Ladang Pahala saat Suntik Vaksin Meningitis di Rumah Sakit Fatmawati

Minggu lalu saya baru saja melaksanakan suntik vaksin meningitis di Rumah Sakit Fatmawati. Apa kesannya? Mudah, enak dan nyaman!

Kok bisa? Katanya harus antri sejak subuh ya mas?

Sekarang sih antri gak perlu dari subuh, yang penting sebelum pukul 7 pagi sudah ada di teras Gedung Griya Husada Rumah Sakit Fatmawati. Nanti begitu pukul 7 tepat, satpam akan membuka pintu gedung dan dimulailah yang namanya antri.

Datang duluan bukan berarti bisa antri duluan. Datang belakangan bukan berarti antri belakangan. Di sini lah ladang pahala pertama untuk kita. Jika kita serabat-serobot, ya mungkin ladang pahala gak berhasil diperoleh. Jika santai aja, mempersilahkan orang lain terlebih dahulu, mungkin ladang pahala sedikit demi sedikit didapatkan.

Loh kenapa ladang pahala? Apa hubungannya? Kan yang namanya antri itu wajar.

Betul sekali. Antri itu wajar. Namun ada ladang pahala dalam antrian tersebut. Apakah itu?

Di Rumah Sakit Fatmawati, untuk mendapatkan antrian layanan pendaftar atau pasien harus mengisi data pribadi sendiri di tiga komputer yang sudah disediakan. Isi mulai dari nomor induk kependudukan, nama, nomor paspor, tanggal lahir, jenis kelamin, dan biodata lain secara mandiri.

Ada yang tidak bisa sama sekali. Ada yang lambat sekali dalam mengisi. Ada yang salah melulu ngisinya. Kesel? Wajar kalau kesel. Oleh karena itulah saya sebut ada ladang pahala yang tersedia di sini.

Tawarkan diri tuk mengisi biodata pendaftar suntik vaksin meningitis. Bagi yang terbiasa menggunakan komputer, satu isian mungkin hanya butuh kurang dari dua menit. Malah mungkin bisa kurang dari satu menit. Dengan menawarkan diri menjadi pengisi biodata, maka antrian akan lebih cepat mengalir, dan orang-orang yang tidak mengerti cara mengisi biodata akan terbantu.

Ladang pahala kan? Tapi ada syaratnya. Mudah saja syaratnya, yaitu harus mendaftar dulu sendiri, paling tidak sebelum pukul 8 sudah memasukkan berkas dan nomor antrian ke lantai 3 gedung. Persayaratan berkas pun hanya fotokopi paspor. Saat mendaftar kita mendapatkan nomor antrian dan surat pernyataan setuju menerima tindakan dari rumah sakit. Jadi ketiga berkas tersebut harus segera diserahkan ke bagian pendaftaran suntik meningitis di lantai 3.

Setelah itu balik ke lantai dasar, dan tawarkan bantuan kembali untuk mengisi biodata pendaftar paling tidak sampai pukul 9 kurang 15 menit. Selanjutnya naik kembali ke lantai 3 untuk menunggu panggilan suntik.

Kenapa pukul 9 kurang? Karena suntik baru dimulai pukul 9. Gedung dibuka sejak pukul 7, pendaftaran diinput sejak pukul 8, suntik dimulai pukul 9. Maka itu ladang pahala hanya berlangsung sebelum pukul 9…kecuali kita tidak ada urusan lain hari itu, mungkin bisa memanfaatkan ladang pahala hingga siang hari.

Pukul 9 dimulailah suntik-menyuntik. Peserta dipanggil per batch dengan 10 orang tiap batchnya. Sepuluh orang itu jenis kelaminnya sama ya. Makanya biarpun nomor kita puluhan, bisa jadi kita mendapatkan panggilan di batch pertama, kedua atau ketiga. Kan jumlah pria dan wanita belum tentu jumlahnya berimbang, maka itu bisa dipanggil cepat, atau nunggunya cukup lama.

Saat dipanggil per batch 10 orang, maka kita akan berhadapan dengan seorang dokter dan seorang perawat. Dokter akan menjelaskan mengenai manfaat suntik meningitis dengan masa manfaat dua tahun, efektif dua minggu sejak disuntik. Oleh karena itu jika mau melaksanakan umroh atau haji, diharapkan suntik paling tidak tiga minggu sebelumnya agar manfaat vaksin lebih optimal.

Bagaimana dengan suntik vaksin influenza? Bisa, tapi harus menunggu satu minggu sejak vaksin meningitis. Jadi yang mau sekalian vaksin influenza harus balik lagi yah minggu depannya.

Selesai suntik yang hebatnya cepat sekali dan gak terasa sakit sama sekali, kita harus membawa seluruh berkas ke kasir untuk pembayaran. Selesai pembayaran, kita kembali ke bagian pendaftaran suntik untuk mendapatkan buku kuning tanda kita sudah menyelesaikan suntik vaksin meningitis.

Sudah deh. Dari mulai suntik hingga menerima buku kuning paling-paling setengah jam hingga satu jam menuggunya. Enaknya tempat menunggunya nyaman, tempat duduknya pun banyak. Jadi jangan kuatir menunggu berdiri dan kepanasan.

Oh iya, di Rumah Sakit Fatmawati suntik vaksin meningitis juga buka di hari Sabtu loh….tapi kata satpamnya antriannya lebih banyak.

Saran saya, untuk masih mendapatkan kenyamanan, datang di hari biasa sebelum pukul 8 pagi. Maksimal pukul 11 kita sudah mendapatkan si buku kuning bukti kita telah divaksinasi. Bila datang pukul 7 pagi, mungkin sebelum jam 10 sudah dapat si buku kuning.

Pilihan tergantung kita, termasuk memanfaatkan atau tidak ladang pahala yang tersedia di sana.

Mengurus Paspor itu Mudah, Jika dan Hanya Jika…..

