langsung tertidur dan melewatkan welcome drink dari airline. Dua jam setelahnya, saya dibangunkan untuk mendapatkan menu makanan pertama. Itu adalah dua jam ternyenyak tidur saya di pesawat.

Kemudian saya mencoba untuk tidur kembali di pesawat setelah makan, namun tidak bertahan lama. Tiba-tiba sudah masuk waktu subuh di pesawat. Saya pun shalat dan sejak itu tidur sudah tidak enak lagi. Saya malah sempat membaca sebuah buku selama beberapa jam supaya ngantuk lagi, tapi ternyata tidak ngantuk-ngantuk sampai di tanah air sore harinya.

Pukul 7 malam, saya ngantuk berat di rumah dan tertidur hingga pukul 11 malam. Setelah itu saya tak dapat tidur kembali dan baru benar-benar tidur pukul 2 pagi. Benar saja esoknya saya baru kebangung menjelang pukul 7 pagi dan tidak jadi bekerja karena kesiangan gara-gara jet lag.

Di umroh kedua saya tidak kena flu saat sampai tanah air tapi tetap tak masuk di hari pertama setelah libur karena jet lag. Namun beberapa hari setelahnya saya pun kena flu juga, tapi belum tentu berkaitan dengan perjalanan umroh.

Sampai di bandara Soekarno-Hatta anda akan melewati imigrasi, menunggu bagasi dan pergi ke rumah masing-masing menggunakan kendaraan yang dipilih. Baik kendaraan umum ataupun ada jemputan dari keluarga terkasih.

Jangan lupa tukarkan receiver audio yang anda terima sesaat sebelum keberangkatan pada hari pertama dengan jatah air zam-zam dari pihak travel. Biaya pendaftaran anda pas pertama kali bayar biasanya sudah termasuk jatah air zam-zam sebanyak 5 liter ini. Tapi kalau anda menghilangkan receiver audionya, maka biasanya pihak travel akan tetap memberikan anda air zam-zamnya, namun anda harus mengganti dengan sejumlah uang atas kehilangan receiver audionya.

Bagi yang membawa oleh-oleh dalam jumlah yang sangat banyak atau masif, jangan kuatir. Khusus untuk jamaah umroh tidak ada pengecekan barang-barang saat mau keluar bandara. Bahkan kuisioner membawa barang di atas USD 500 untuk pribadi dan USD 1000 untuk keluarga pun tidak perlu diisi dan diserahkan ke petugas imigrasi di bandara.

Jadi jangan ragu menghabiskan uang real anda di tanah suci. Aman kok dibawa ke tanah air. Mau buat usaha jastip pun aman. Tapi apakah niat kita umroh untuk itu…

Sampai di rumah adalah waktunya mengeluarkan semua oleh-oleh yang anda beli dan juga mencuci baju-baju yang dipakai selama perjalanan umroh yang tak sempat tercuci di sana.

Saya hanya berharap, kebiasaan-kebiasaan saat umroh dapat dipertahankan di tanah air, sehingga mendapatkan umroh yang mabrur dan dosa-dosa diampuni oleh Allah SWT…amin!

Bersambung ke bagian delapan…

Perjalanan Umroh, Ngapain Aja Sih? Bagian 6

Hari Kedelapan: Hari Terakhir

Hari ini adalah hari terakhir anda berada di Mekkah dan malamnya sudah berada di pesawat untuk kembali ke tanah air. Manfaatkan hari terakhir ini untuk melakukan ibadah tahajud dan sempatkan untuk melakukan Tawaf Wada’ atau tawaf perpisahan paling tidak setelah shalat Subuh menjelang Syuruq.

Tawaf Wada’ biasanya difasilitasi oleh travel dengan dipimpin oleh pembimbing umroh. Tinggal sepakati tempat dan waktu sehingga satu rombongan bisa bersama-sama melakukan Tawaf Wada’.

