Perjalanan Menuju Pasar Saham

Saya mulai mengenal investasi sejak tahun 2008 ketika saya menemukan seorang perencana keuangan pribadi lewat sebuah blog. Dari situ saya mulai mengenal yang namanya reksadana dan mulai menggeluti reksadana sejak saat itu. Saya sempat tidak aktif di reksadana saat akhir 2008 lalu dimana saat itu terjadi krisis dunia akibat kesalahan sistem KPR di Amerika. Saya yang mulai kenal dengan reksadana agak takut juga saat itu apalagi saat itu Nilai Aktiva Bersih reksadana yang saya pilih turun jauh sekali hingga lebih dari 50%. Saya pun sempat berhenti sementara melakukan top up reksadana sampai pertengahan tahun 2009.

Reksadana yang saya pilih cuma dua macam, yaitu reksadana saham dan reksadana pasar uang. Reksadana saham untuk jangka panjang (walaupun saat pasar modal turun sempet takut) dan reksadana pasar uang untuk jangka pendek. Saya tidak bermain di jangka menengah karena menurut saya returnnya tidak sepadan dengan penantiannya. Saya aktif melakukan top up di reksadana paling tidak Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta rupiah per bulannya. Saya memilih reksadana Manulife Dana Saham untuk reksadana saham dan Mandiri Investa Pasar Uang untuk reksadana pasar uang. Tidak ada alasan istimewa memilih keduanya. Alasan utama saya adalah top up fee keduanya adalah nol persen.

Continue reading

Pemilik Perusahaan

Saham

Akhir April 2013 lalu saya mulai mendaftarkan diri ke perusahaan sekuritas agar saya dapat berinvestasi saham. Sebelum mendaftarkan diri, saya sempat malang melintang bertanya ke beberapa pihak mengenai prosedur investasi saham dan juga resiko dan keuntungan yang bisa diperoleh atau diterima jika berinvestasi saham. Sebelumnya saya hanya berani melakukan investasi reksadana dimana per bulannya secara rutin saya melakukan penambahan dana.

Walaupun saya sudah banyak bertanya kesana kemari, namun begitu dihadapkan kepada investasi saham yang sesungguhnya saya pun sempat kebingungan. Saya tiba-tiba tidak mengerti cara melakukan pemesanan pembelian saham padahal sudah beberapa kali dikasih tahu oleh mertua saya yang memang aktif di pasar saham satu tahun belakangan ini. Saya pun bingung harus memilih saham yang mana, padahal sebelumnya saya sudah menentukan saham-saham mana yang mau saya pilih. Yang paling membuat saya bingung adalah tujuan investasi saham saya. Sebelumnya saya hanya ingin membeli saham-saham yang produk perusahaannya saya atau banyak orang pakai atau manfaatkan. Namun begitu terlibat langsung, saya pun tenggelam dalam analisa teknikal saham-saham yang tidak jelas bentuk perusahaannya.

Continue reading