Mengurus paspor itu sudah sangat mudah saat ini. Datang ke kantor imigrasi hanya perlu dua kali. Datang pertama kali, menunggu, wawancara, foto dan bayar. Datang kedua kali tinggal ambil paspor. Tidak perlu menunggu lama dan tempat nunggunya pun nyaman. Ruangan ber-AC, tempat duduk menunggu banyak dan nyaman.

Sudah sama sekali berbeda dengan mengurus paspor tujuh tahun lalu saat saya bercerita pengalaman saya di sini.

Mudah sekali mengurus paspor saat ini. Bahkan jika hanya perpanjang paspor, walaupun paspor lama sudah lama mati, persyaratan yang perlu dibawa hanya dua. Fotokopi KTP dan fotokopi paspor lama. Tentu KTP dan paspor lama yang asli juga perlu dibawa. O iya, KTP-nya dah harus e-KTP ya, kalau belum ya gak bisa. Continue reading

Perpanjang STNK 5 Tahunan : Sudah Keren tapi Sayang Masih ada Pungli

Awal Bulan Februari 2018 adalah tepat 5 tahun umur STNK motor saya. Kalau nunggu Bulan Februari bakal telat nanti, karena kebetulan kerjaan saya akhir-akhir ini sedang banyak. Takut lupa!

Oleh karena itu hari Sabtu, 13 Januari 2018 kemaren, saya pun perpanjang STNK motor saya di Polda Metro Jaya. Saya sampai di tempat sekitar pukul 08.40. Langsung menuju tempat esek-esek nomor rangka dan nomor mesin.

Begitu sampai di tempat esek-esek, sudah banyak petugas berseragam (bukan polisi ya, seragamnya hitam-hitam mirip seragam jurnalis salah satu televisi swasta terkenal) yang siap sedia untuk meng-esek-esek motor saya. Saya diarahkan oleh salah satu petugas untuk berhenti di salah satu spot untuk motor.

Petugas yang membantu saya sangat cekatan. Tidak sampai dua menit motor saya sudah selesai diesek-esek. Saya pun diberikan formulir esek-eseknya sambil petugas tersebut menyebut sebuah nominal.

“Sepuluh ribu aja pak.” Katanya.

Saya segera merogoh kantong saya dan memberikan uang sepuluh ribu kepadanya tanpa saya mendapatkan tanda terima berupa kuitansi atas pembayaran tersebut. Dalam hati saya berkata, “Masih ada pungli ya di jaman now.”

Rupanya permintaan sepuluh ribu itu lumrah, karena petugas lain yang memberikan jasa esek-esek ke motor sebelah saya juga ngomong hal yang sama.

Ya sudah, saya mah ok aja. Toh cuma sepuluh ribu dan memang kerjanya cepat kok.

Selanjutnya saya diarahkan menuju loket dua di dekat situ untuk kasih berkas formulir esek-esek dan memarkir motor saya untuk menunggu panggilan dari petugas pemeriksa berkas.

Setelah memarkir motor dan kembali ke tempat tersebut, saya menunggu sekitar dua menit lalu petugas di loket lima memanggil saya dan memberikan formulir esek-esek yang sudah dibumbui cap dan tanda tangan kepada saya.

Selajutnya saya diarahkan untuk ke lantai empat gedung Samsat Polda Metro Jaya, karena di lantai itulah tempat layanan perpanjangan STNK untuk roda dua.

Sampai di lantai empat saya langsung mengambil formulir permohonan dan mengisinya. Lalu antri untuk penyerahan berkas. Ada dua antrian di situ, antrian perpanjangan STNK tahunan yang panjang dan antrian perpanjangan STNK lima tahunan yang lebih pendek. Saya pilih antrian yang lebih pendek karena memang saya perpanjang STNK lima tahunan.

Setelah semua berkas saya berikan, saya pun menunggu di tempat duduk yang disediakan. Sekitar 10 menit kemudian, nama saya dipanggil. Sebuah berkas mirip kuitansi dan KTP asli saya diberikan kepada saya. Di situ ada jumlah yang saya harus bayar.

Bayar perpanjangan STNK ini lebih mahal Rp 160.000 daripada perpanjangan tahunan. Hal ini karena ada biaya cetak STNK sebesar Rp 100.000 dan biaya cetak plat nomor sebesar Rp 60.000. Untuk mobil mungkin biayanya lebih mahal lagi daripada motor.

Saya pun langsung antri ke kasir untuk membayar. Selesai membayar, berkas mirip kuitansi tersebut dikembalikan ke saya dengan diberikan cap lunas. Saya disuruh menunggu kembali untuk menunggu dipanggil di loket berikutnya.

Kira-kira 10 menit kemudian nama saya dipanggil lagi. Kali ini saya harus menyerahkan lembar kedua dari berkas kuitansi tersebut kepada petugas untuk ditukarkan dengan STNK asli baru saya.

Sudah selesai?

Kalau perpanjang tahunan sudah. Tapi perpanjang lima tahunan ada satu tahap lagi yang harus dilalui. Yaitu ambil plat nomor baru. Lokasi ambil plat nomor baru ada di pintu keluar gedung Samsat belok kiri. Ada gang kecil di mana banyak orang sedang menunggu giliran dipanggil untuk memperoleh plat nomor baru.

Saya berikan berkas kuitansi pembayaran lembar pertama kepada petugas loket di situ dan kira-kira menunggu selama 5 menit, plat nomor saya sudah saya terima. Tertulis di plat nomor saya “02-23”.

Saya pun bergegas menuju parkiran dan pulang dari Polda Metro Jaya.

Saya keluar dari tempat parker sekitar pukul 09.50. Satu jam lebih totalnya saya mengurus perpanjangan STNK lima tahunan karena ada dua tahapan yang harus dilalui berbeda dengan perpanjangan STNK tahunan. Dua tahapan itu adalah esek-esek dan ambil plat nomor.

Pelayanan perpanjangan STNK lima tahunan sudah sangat baik dan cepat. Mudah pula.