Sehabis melakukan Tawaf Wada’ dan kemudian meninggalkan Masjidil Haram, anda dianjurkan untuk tidak kembali lagi ke Masjidil Haram pada hari itu. Oleh karena itu, pastikan bahwa Tawaf Wada’ adalah ibadah terakhir anda di Masjidil Haram.

Tawaf sendiri memakan waktu sekitar 30 menit hingga 45 menit tergantung ramainya orang yang tawaf pada saat itu. Jadi sempatkan dan puaskan diri anda di Masjidil Haram, sebelum akhirnya meninggalkan masjid di hari kedelapan ini.

Bagi yang belum pernah menangis dari sejak Madinah hingga Mekkah, pada yakinlah, anda pasti menangis setelah selesai melaksanakan Tawaf Wada’. Jadi tak perlu kuatir apakah hati anda adalah hati yang keras karena tidak tergerak sedikit pun saat melihat Ka’bah selama beberapa hari terakhir ini.

Silakan dibuktikan sendiri-sendiri ya! Selamat mewek depan Ka’bah!

Dari pihak travel biasanya menganjurkan untuk mengumpulkan bagasi pukul 9 atau 10 pagi dan check out sehabis zuhur. Untuk yang Tawaf Wada’nya setelah subuh, maka zuhur hari itu sebaiknya tidak lagi di Masjidil Haram. Namun bagi yang dapat mengatur agar Tawaf Wada’nya sebelum Zuhur, misalkan pukul 10 atau 11 pagi, maka dia dapat meninggalkan Masjidil Haram bada’ shalat Zuhur.

Kompensasinya sebelum pukul 9 atau 10 pagi, seluruh barang-barangnya sudah siap diangkat dan tidak ada lagi yang tertinggal.

Pun bila jarak hotel agak jauh dari Masjidil Haram akan ada kendala tersendiri, di mana waktu perjalanan setelah zuhur yang agak jauh dari masjid kemungkinan memperlambat kepulangan seluruh rombongan.

Jadi mohon manfaatkan waktu secara bijak di hari terakhir ini.

Setelah check out, maka biasanya dari travel akan mengantarkan anda ke Jeddah dan melontar atau menghabiskan sisa uang Real yang masih ada di saku atau tas kita. Tempatnya di Jeddah bernama Corniche, yaitu sebuah tempat pembelanjaan yang ada ruko dan malnya.

Awal tahun 2000-an, tempat ini sangat mentereng kata rekan yang pernah ke Jeddah di tahun-tahun tersebut. Namun di tahun 2018 dan 2019, kondisinya tidak lebih baik dari Pasar Elektronik Glodok di Jakarta. Sisa-sisa kemewahan masih tersisa, tapi secara tampilan luar pasarnya sudah terlihat kusam.

Harga di Corniche tidak terpaut banyak dengan harga pasar saat di Madinah maupun di Mekkah. Kadang lebih mahal, kadangkala lebih murah. Mahal dan murahnya rata-rata juga tidak sampai lebih dari 10 Real. Bagi yang tidak sempat beli oleh-oleh sebelumnya, tempat ini bisa jadi alternatif yang cukup baik untuk berburu oleh-oleh. Paling nanti kesulitannya saat packing, karena yang dibeli di Corniche akan sangat susah untuk ditempatkan ke dalam koper kembali, sehingga terpaksa menggunakan packing tambahan yang harus diamankan dengan secured wrap dan terkena tambahan biaya 25 Real per wrap di layanan wrap bandara.

Setelah berada di Corniche sekitar dua jam maka dari pihak travel akan langsung mengarahkan anda ke bandara. Bandaranya di Bandara International King Abdul Aziz. Bagi yang menggunakan Saudi Airline, maka ada terminal khusus Saudia yang disediakan di bandara. Untuk airline lain biasanya menggunakan terminal khusus haji dan umroh.