Namun yang disayangkan, di awal ada pungli sebesar sepuluh ribu rupiah yang masih tanpa kuitansi. Ke depannya sebaiknya biaya esek-esek dimasukkan ke dalam kuitansi STNK yang harus dibayar, bersamaan dengan biaya cetak STNK dan biaya buat plat nomor baru.

Kalau sudah begitu kan tidak ada pungli. Keren deh!

Nostalgia Angkutan Umum Jaman Dulu Bagian 3

Di bagian tiga ini saya akan menceritakan nostalgia naik angkutan umum sewaktu duduk di Sekolah Menengah Atas. Bagian pertama dapat dibaca di sini. Sedangkan bagian kedua dapat dibaca di sini.

Saat di sekolah menengah atas, kebetulan saya dan abang saya bersekolah di tempat yang sama. Sehingga berangkat pun kami bareng. Hebatnya lagi sekolahan saya itu letaknya masih di satu komplek perumahan dengan tempat sekolah waktu di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Oleh karena itu angkutan umum yang saya pergunakan pun pada prinsipnya sama.

Apa yang beda kalau begitu?

Yang beda adalah variasinya.

Biasanya saat pagi mau berangkat sekolah, saya dan abang saya naik KWK dari komplek perumahan. Kemudian menjelang masuk ke Kalimalang, kami turun dari KWK dan melanjutkan jalan kaki hingga sampai ke sekolahan.

Kenapa jalan kaki? Karena itu sangat menghemat waktu. Dengan jalan kaki kami hanya berjarak 15 menit dari sekolahan. Namun ketika mengikuti angkutan umum, kemacetan sudah mulai tampak bahkan dari beberapa ratus meter menjelang masuk ke Jalan Raya Kalimalang, sehingga tidak jelas waktu sampai ke sekolahan.

Tempat sekolah saya waktu di sekolah menengah atas lebih dekat ke Jalan Raya Kalimalang daripada saat masih di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Jaraknya kalau jalan kaki bisa sampai 8 menitan. Namun kondisi kemacetan waktu di sekolah menengah atas jauh lebih hebat daripada saat masih sekolah dasar atau sekolah menengah pertama.

Waktu keberangkatan saya dari rumah saat sekolah menengah atas pun sekitar pukul 6.30. KWK di komplek perumahan pada jam segitu cukup banyak. Kami dapat menemui paling tidak dua KWK dalam jarak berdekatan pada jam tersebut.

Perjalanan menuju Curug, Kalimalang membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Namun karena macet di beberapa ratus meter menjelang Curug, maka saya dan abang saya memutuskan untuk jalan kaki ke sekolah dari tempat tersebut.

Kami biasanya sampai sekolah antara pukul 6.55 hingga pukul 7.05. Yah kadangkala telat, tapi kebanyakan tidak telat. Jika telat pun hanya beberapa menit dan masih diperbolehkan untuk masuk pintu gerbang sekolah oleh satpam sekolah.

Kalau telatnya lebih dari 7.30, baru kami tidak diperbolehkan masuk oleh satpam sekolah dan terpaksa kembali ke rumah hari itu. Namun hal itu tidak pernah terjadi.

Jika abang saya tidak bersama saya hari itu, maka saya akan berangkat lebih pagi. Biasanya saya berangkat pukul 6 hingga pukul 6.15. Kenapa kalau bersama abang saya berangkatnya lebih lambat? Karena memang abang saya demennya mefet-mefet berangkatnya….hehehe.

Kebanyakan saya yang menunggunya daripada dia yang menunggu saya.

Kenapa harus bersama-sama? Karena saat berjalan selama 15 menit menuju sekolah, jalur yang kami lalui adalah jalur sawah yang kebanyakan jalan tanah dan sepi dari lalu lintas orang. Jalan berdua jauh lebih aman daripada hanya berjalan sendiri. Oleh karena itu kami senantiasa berdua bila berjalan melalui jalan pintas ke sekolah.

Kalau pulangnya bagaimana?

Sekolahan kami saat duduk di sekolah menengah atas memberlakukan jam belajar yang berbeda daripada sekolah biasa. Jika sekolah lain sudah bisa pulang menjelang waktu Zuhur, sekolah kami pulangnya menjelang waktu Ashar. Ada tambahan jam belajar 3 jam setiap harinya.

Apakah ada kompensasinya? Iya ada! Sabtu kami libur! Mirip seperti orang kerja kantoran yang waktu itu sudah mulai menerapkan hari Sabtu sebagai hari libur.

Pulang pada pukul setengah empat sore membuat kami pulang bukan pada jam sibuk. Ketika pulang, saya dan abang saya kadang barengan kadang tidak. Tergantung jam pulang kelas masing-masing. Lagipula teman abang saya dan saya pun berbeda. Jadi pulangnya tidak selalu bareng.

Saat pulang alternatifnya hanya satu, yaitu jalan kaki dari sekolah ke Jalan Raya Kalimalang. Kemudian naik Metromini T54 hingga ke Curug, Kalimalang. Memang bisa juga naik Mikrolet, tapi tarif Metromini yang hanya Rp 100 per trip membuatnya jauh lebih menarik daripada naik Mikrolet.

Karena bukan jam sibuk, Metromini di jam-jam segitu potensi untuk dapat tempat duduknya besar sekali. Andaikata tidak dapat pun, saat berdiri masih terasa begitu lega. Tidak dempet-dempetan seperti naik KRL sekarang ini saat jam sibuk.

Yang jadi masalah adalah saat dari Curug, Kalimalang menuju komplek perumahan. Kenapa masalah? Karena bukan jam sibuk.

Waktu ngetem KWK jadi lebih panjang daripada biasanya. Biasanya 10-15 menit sudah jalan, kali ini bisa sampai 30 menit pun belum jalan. Sehingga saya jadi lebih sering menggunakan ojek untuk sampai ke rumah jika melihat naik KWK waktu tunggunya lama.

Saat itu jika naik KWK tarifnya Rp 200, sedangkan kalau naik ojek tarifnya Rp 500. Ada perbedaan yang cukup signifikan. Namun karena saya lebih sering membawa makanan sendiri ke sekolah, karena pulangnya lebih sore, sehingga uang jajan praktis tidak terlalu banyak kepakai setiap harinya, naik ojek pun masih mencukupi budget uang jajan mingguan dari orang tua.

Lagipula di pagi harinya, saya pun masih bisa berhemat Rp 100 (jika naik Metromini) hingga Rp 200 (jika naik Mikrolet) karena berjalan kaki dari beberapa ratus meter menjelang Curug.

Yang menjadi alasan lainnya adalah waktu belajar yang lebih lama daripada biasanya membuat badan lebih letih rasanya. Hal itu memberikan motivasi lebih untuk sampai rumah lebih cepat lagi. Saya tidak naik ojek bila melihat bahwa KWK sudah hampir penuh atau sedang mau berangkat saat itu. Atau saya lagi tidak ada uang karena uangnya sudah habis atau dihemat untuk rencana yang telah saya buat sebelumnya.

Praktis, angkutan umum yang saya naiki sejak jaman sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas adalah sama. Hal itu terjadi karena rutenya sama. Yang berbeda hanya variasinya. Jadi saya tidak mengenal angkutan lain di masa itu selain KWK, Mikrolet M26, Mikrolet M19, Metromini T54 dan ojek yang masuk ke komplek perumahan saya.

Sekali atau dua kali sebulan memang suka ada ekstra kulikuler di tempat lain, seperti berenang di Galaxy, Bekasi atau berkunjung ke rumah teman di daerah Pondok Kelapa dan sekitarnya. Tapi jenis angkutan umum yang dipakai tetap sama.

Ketika masuk kuliah, saya pun merasakan angkutan umum lainnya. Ada satu bentuk angkutan umum yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Apakah itu? Nantikan di bagian keempat tulisan ini.

Nostalgia Angkutan Umum Jaman Dulu Bagian 2

Sudah baca bagian pertama tulisan ini? Kalau belum baca dulu deh di sini.

Menjadi anak Sekolah Menengah Pertama ada perubahan besar kepada jadwal sekolah saya. Iya, saya masuk siang. Jadwal belajar mulai pukul 12.30. Saya biasa berangkat pukul 11.00 siang.

Kalau sekolah pagi, biasanya masih suka diantar oleh orang tua karena sekalian berangkat ke tempat kerja. Namun kalau sekolah siang, sudah jelas harus pulang sendiri.

Mulai jadi anak Sekolah Menengah Pertama saya harus mulai mandiri, paling tidak untuk urusan angkutan umum. Waktu masih di sekolah dasar saya ikut jemputan, sampai kelas enam. Begitu masuk sekolah menengah pertama, tidak ada lagi ceritanya jemputan semacam itu.

Kompensasi berangkat tanpa jemputan artinya saya mendapatkan uang jajan lebih. Papa saya biasa memberikan uang jajan dengan periode mingguan. Cukup tidak cukup. Pas tidak pas. Lebih tidak lebih, harus bisa dipakai untuk satu minggu. Tidak ada tambahan sepeser pun yang diberikan di tengah minggu jika uangnya dah keburu habis.

Seringkali saya harus menahan lapar di sekolah karena uangnya terbatas. Makanan favorit saya ketika di sekolah menengah pertama adalah bacang. Murah dan mengenyangkan. Beli dua bacang perut sudah kenyang namun harganya masih lebih murah daripada satu mangkok bakso.

Angkutan umum yang saya gunakan pun masih sama.

Di komplek perumahan, Omprengan.

Di Jalan Raya Kalimalang, Dua Mikrolet dan Satu Metromini.

Yang beda adalah tarifnya. Omprengan sudah mulai Rp 200 per trip. Mikrolet pun mintanya juga Rp 200 per trip, walaupun saya selalu bayar Rp 150 atau bahkan Rp 100. Toh dekat dari Curug ke Kodam. Hanya jarak satu jembatan penyebrangan di Kalimalang.

Jalan kaki dari Kalimalang menuju sekolahan adalah hal satu-satunya yang harus ditempuh saat itu. Tidak ada angkutan umum masuk komplek perumahan yang ada sekolah saya di dalamnya. Sekolah saya waktu menjadi anak sekolah menengah pertama tepat di belakang sekolah saya waktu masuk duduk di sekolah dasar.

Jadi pada dasarnya sama saja. Rutenya sama. Angkutan umumnya sama.

Namun ketika naik kelas dua, ada sedikit perubahan di jenis angkutan umum. Omprengan yang masuk ke komplek perumahan sudah berubah menjadi angkutan jenis KWK (Koperasi Wahana Kalpika). Sejak menggunakan KWK, yang berdiri di angkutan umum semakin sedikit, walaupun masih bisa dua orang sekaligus berdiri bergelantungan di pintu.

Saya paling senang berdiri bergelantungan di pintu. Rasanya laki banget. Keren!

Ada sih yang lebih keren saat itu, yaitu merokok! Tapi saya tidak suka rokok. Saya lebih baik bergelantungan di pintu KWK.

Sebenarnya bisa juga bergelantungan di Mikrolet saat melaju di Jalan Raya Kalimalang. Namun ada dua kendala.

Pertama, karena Mikrolet berada di jalan raya, kecepatannya cenderung tinggi.

Kedua, banyak polisi di sekitar jalan raya, sehingga supirnya takut ketilang kalau ketahuan ada orang yang berdiri di pintu mobilnya.

Di KWK, kedua kendala tersebut tidak ada. KWK beredar di sekitar komplek perumahan, sehingga kecepatan maksimumnya paling hanya 40 km/jam. Itu pun jarang, terutama yang belum penuh-penuh banget.