Perbedaan terminal Saudia dan terminal haji dan umroh kebanyakan pada layanan imigrasi dan ruang tunggu bandara. Bagi yang menggunakan terminal haji, maka pengalaman saat kedatangan yang harus menunggu kurang lebih satu jam untuk melewati imigrasi dapat terulang kembali. Selain itu ruang tunggu yang kurang manusiawi karena hanya terdapat sedikit tempat duduk dan toilet daripada total penumpang, membuat banyak orang yang mengemper di lantai ruang tunggu.

Berbeda dengan terminal Saudia, ruang tunggunya dihiasi oleh berbagai macam belanjaan free duty untuk menghabiskan sisa Real yang benar-benar belum habis di kantong. Di luar pintu check in, ada juga makanan siap saji Al-Baik yang terkenal tersebut. Artinya menghabiskan waktu di bandara ini cukup menyenangkan.

Loket imigrasinya pun hampir terisi semua sehingga antrian tiap loket tidak terlalu panjang dan lama. Pokoknya kalau menggunakan terminal Saudia, pengalaman saat kedatangan rasanya seperti terlupakan.

Sebelum naik ke pesawat, anda pun diarahkan untuk naik bus besar yang akan mengantarkan anda menuju pesawat yang akan anda naiki.

Sampai ketemu lagi tanah suci! Ijinkan kami pulang kembali ke tanah air tercinta!

bersambung ke bagian ketujuh…

Perjalanan Umroh, Ngapain Aja Sih? Bagian 5

Hari Kelima hingga Ketujuh: Fokus Masjidil Haram dan Kota Mekkah

Ada yang berbeda dengan shalat subuh pertama di Masjidil Haram pada dua perjalanan umroh saya. Kenapa? Karena kebetulan subuh pertama saya jatuh pada hari Jumat. Subuh di hari Jumat di Masjidil Haram (dan mungkin di Masjid Nabawi, saya belum pernah hari Jumat di Masjid Nabawi), rakaat pertamanya pasti langsung sujud saat dari baca ayat, lalu kemudian berdiri lagi dan imam meneruskan membaca ayat.

Sujud itu disebut sujud tilawah, dimana imam sengaja membaca surat yang ada ayat sajadahnya dan begitu selesai membaca ayat sajadah tersebut imam langsung melakukan sujud tilawah. Setelah itu imam kembali berdiri dan meneruskan bacaan suratnya sampai selesai, dan kemudian ruku.

Di rakaat kedua tidak ada sujud tilawah lagi dan tidak pernah ada qunut baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi untuk shalat subuh.

Kalau anda merasa bahwa Masjid Nabawi itu masjid yang sangat besar, maka Masjidil Haram jauh lebih besar lagi. Di samping itu Masjidil Haram bertingkat-tingkat. Ada tiga lantai dan satu basement. Ada juga pelataran wakaf yang berpusat di Ka’bah.

Selain itu jalan menuju Masjidil Haram tidak serata Masjid Nabawi. Banyak tanjakan dan turunan untuk menuju ke sana. Bahkan banyak jalan raya yang harus terpakai pejalan kaki saat menjelang waktu shalat dan saat setelah shalat. Di Masjid Nabawi pengaturan jalannya lebih baik. Alur antara pejalan kaki dan mobil dibuat bersilangan sehingga tidak mengganggu antara yang satu dengan yang lainnya.

Di dekat Masjidil Haram, jalanan satu arah dengan arah pejalan kaki. Sehingga ketika waktu shalat tidak ada mobil yang dapat melintas di jalanan tersebut karena tertutup pejalan kaki. Baik sebelum waktu shalat maupun sesudahnya.

Artinya ketika mau ikut shalat di Masjidil Haram menggunakan kendaraan, sebaiknya datang jauh sebelum waktunya dan pulang jauh setelah waktunya. Untuk amannya ambil waktu 30 menit sebelum dan sesudah sebagai patokan. Khusus untuk shalat Jumat, waktunya bisa 1 jam atau 1 ½ jam sebelum dan sesudahnya.