Namun sayangnya waktu kedatangannya masih belum dapat diperkirakan. Kalau beruntung, begitu sampai di tempat tunggu angkutan umum dalam komplek KWK sudah datang. Kalau lagi buntung harus menunggu paling tidak setengah jam sebelum dapat angkutan.

Saya ingat sekali di jaman masih duduk di Sekolah Menengah Pertama itulah pertama kali saya dipalak. Jam tangan Casio pemberian Papa saya berpindah tangan ke tangan pemalak saya. Pemalak saya saat itu dandanannya seperti kuli bangunan, umur di atas 20 tahun dan dua orang. Saat itu saya berdua bersama teman saya sengaja berjalan dari Kodam, Kalimalang ke Curug, Kalimalang lewat jalan setapak pinggir kali.

Waktu itu kami baru saja pulang dari sekolah masuk siang, dan waktu pulangnya lebih cepat daripada jadwal biasanya. Sehingga saya dan teman saya memutuskan untuk jalan kaki menuju Curug yang lumayan menghemat hingga Rp 150.

Memang menghemat Rp 150, tapi rupanya kehilangan jam tangan. Memang sudah rejeki pemalak saya waktu itu, walaupun rejekinya tidak dari jalan yang halal.

Saat ini jalan setapak itu mungkin sudah tidak ada dan sudah berganti jalan yang dapat dilewati mobil. Semoga tidak ada lagi anak-anak yang dipalak di daerah situ ke depannya.

Saat pulang sekolah ketika masuk siang, ada sesuatu yang saya kejar saat sampai di rumah. Sesuatu itu adalah film seri Saint Seiya. Waktu itu film tersebut tayang mulai pukul 17.30 hingga pukul 18.00. Jam pulang sekolah saya waktu itu mendekati pukul lima sore. Sehingga saya harus cepat-cepat pulang jika ingin menyaksikan film seri kesayangan saya tersebut.

Seringkali saat pulang saya sudah ketinggalan filmnya, karena sampai lewat pukul 18.00. Namun beberapa kali saya masih sempat menonton filmnya walaupun tidak pernah dari paling awal.

Telatnya saya sampai rumah terutama disebabkan oleh lamanya menunggu KWK untuk berangkat dari Curug, Kalimalang menuju komplek perumahan saya. Waktu tunggu angkutan umum ngetem di jam-jam tersebut rata-rata di antara 15-20 menit. Waktu yang cukup panjang untuk kehilangan film seri yang tayangnya hanya 30 menit sepekan.

Oleh karena itu saya pun kadang suka menggunakan angkutan alternatif dari Curug, Kalimalang menuju rumah. Alternatifnya adalah ojek.

Pakai ojek, tidak ada kata menunggu. Naik langsung jalan dan turun bisa langsung depan rumah tanpa harus mengikuti rute angkutan yang tetap. Kompensasinya ya harus bayar lebih mahal. Saat masih menjadi anak sekolah menengah pertama, tarif ojek sekali jalan adalah Rp 300. Dua kali lebih mahal daripada naik angkutan umum KWK.

Malah tarif tersebut kemudian naik menjadi Rp 500 saat pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM beberapa saat kemudian. Memang saat itu tarif KWK menjadi Rp 200 untuk pelajar dan Rp 250 untuk dewasa.

Dulu ojek itu tidak ada yang pakai helm satu pun. Apalagi penumpangnya. Tidak pernah ada ceritanya penumpang ojek pakai helm. Soalnya rutenya tidak melewati jalan raya sedikit pun. Jadi lebih aman dari polisi walaupun melanggar aturan lalu lintas.

Penggunaan ojek akan menjadi lebih sering saya lakukan begitu saya semakin besar. Kenapa?

Nantikan di bagian ketiga tulisan ini.

Nostalgia Angkutan Umum Jaman Dulu Bagian 1

Saat ini, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa angkutan umum jaman now, jauh lebih baik. Mulai dari KRL yang sekarang selalu tepat waktu, pakai pendingin udara dan stasiunnya yang sudah modern dan bagus desainnya. Lalu ada Transjakarta yang sudah banyak rutenya, sehingga kemana-mana pun hanya membayar sekali, selama transitnya di halte resmi Transjakarta.

Jangan lupa juga dengan MRT dan LRT yang harusnya tidak lama lagi beroperasi. Kereta bandara pun jadi salah satu alternatif angkutan umum yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Itu kondisi jaman now. Bagaimana kondisi jaman dulu?

Saya mulai mengenal angkutan umum sejak jaman masih bersekolah di sekolah dasar. Waktu itu saya sekolah di daerah Kodam, Kalimalang, sedangkan saya tinggal di Jatibening, Pondok Gede. Memang saat masih sekolah dasar saya lebih sering menggunakan jemputan yang disewa oleh orang tua saya. Nama supirnya saat itu adalah Om An.

Menjelang lulus sekolah dasar, saya mulai menggunakan angkutan umum, terutama saat pulang dari sekolah. Alasannya simpel, merasa sudah besar. Lagipula jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Jika diukur dengan jarak, mungkin saja jaraknya tidak lebih dari tujuh kilometer.

Angkutan umum yang tersedia saat itu adalah:

Omprengan.

Mobil angkutan umum yang mungkin sudah susah ditemui saat ini. Tidak seperti Omprengan jaman now yang merupakan mobil biasa yang dijadikan angkutan umum, atau bahasa resminya angkutan umum gelap, Omprengan jaman dulu adalah mobil yang dasarnya adalah bak terbuka, namun bagian belakangnya dimodifikasi seperti naik truk tronton.

Untuk naik ke omprengan ada dua cara. Pertama, duduk di depan membuka pintu penumpang depan. Jumlah maksimum yang dapat ditampung adalah dua orang. Sama supir jadi tiga orang.

Kedua, duduk di belakang lewat bagian belakang mobil. Tidak ada pintu samping di belakang pintu depan. Kalau sekarang kaya lewat pintu bagasi, walaupun tidak ada pintunya. Persis sekali naik truk tronton tentara kalau mau pergi ke luar kota.