Bedanya lagi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah dari jarak hotel. Jika dekat Masjid Nabawi jarak hotel bintang 3 banyak yang berada di radius 200 meter dari pintu luar masjid, di Masjidil Haram, hotel bintang 4 pun berada di radius 300-500 meter dari masjid. Memang tidak terpaut terlalu jauh, namun karena jalannya menanjak dan seringkali kalau telat datang jalurnya ditutup untuk pejalan kaki dan harus memutar, makanya ketika berada di Mekkah khusus untuk orang yang sudah sepuh, sebaiknya memilih hotel bintang 5 yang sangat dekat dengan masjid.

Hotel bintang 5 biasanya terletak berdekatan dengan masjid, ada yang langsung di seberang jalan masjid dan ada yang di dalam mal. Artinya lumayan terlindungi dari penutupan jalan dari pihak keamanan setempat walaupun baru keluar hotel menjelang azan dan sejelek-jeleknya shalat di pekarangan masjid. Masih dapat mendengar suara imam dan insya Allah masih dianggap shalat di Masjidil Haram yang pahalanya 10 ribu kali lipat pahala shalat di tempat lain.

Di hari pertama setelah melakukan ibadah umroh dari Madinah ke Mekkah, biasanya digunakan jamaah sebagai hari istirahat. Tidak ada acara khusus dari pihak travel pada hari tersebut. Jamaah hanya perlu menguatkan kaki dan badan yang sudah lelah karena melaksanakan ibadah umroh hingga dini hari.

Diharapkan jamaah harus segera kembali fit sedia kala menjelang esok harinya. Karena di hari tersebut akan difasilitasi untuk melaksanakan umroh kedua.

Iya, umroh bisa juga dilakukan dari Mekkah, yaitu dengan mengambil Miqot di Ji’ronah. Sebelum ke Ji’ronah biasanya didahului dengan jalan-jalan di kota Mekkah dan sekitarnya dengan tujuan sebagai berikut

  1. Yang bus berhenti: Jabal Tsur, Jabal Rahmah dan Masjid Ji’ronah
  2. Yang bus tidak berhenti: Jabal Nur, Arafah, Mina, Musdalifah, Masjid Jin dan Pemakaman Ma’la

Kalau umroh bisa dilakukan dari Mekkah, lalu buat apa kita capek-capek dan lelah-lelah menggunakan ihram dari Madinah?

Sebenarnya ini pertanyaan bagus. Tapi aturan ibadah umrohnya tidak bisa langsung dari Mekkah kalau mau umroh, kecuali anda adalah pemukim Mekkah.

Jadi kalau anda berada dari luar Mekkah, maka ada 4 tempat yang harus dilewati sebagai tempat Miqot. Dua dari arah utara, satu dari arah selatan, satu dari arah timur. Dari arah barat tidak ada, tinggal menyesuaikan, karena Mekkah lebih dekat ke arah pantai di sebelah barat yang dikenal dengan nama kota Jeddah. Sayangnya Jeddah bukan merupakan Miqot yang ditetapkan oleh Rasulullah.

Dua dari arah utara yang dimaksud adalah dari Madinah dan dari Syam (dekat Palestina). Dari arah timur adalah dari Riyadh (ibukota Saudi Arabia) dan dari arah selatan artinya dari Yaman. Nah kalau Ji’ronah hanya dapat digunakan oleh orang yang sudah bermukim di Mekkah, paling tidak satu hari bermukim di kota Mekkah.

Bagaimana bila kita tidak ikut umroh pas dari Madinah dan ikutnya pas umroh dari Ji’ronah?

Untuk menjawab itu ilmu saya belum sampai. Silakan ditanyakan kepada guru, pembimbing atau ulama yang anda percayai. Wallahu A’lam Bishawab.

Dari Masjid Ji’ronah bagi yang akan melakukan umroh kedua, sifatnya opsional dan biasanya digunakan untuk mengumrohkan orang lain atau dikenal dengan umroh badal. Biasanya kesempatan umroh kedua ini digunakan untuk mengumrohkan orang tua atau kerabat yang sudah meninggal. Syarat untuk membadalkan umroh adalah yang dibadalkan harus sudah meninggal atau masih hidup tapi sudah tidak mampu lagi secara fisik untuk melakukan umroh, misalnya sedang koma atau sedang sakit yang tidak ada harapan sembuh. Sedangkan bagi yang membadalkan sudah pernah melakukan ibadah umroh sebelumnya.

Prosesinya sama dengan umroh pertama dari Madinah, namun kali ini shalat sunnah ihram dan niatnya dari Masjid Ji’ronah. Perjalanan menuju Masjidil Haramnya lebih sebentar, hanya sekitar setengah jam.

Umroh yang ini biasanya dilakukan setelah shalat Zuhur. Tawaf harus selesai sebelum Ashar dan Sa’i dan Tahalul harus sudah dilakukan sebelum Maghrib. Kalau jalan-jalan di hari itu dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, mungkin sebelum Ashar sudah dapat diselesaikan umrohnya.

Bedanya dengan umroh pertama, di umroh kedua saat Tawaf akan menghadapi cuaca yang sangat panas. Ini karena Tawaf dilakukan setelah shalat Zuhur di mana matahari masih panas. Waktu umroh pertama kan Tawafnya dilakukan di malam hari, jadi tidak terlalu panas.

Untuk Sa’i dan Tahalul tidak banyak berbeda dengan umroh pertama karena berada di dalam ruangan. Iya, walaupun Sa’i berjalan dari bukit Shofa ke bukit Marwah, tapi sepanjang perjalanan anda selalu berada di ruangan tertutup.

Ada pendingin ruangannya, walaupun gak dingin-dingin amat. Dan yang pasti terlindung dari teriknya sinar matahari, kecuali di beberapa tempat yang pintunya terbuka, ada cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam.

Biasanya setelah melaksanakan umroh kedua, bagi laki-laki adalah hal yang sangat spesial. Kenapa spesial? Karena di saat inilah rambutnya bakal dicukur habis, sehabis-habisnya.

Ini karena tahalul sampai botak lebih afdol daripada hanya memotong beberapa helai rambut. Bagi yang sangat jarang foto-foto, saat-saat inilah momen terbaik untuk foto-foto sekaligus kenang-kenangan botak bersama.

Keesokan harinya adalah hari bebas namun bila menginap dekat dari Masjidil Haram, biasanya dari pihak tur akan mengadakan ziarah mengelilingi Masjidil Haram dan mengunjungi rumah tempat Rasulullah dilahirkan. Artinya rumah yang dikunjungi adalah rumah ibu Rasulullah, Aminah.

Rumah Aminah saat tulisan ini dibuat, dicat warna kuning di keseluruhan bangunannya. Terletak di antara jalan keluar bukit Marwah dengan gerbang Ismail. Sebenarnya banyak tempat bersejarah di antara kedua tempat tersebut. Ada rumah Khadijah yang sudah tidak berbekas karena sudah jadi pekarangan masjid, namun diberikan tanda berupa gundukan. Ada rumah Arqam, yang biasa dikenal dengan Darul Arqam, tempat Rasulullah membina sahabat-sahabat di awal-awal perkembangan Islam. Rumah Arqam juga tidak ada bekasnya hanya tinggal pertanda berupa tiang di antara kedua lokasi tersebut. Dan juga yang cukup bersejarah, tapi di jaman modern, letak dari crane yang terjatuh ke lokasi tawaf beberapa tahun yang lalu, yang menyebabkan ratusan jamaah umroh syahid dan luka-luka, juga ada di antara kedua tempat tersebut.