Omprengan beroperasi dari pagi hingga selepas Maghrib. Rutenya adalah keliling di sekitar komplek, kemudian menuju ke Jalan Raya Kalimalang di daerah Curug. Waktu itu tarifnya untuk anak sekolah hanya Rp 100 – Rp 200 per trip.

Tidak jelas kapan waktu kedatangan Omprengan. Biasanya saya menunggu paling lama 30 menit hingga mendapatkan Omprengan di saat bukan jam sibuk. Bila di jam sibuk (sekitar pukul 6 hingga 6.30), maka rata-rata waktu tunggu 10-15 menit.

Untuk menuju sekolahan saya, dari Curug, perlu naik angkutan umum lain ke arah Kodam, Kalimalang. Yang tersedia saat itu ada tiga.

Dua Mikrolet.

Yang satu M26 (Bekasi – Kampung Melayu) dan yang lain M19 (Klender – Cililitan). Mikrolet ini sama dengan yang dikenal sekarang, namun tentu kendaraan yang digunakan berbeda. Jaman dulu Mikrolet menggunakan mobil Kijang atau Panther.

Satu yang khas dari Mikrolet hingga jaman now adalah, waktu tunggunya yang cukup cepat. Rata-rata tidak sampai 5 menit satu Mikrolet sudah dapat kita berhentikan dengan melambaikan tangan di pinggir jalan. Seringkali malah Mikroletnya yang menghampiri kita, bila saat itu jumlah penumpangnya tidak terlalu banyak.

Sayangnya, yang menjadi khas lain dari Mikrolet hingga jaman now, anak sekolah bukan merupakan prioritas untuk diangkut. Sebabnya mudah, tarifnya lebih murah. Makan tempatnya sama.

Satu Metromini.

T54 (Lampiri – Kampung Melayu).

Metromini menggunakan mobil yang sama persis dengan Metromini yang beredar jaman now. Bentuk Metromini tidak berubah sampai sekarang dari sejak saya masih duduk di sekolah dasar. Mungkin bentuk itu lebih lama lagi dari masa kehidupan saya di dunia ini.

Saat naik Metromini, biasanya Metromininya sudah agak penuh, sehingga saya lebih sering berdiri daripada duduk. Namun Metromini selalu menjadi favorit saya. Kenapa? Karena paling murah.

Dari mulai saya sekolah dasar, hingga saya lulus SMA, tarifnya tetap. Rp 100 per trip. Dahulu pelajar tetap Rp 100 per trip sampai saya masuk kuliah, baru tarif pelajar berubah jadi Rp 500.

Tarif Mikrolet biasanya tergantung jarak. Khusus saya yang cuma berjarak kurang dari dua kilometer dari Curug, Kalimalang ke Kodam, Kalimalang, tarifnya biasanya Rp 50 lebih mahal daripada tarif Omprengan saya. Ketika tarif Omprengan Rp 100, maka Mikrolet memberlakukan Rp 150. Ketika Omprengan Rp 150, maka Mikrolet menjadi Rp 200.

Artinya untuk bolak-balik naik angkutan umum, saya membutuhkan uang paling tidak Rp 400 dengan catatan naik Metromini di Jalan Raya Kalimalang. Padahal uang jajan saya saat itu hanya Rp 500 per hari. Artinya saya hanya punya cadangan uang jajan sebesar Rp 100 per harinya saat sekolah dasar.

Saat itu dengan Rp 100 sudah mendapatkan empat buah pempek dari kantin di sekolah. Cukuplah untuk sekedar mengisi perut sebelum sampai ke rumah.

Naik Omprengan pagi-pagi dari komplek perumahan, saya biasanya dapat tempat duduk di belakang. Walaupun jam sibuk, di pagi hari omprengan tidak sepenuh angkutan umum yang biasa kita temui saat jam sibuk di kota Jakarta. Isinya memang hampir penuh, tapi biasanya masih ada sisa satu atau dua tempat duduk lagi sampai ke tempat tujuan. Tapi ya itu, waktu tunggunya lumayan.

Untuk saya yang sudah harus berada di sekolah pukul 7, tentu harus menyesuaikan diri agar tidak telat. Saat masih di sekolah dasar, pagi-pagi saya hampir selalu ikut jemputan. Namun siangnya seringkali pulang naik angkutan umum karena sering main dulu dengan teman-teman yang lain.

Dari Kodam, Kalimalang ke sekolahan saya jaraknya sekitar satu kilometer. Jalan kaki santai sekitar 15 menit. Tidak ada angkutan umum tersedia dari sekolah saya ke Jalan Raya Kalimalang. Sehingga satu-satunya jalan menuju sekolah bila naik angkutan umum adalah dengan berjalan kaki.

Jalan kaki saat pulang enaknya bersama dengan beberapa teman. Tidak terasa, tiba-tiba kita sudah sampai di Jalan Raya Kalimalang. Saat itu untuk menyebrang jalan raya, diperlukan sedikit keberanian karena kendaraan yang lalu lalang kecepatannya cukup tinggi.

Memang tidak sepadat jaman now yang makin susah menyebrang, jaman dulu kendaraan didominasi oleh mobil, sehingga relatif lebih mudah menyebrang daripada kendaraan jaman now yang didominasi oleh sepeda motor.

Ketika balik naik Omprengan dari Curug ke komplek perumahan, saya harus menunggu Omprengannya penuh. Penuh di sini benar-benar penuh atau semua kursi terisi. Bahkan beberapa ada yang berdiri karena tidak mau menunggu 15-30 menit lagi hingga keberangkatan Omprengan berikutnya.

Saat masih di sekolah dasar, saya tidak berani berdiri di belakang Omprengan. Rata-rata yang berdiri di belakang adalah anak Sekolah Menengah Pertama atau anak Sekolah Menengah Atas. Sebagai anak Sekolah Dasar, saya pun lebih sering disuruh duduk di dalam, walaupun sebenarnya ingin sekali berdiri di belakang seperti kakak-kakak saya tersebut.

Memasuki Sekolah Menengah Pertama, ada perubahan di angkutan umum yang saya naiki. Apa saja perubahannya? Nantikan di bagian kedua tulisan ini.

Ujung-ujungnya Warga Juga yang Jadi Korban

Di tulisan saya sebelumnya saya mengungkapkan kesenangan saya karena bus pengumpan Transjakarta sudah masuk di depan komplek perumahan saya. Di tulisan yang sama, saya juga mengungkapkan kesedihan saya karena Metromini yang selama ini merupakan satu-satunya angkutan umum yang lewat depan komplek perumahan saya, semakin hari semakin sedikit penumpangnya.

Saya pun berbagi kesenangan saya di grup Whatsapp yang saya ikuti. Kebetulan grup teman satu angkatan saya. Saya mengungkapkan kebahagiaan saya di sana, walaupun saya tidak membagikan tulisan saya tersebut ke grup.

Ada yang baru ngeh bahwa Transjakarta sekarang sudah ada bus pengumpan. Ada yang anggap bahwa hal itu biasa karena sudah ada sejak tahun lalu. Ada yang senang karena akhirnya Metromini dan angkutan umum lainnya yang sejenis, akhirnya mulai “terbunuh”.

Saya tekankan di kata “terbunuh”. Dan itu sangat menyedihkan.

Ketika angkutan umum seperti Metromini, Koantas Bima, Kopaja dan sejenisnya terbunuh, maka dampak langsungnya dirasakan oleh keluarga inti supir dan pihak-pihak yang terkait dengan rejeki yang mengalir dari angkutan umum itu. Dengan keadaan saat ini, rejeki mereka tentu tidak sebaik sebelumnya. Ada dua akibat tidak langsung dari seretnya rejeki mereka.

Pertama adalah kemiskinan.

Kemiskinan di ibukota ujung-ujungnya adalah melahirkan sumber kejahatan atau kriminalitas baru. Korban dari kejahatan tentunya adalah warga sendiri. Warga yang tidak tahu-menahu menanggung akibat dari kebijakan pemerintah DKI Jakarta yang sengaja “membunuh” angkutan umum semacam Metromini.

Ketika ada tindak kejahatan atau kriminalitas, yang jadi korban adalah warga sendiri.

Kedua adalah bobroknya kondisi kendaraan.

Jika ini terjadi, jelas bahwa potensi kecelakaan melibatkan angkutan umum tersebut meningkat pesat. Kita akan sering mendengar kecelakaan maut yang melibatkan angkutan umum sejenis. Kecelakaan maut biasanya terjadi karena ada mekanisme dari kendaraan yang tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya. Biasanya yang gak bisa bohong adalah rem. Rem yang blong seringkali menjadi kambing hitam dalam sebuah kecelakaan maut yang melibatkan angkutan umum sejenis.

Ketika kecelakaan maut terjadi, yang jadi korban ya warga sendiri.

Memang dengan adanya bus pengumpan yang menjangkau lebih banyak area, mobilitas warga Jakarta sangat dimudahkan dan dimanjakan. Beberapa tahun lalu, dengan munculnya angkutan umum online, warga Jakarta merasa sangat dimanjakan. Kemana-mana tarifnya Rp 10.000. Betul-betul bagaikan surga.

Sekarang angkutan umum online memang masih murah, tapi tidak semurah dulu waktu baru awal-awal. Namun warga Jakarta masih dimanjakan dengan rute transjakarta yang sudah banyak menjangkau daerah-daerah yang selama ini luput dari jangkauan koridor-koridor utama Transjakarta. Mulai dari yang rute yang paling rame, hingga ke rute-rute yang tidak terlalu rame tapi melewati jalan-jalan yang cukup besar.

Dulu angkutan umum bisa berbuat seenaknya dan warga tidak memiliki pilihan. Sekarang pilihan banyak, sehingga angkutan umum yang dulu berbuat seenaknya langsung ditinggalkan oleh hampir semua “langganan”-nya.

Tapi keadaan “membunuh” angkutan umum tidak dapat dibiarkan begitu saja. Pemerintah DKI Jakarta harus bertindak. Entah menggandeng mereka kembali untuk bergabung ke sistem transportasi yang dimiliki Pemerintah DKI Jakarta, atau hentikan ijin trayek mereka.

Jika keadaan ini masih dibiarkan dan dikembalikan ke mekanisme pasar, maka yang terjadi adalah timbul korban dari pihak warga sendiri. Pilihannya adalah menjadi korban kriminalisme dari pihak-pihak yang masih terkait dengan angkutan umum lama dan kerabat-kerabatnya, ATAU menjadi korban karena bobroknya kondisi umum yang mengancam nyawa siapa pun yang berada di dekatnya.

Apakah kita mau nyawa warga terenggut percuma gara-gara hal tersebut?

Kriminalitas ATAU kecelakaan maut.

Siapa yang jadi korban? Ya warga sendiri!

Semoga Pemerintah DKI Jakarta cepat bertindak dan memberikan solusi terbaik mengenai angkutan umum agar kebijakan mengenai angkutan umum ini tidak ujung-ujungnya warga juga yang menjadi korban.

Senang dan Sedih Naik Angkutan Umum

Beberapa hari terakhir ini saya terpaksa merasakan kembali naik angkutan umum setelah lebih dari satu tahun memilih naik sepeda motor untuk pergi ke dan pulang dari kantor. Saya menemukan sebuah kesenangan, yaitu sudah ada bus pengumpan busway lewat depan komplek perumahan saya.

Namun saya juga merasa sedih, karena metromini yang selama ini melayani jalur depan komplek rumah saya, penumpangnya drastis menurun. Bahkan di sebuah metromini sudah tidak lagi ditemukan kenek di dalamnya. Tinggal supir yang mengemudikan dan juga menerima pembayaran dari penumpang.