Setelah itu akan diajak oleh pembimbing umroh untuk mencoba menembus Hijir Ismail bila tidak terlalu ramai saat itu. Sayang sekali pada saat ziarah dan kunjungan ke Hijir Ismal ini saya tidak ikut. Mungkin lain kali kalau ada rejeki kembali untuk umroh, saya akan ikut ziarah ini.

Hari ketujuh ini juga merupakan hari terakhir dimana anda secara penuh berada di Mekkah, khususnya di Masjidil Haram. Ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan di hari ini

  1. Belanja, menghabiskan uang real yang sudah dipersiapkan sekaligus membelikan oleh-oleh untuk keluarga, kerabat dan handai taulan.
  2. Kunjungan ke Jabal Tsur atau Jabal Nur. Biasanya orang lebih memilih Jabal Nur, karena dari sana bisa langsung terlihat Masjidil Haram, walaupun Ka’bahnya sudah tidak lagi terlihat. Dari sini bisa merasakan sendiri bagaimana Rasulullah pada jaman itu menyendiri di gua hira dan masih bisa melihat Ka’bah dari kejauhan. Enaknya ke tempat ini menjelang sore atau malam hari. Untuk ke sana harus menggunakan transportasi mandiri, bisa taksi atau menumpang kenalan yang ada di Mekkah. Jika tidak tahu, mungkin ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada pembimbing umroh supaya lebih mudah diarahkan. Khusus kunjungan ini diperlukan fisik yang prima, karena perjalanan ke atas memerlukan waktu satu hingga dua jam perjalanan naik tangga. Bolak-balik bisa sampai empat jam perjalanan bahkan lebih. Yang fisiknya biasa saja atau kurang prima, lebih baik tidak mengunjungi tempat ini.
  3. Mengunjungi Habib Rizieq Shihab. Enaknya kalau di rombongan umroh ada yang berafiliasi dengan FPI, Ulama atau Habib, karena lebih mudah untuk berkoordinasi dan mengunjungi ulama besar Umat Islam Indonesia tersebut. Kabarnya untuk mencapai rumahnya bolak-balik, tarif taksinya sekitar 150 Riyal. Agak jauh rumahnya dari Masjidil Haram, tapi masih di daerah Mekkah.
  4. Lebih sering berada di Masjidil Haram dan berusaha berdoa di tempat-tempat mustajab. Mumpung, karena ini adalah malam terakhir di Mekkah. Belum tentu anda balik lagi ke tempat yang suci ini di kemudian hari.

bersambung ke bagian keenam…

Perjalanan Umroh, Ngapain Aja Sih? Bagian 4

Hari Keempat: Hari Ibadah Umroh

Di hari keempat inilah perjalanan umroh yang sesungguhnya. Hari ini adalah hari terberat dari seluruh perjalanan umroh yang anda lakukan. Oleh karena itu persiapkan fisik secara baik menyambut hari yang sangat bersejarah ini.

Pada malam sebelumnya sudah diinformasikan bahwa bagasi sudah harus dipersiapkan sejak pukul 9 atau 10 pagi agar memudahkan saat dipindahkan ke bus di siang harinya. Bahkan sebelum itu, yaitu menjelang Maghrib, sudah diadakan manasik dari pembimbing umroh, mengingatkan apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat sudah mengenakan ihram esok harinya termasuk teknis-teknis pelaksanaan umroh dari awal hingga selesai.

Hari ini juga merupakan hari dipakainya ihram bagi para peserta umroh. Bagi perempuan pakaian ihram dianjurkan sudah digunakan sebelum Zuhur, sehingga ketika Zuhur di Masjid Nabawi sudah menggunakan ihram.

Bagi laki-laki, ihram sudah mulai digunakan juga sebelum Zuhur, namun masih ada keleluasaan bagi laki-laki untuk masih menggunakan pakaian dalam pada saat Zuhur di Masjid Nabawi.

Biasanya dianjurkan untuk menjamak shalat Zuhur dan Ashar ketika berada di Masjid Nabawi.

Sebelum shalat Zuhur, peserta dianjurkan untuk mandi sunnah ihram dan memakai wangi-wangian di badan sebelum memakai ihram.

Peserta akan mulai check out dari hotel sehabis makan siang menuju Miqot atau tempat mulai berihram di Masjid Bir Ali.

Di Masjid Bir Ali semua peserta diharapkan sudah menggunakan ihram secara penuh, kemudian shalat sunnah ihram dua rakaat di dalam masjid tersebut. Setelah semua selesai melaksanakan shalat sunnah, maka peserta biasanya diajak ke dalam bus kembali dan mulai berniat umroh di dalam bus.

Mulai saat itulah larangan ihram berlaku dan bagi yang melanggar akan terkena dam atau denda memotong satu ekor kambing.

Bus akan melakukan perjalanan ke Mekkah dengan waktu perjalanan 5 hingga 6 jam perjalanan. Ada opsi untuk berhenti di rest area di tengah-tengah perjalanan ke Mekkah, namun tidak semua travel menggunakan opsi tersebut. Opsi ini untuk memberikan kesempatan kepada peserta untuk melaksanakan shalat Jamak Maghrib dan Isya di rest area tersebut.

Ada juga travel yang menyarankan agar shalat Jamak Maghrib dan Isya-nya nanti saja di Masjidil Haram sesaat sebelum mulai umroh. Silakan ditanyakan kepada masing-masing pembimbing umroh mengenai lokasi shalat Jamak Maghrib dan Isya pada hari umroh ini.

Biasanya dari Masjid Bir Ali peserta bertolak ke Mekkah mulai pukul 3 siang. Nanti sampai hotel di Mekkah sekitar pukul 8 atau 9 malam. Dengan tambahan waktu check in hotel sekitar satu hingga dua jam, maka kunjungan pertama ke Masjidil Haram baru dilakukan sekitar pukul 11 malam.

Pukul 11 malam ini adalah waktu dimulainya prosesi ibadah umroh selain ihram, yaitu Tawaf, Sa’i dan Tahalul. Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali dengan satu kelilingnya sekitar 200 – 300 meter tergantung sejauh mana anda jarak anda dari pusat Ka’bah. Sa’i adalah berjalan dan diiringi oleh lari-lari kecil bolak-balik antara Shofa dan Marwah sebanyak 7 kali yang jarak antara Shofa dan Marwah 400 – 500 meter. Total perjalanan yang ditempuh seseorang yang melakukan umroh adalah sekitar 5 km dan itu dilakukan mulai pukul 11 malam.

Oleh karena itu ketika perjalanan di bus menuju Mekkah, peserta diharapkan beristirahat dengan baik dalam bus agar tidak terlalu ngantuk atau lelah saat melakukan prosesi umroh di Masjidil Haram.

Prosesi ibadah umroh sendiri tidak akan dibahas di sini, karena dapat dibaca dari tautan berbagai sumber.

Jangan lupa gunakan receiver audio yang anda terima sesaat sebelum check in di bandara Soekarno-Hatta di hari keberangkatan. Receiver ini sangat berguna saat Tawaf dan Sa’i karena anda akan mendengar apa pun yang diucapkan pembimbing umroh dan anda tinggal mengikuti apa yang diucapkannya. Pembimbing biasanya sudah hapal doa-doa saat tawaf dan sa’i, tapi tetap saja ada yang menggunakan buku saku yang diberikan pihak travel sebagai referensi. Itulah kenapa saya bilang di awal, buku saku layak untuk dibaca tapi tidak perlu dihapalkan, karena saat prosesi umroh yang sesungguhnya, anda akan mendapatkan receiver dimana anda dengan mudah bisa mengikuti doa-doa yang diucapkan pembimbing umroh.