Senang karena kedatangan busway bisa diprediksi secara tepat. Kebanyakan busnya menggunakan GPS yang bisa dipantau dengan aplikasi smartphone yang bernama TRAFI. Tapi sayangnya karena jalur di depan komplek saya baru, GPS-nya kadangkala tidak nyala dan bus-busnya tidak bisa dipantau secara online.

Dengan adanya bus pengumpan busway di depan komplek saya, saya mengharapkan waktu perjalanan yang lebih singkat dan juga biaya yang lebih murah. Soalnya dari depan komplek biasanya saya menggunakan metromini atau mikrolet untuk menuju halte busway terdekat, lalu naik busway sampai halte tertentu. Dilanjutkan dengan angkot atau bus pengumpan busway sampai menuju kantor.

Saat ini, harapan saya, dari depan komplek perumahan, naik bus pengumpan, lalu lanjut busway tanpa bayar lagi, kemudian naik bus pengumpan lagi setelah sampai halte tujuan. Cuma bayar dua kali, yaitu saat naik depan komplek perumahan dan saat lanjut setelah mencapai halte tujuan. Total biaya perjalanan hanya Rp 7.000 sekali jalan.

Pulangnya pun begitu, naik bus pengumpan dari dekat kantor sampai halte busway yang saya tuju. Kemudian naik busway hingga dekat dengan rumah saya. Selanjutnya naik bus pengumpan kembali tanpa bayar ke depan komplek perumahan.

Ah impian naik angkutan yang aman dan nyaman sudah ada di depan mata. Impian yang selama ini hanya bisa saya khayalkan, saat ini benar-benar nyata sudah tersedia. Terima kasih jajaran pemerintah provinsi DKI Jakarta. Saya sengaja tidak berterima kasih kepada Pak Gubernur seorang, karena ini adalah kerja sebuah tim, bukan kerja seorang saja, walaupun dia seorang pemimpin.

Sedih, karena bila melihat penumpang metromini yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, saya langsung membayangkan keluarga dari supir metromini tersebut. Mungkin kita bisa langsung menghakimi karena sikap dan perilaku mereka tidak berubah. Apalagi di tempat lain, minggu lalu, baru saja terjadi kecelakaan maut yang diakibatkan oleh metromini yang ngebut dan menabrak beberapa orang di sekitarnya.

Mungkin ini seleksi alam, tapi alangkah elegannya bila seleksi tersebut tidak harus mengorbankan pihak-pihak yang kalah. Dalam sebuah komunitas, kita harus berlomba-lomba untuk membantu sesama. Memang pihak metromini selama ini selalu keras kepala dan tidak mau berkompromi, tapi gara-gara keegoisan beberapa pihak, sejumlah keluarga jadi kesulitan. Orang-orang mungkin jadi korban lebih banyak karena biaya operasional tidak berhasil ditutupi oleh tarif yang diterima dari penumpang.

Sudah waktunya kompromi kembali digelar antara pihak metromini dan pemerintah provinsi DKI Jakarta agar win-win solution bisa dicapai. Dengan sengaja membuat rute baru bus pengumpan yang langsung bersinggungan dengan trayek metromini, pasti akan membunuh metromini itu sendiri.

Perubahan ke arah lebih baik, tidak harus dimulai dengan menghancurkan yang sudah ada, tapi memperbaiki yang sudah ada dengan membina para pemain lama agar bisa berperan sesuai dengan perubahan jaman. Memang berat, tapi itu lebih elegan daripada membunuh mereka secara terang-terangan di depan orang banyak.

Membunuh memang solusi tercepat, tapi pasti makan korban.

Apakah tidak cukup korban yang berjatuhan gara-gara kendaraan angkutan umum tidak layak jalan akibat dari pendapatan yang tidak memadai?

Saran saya, jika anda naik metromini, kasih lebihlah supirnya seperti anda berulang kali memberikan tips lebih kepada penyedia jasa angkutan online. Mereka lebih butuh itu daripada penyedia jasa angkutan online, karena memang pendapatannya saat ini berkurang, bukan saja tajam, tapi drastis hampir nol.

Pajak Progresif STNK: Bayar Lebih Mahal Gara-gara Oknum?

Setelah sebelumnya saya berhasil mengurus STNK mobil saya yang dibayar lewat internet banking Bank DKI, esok harinya bapak mertua saya juga mengurus STNK mobilnya yang habis masa berlaku pajaknya di bulan September ini. Dia biasa mengurus STNK langsung lewat drive thru Samsat.

Biasanya dia membayar pajak STNK sebesar Rp 5 jutaan setahun, namun kali ini tarifnya naik hingga Rp 6 jutaan. Dia tidak langsung membayarnya, namun bertanya, kenapa tahun ini tarifnya naik?
Disebutkan oleh petugas loket drive thru, bahwa mobilnya terkena pajak progresif. Dan mobilnya adalah mobil ketiga dari pajak progresif tersebut. Continue reading

Bayar STNK Online : Lebih Mudah?

Layanan STNK sejak beberapa tahun lalu sudah lebih baik. Dimulai dari adanya STNK keliling di lima wilayah DKI Jakarta. Lalu ada Gerai STNK dimana lokasinya tetap dan yang penting ada di pusat perbelanjaan. Diikuti lagi layanan STNK drive thru di kantor Samsat, yang konon pengurusannya hanya membutuhkan waktu lima menit. Dan yang terakhir adalah penempatan perwakilan petugas pengurusan STNK yang tersebar di kecamatan-kecamatan DKI Jakarta.

Nah mulai tahun lalu, saya baru tahu bahwa STNK pun bisa dibayar secara online. Lewat ATM atau SMS banking atau internet banking. Masalahnya layanan online ini khusus untuk nasabah Bank DKI. Dan yang membuatnya sangat khusus, nama di STNK harus sama dengan nama nasabah. Jadi tidak bisa membayarkan STNK dengan nama orang lain, seperti kita membayar tagihan telepon dari ATM atau internet banking. Continue reading