Jika ibadah umroh dimulai sejak pukul 11 malam, maka diharapkan seluruh sesi ibadah akan selesai sebelum pukul 3 pagi. Jangan lupa, pukul 5 hingga 5.30 pagi adalah waktu Subuh di Mekkah. Artinya sejak dari selesainya ibadah umroh, Lelah, pegal-pegal, kotor, dan tak nyaman, hanya punya waktu dua jam untuk bersih-bersih dan kembali lagi ke Masjidil Haram dengan menggunakan pakaian shalat biasa.

Bisa juga tetap menggunakan ihram di Masjidil Haram sambil menunggu waktu Subuh. Di sini lah jauh dekatnya hotel dari Masjidil Haram sangat menentukan.

Kalau jarak ke hotel dari Masjidil Haram kurang dari 15 menit, maka balik ke hotel, bersih-bersih dan balik lagi ke Masjid untuk Subuh adalah pilihan yang tepat. Namun kalau jaraknya lebih dari 15 menit, apalagi sampai lebih dari 30 menit, maka menunggu di Masjidil Haram hingga waktu Subuh adalah pilihan yang tepat.

Biasanya saat meninggalkan Masjidil Haram dengan masih menggunakan pakaian ihram bagi yang laki-laki, akan banyak tawaran dari penduduk setempat untuk cukur botak. Memang kabarnya untuk tahalul hanya dengan memotong beberapa helai rambut sudah cukup. Namun botak lebih afdol. Makanya tidak aneh bila ada yang baru balik dari umroh rambutnya botak. Mengambil dalil bahwa botak lebih afdol tersebut. Tapi jangan terburu-buru tergiur dengan tawaran botak. Karena ada kemungkinan ada umroh kedua yang ditawarkan oleh travel. Silakan ditanyakan terlebih dahulu ke muthawif atau pembimbing umroh, karena bila sudah keburu botak licin, di umroh kedua mau potong rambut sebelah mana lagi?

Untuk orang tua yang tidak kuat berjalan untuk prosesi ibadah umroh biasanya sudah harus memberitahukan muthawif dan pembimbing umroh satu hari sebelumnya agar pihak travel dapat berkoordinasi dengan perwakilan di Mekkah untuk menggunakan jasa kursi roda. Biaya penggunaan jasa kursi roda untuk umroh, mulai dari hotel, prosesi umroh hingga balik ke hotel lagi adalah 300 Riyal atau untuk kurs saat saya menulis ini sekitar Rp 1.2 juta.

Yang mendorong kursi roda adalah orang Indonesia yang tinggal di Mekkah, jadi tak perlu kuatir bila dia mendorongnya terlalu cepat. Saat Tawaf menggunakan kursi roda ada dua pilihan tempat. Di pelataran Tawaf saat tidak terlalu banyak orang yang berada di pelataran, atau di lantai 1 atau 2 Masjidil Haram. Namun bila di lantai 1 atau 2, jarak satu putaran Ka’bahnya meningkat drastis hingga hampir 1 km per satu putaran.

Untuk Sa’i menggunakan kursi roda, ada jalur khusus yang sudah disediakan oleh masjid dan berbeda dengan jalur orang yang tidak menggunakan kursi roda.

Yang pasti bila ada keluarga yang menggunakan kursi roda dengan menggunakan jasa ini, prosesi umrohnya tersendiri, terpisah dari rombongan. Nanti hanya dapat kabar dari yang bersangkutan bahwa dia sudah berada di hotel kembali setengah jam atau satu jam lebih cepat daripada rombongan.

Bila yang membawa kursi roda sendiri bisa menggunakannya di Masjidil Haram, namun tetap harus terpisah dalam melakukan prosesi umrohnya. Bisa hemat 300 Riyal, tapi harus sudah tahu prosesi umroh secara lengkap karena tidak akan ada pembimbing yang akan menemani.

bersambung ke bagian kelima…