Manusia Keledai

Mungkin anda pernah mendengar bahwa binatang paling bodoh adalah Keledai. Kenapa begitu? Karena ada pepatah yang mengatakan bahwa “hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali.” Terus terang saya belum pernah melihat keledai, apalagi membuktikan kebodohannya. Tapi saya sering sekali melihat manusia bertindak melebihi kebodohannya keledai seperti yang digembar-gemborkan tersebut.

Contoh manusia keledai sangat banyak dan mudah sekali ditemui, apalagi di kota sebesar Jakarta ini. Kita tidak usah sulit-sulit mencarinya, tinggal nongol ke jalan raya, maka anda akan menemukan banyak sekali manusia keledai beredar. Kenapa saya bilang mereka itu manusia keledai? Perhatikan!!

Tiap hari kita merasakan kemacetan lalu lintas, mulai pagi hari, siang, sore bahkan malam hari. Jika anda memperhatikan, di jam yang sama pada arah yang sama, maka anda akan menemukan mobil dan motor yang sama lewat setiap hari. Sudah jelas itu macet, tapi kenapa mereka selalu lewat situ? Apakah itu tidak sama dengan jatuh ke lubang dua kali malah lebih?

Lalu mungkin anda bilang, itu kan karena kesalahan kebijakan pemerintah, sehingga orang-orang tersebut “terpaksa” menempuh jalan yang sama berulang kali. Saya bilang, manusia kan diberikan akal dan pikiran. Tentunya akal dan pikiran itu harus digunakan sebaik-baiknya untuk kebaikan diri maupun umatnya. Jika sudah tahu bahwa lewat tempat yang sama pada jam yang sama macet, kenapa harus lewat situ? Atau kalo memang hanya itu jalannya, kenapa gak cari alternatif kendaraan lain, misalnya seperti yang dilakukan pada beberapa tahun yang lalu dengan munculnya komunitas nebeng. Dengan nebeng, minimal jumlah mobil yang beredar berkurang dua sampai tujuh kali. Artinya, jika di jalanan ada 1000 mobil setiap hari, maka dengan ikut komunitas nebeng jumlah mobil akan menjadi 500 bahkan sampai 150 per hari.

Sudah banyak tuh mobil yang berkurang, dan juga berapa banyak bensin yang bisa dihemat. Tapi, apakah kita semua melakukan itu? Padahal di komplek perumahan ada kumpulan warga se-RT, se-RW bahkan yang paling kecil yang tinggal satu jalanan dengan kita. Yang perlu dilakukan hanyalah berembuk dan menyesuaikan jam pergi di pagi hari. Tidak perlu setiap orang mengeluarkan mobil masing-masing, tapi yang penting intinya setiap orang sampai pada tujuannya dengan aman, nyaman dan tentunya lebih murah.

Nebeng disini bukan berarti gratisan. Setiap anggota nebeng harus menanggung biaya operasi mobil yang ditebengi supaya si pemberi tebengan tidak terbebani, dan yang lain tetap punya rasa memiliki terhadap kendaraan si pemberi tebengan. Jadi tidak semena-semena hal itu dilakukan namun lakukan dengan bijak. Jadi, jika anda belum dapat tebengan hari ini, ayo rembukan dengan tetangga, teman kantor yang dekat rumah, atau siapapun yang anda kenal dan percaya di angkutan umum yang searah dengan anda untuk menggalakkan komunitas nebeng. Informasi nebeng lebih lanjut silakan klik di www.nebeng.com

Manusia keledai satu lagi yang sering kita temui di kota ini adalah manusia keledai yang membuang sampah sembarangan, apalagi membuang sampah di kali. Sudah tahu bahwa buang sampah di kali ujung-ujungnya akan menyebabkan banjir, tapi tetap saja tumpukan sampah di kali setiap harinya tidak berkurang malah bertambah terus menerus. Malah saat ini sudah ada generasi baru anak kecil sudah terbiasa membuang sampah domestik rumah tangga ke dalam kali jika rumahnya dekat dengan kali.

Jangan lagi menyalahkan pemerintah untuk urusan banjir ini, apalagi jika menyalahkan alam dengan siklusnya yang tidak menguntungkan bagi warga kota. Kita sudah mengalami dua kali banjir besar tiap 5 tahun yaitu tahun 2002 dan tahun 2007 dimana lebih dari separuh daerah di Jakarta terendam banjir, mulai dari beberapa puluh cm hingga beberapa meter. Bahkan tidak sedikit perumahan mewah yang menjadi langganan banjir di kedua tahun tersebut. Apakah harus menunggu siklus banjir berikutnya di tahun 2012?

Tapi, lagi-lagi, kenapa tidak ada perubahan ya? Ada memang yang berinisiatif melakukan perubahan, yaitu dengan merombak rumahnya dan meninggikan rumahnya hingga 1 – 2 meter sehingga ketika banjir, kondisi di dalam rumahnya tidak terendam, walaupun di luar rumahnya banjir dan tetap mati lampu. Ini memang terkesan lebih baik, tapi menurut saya ini adalah tindakan manusia keledai yang kelebihan uang, karena tidak mengatasi masalah, hanya mengurangi resiko kerugian….tapi sampai kapan? Menurut sejarah banjir di 2007 rata-rata airnya naik hingga 50 cm – 1 meter dibandingkan banjir tahun 2002. Jadi jika naik 1 – 2 meter, rasanya di tahun 2020 nanti, rumahnya harus dibongkar lagi dan ditambah lagi naik 1 – 2 meter, dan begitu seterusnya.

Yang penting dilakukan adalah mencegah terjadinya banjir kembali. Yaitu dengan stop buang sampah sembarangan, apalagi buang sampah ke kali atau sungai. Dan tentunya kurangi juga sampah yang beredar dengan menggunakan sistem 3R (reuse, reduce dan recycle). Jangan pula lupakan sampah organik yang dihasilkan harus diolah kembali dengan sistem biopori karena sampah organik secara rata-rata berjumlah 60% dari total sampah yang kita hasilkan sehari-sehari. Dengan mengolah sampah organik, maka jumlah sampah yang dihasilkan hanya 40% yang semuanya bisa di-recycle.

Sampah jadi lebih sedikit, dan jika masih ada orang yang membuang sampah di kali atau sungai, maka jumlahnya menjadi sangat sedikit. Kita tidak bisa melarang manusia keledai membuang sampah sembarangan apalagi membuang di kali atau sungai. Namun kita dapat memberikan contoh dan menularkan perbuatan tersebut kepada orang-orang terdekat kita, agar mereka tidak lagi menjadi manusia keledai, yang selalu komplain ketika banjir terjadi, tapi tidak pernah berbuat apapun untuk mencegah hal itu terjadi.

Saat ini pilihan orang untuk menghindari banjir adalah, pindah rumah ke daerah yang bebas banjir (kebanyakan di luar kota), atau pindah ke apartemen (paling tidak apartemen kan tinggi, jadi gak akan tuh perabotannya kena banjir). Keduanya bisa dilakukan untuk orang-orang yang membutuhkan hasil instan dan uang yang sangat banyak. Untuk yang lain? Jika tidak mau jadi manusia keledai, ayo berubah!!

Ketika perlahan kita sudah berubah untuk tidak lagi jadi manusia keledai, maka saat itu kota ini akan terasa lebih baik, pemerintahnya pun Insya Allah lebih mudah mengatur warganya, dan kemudahan hidup akan lebih cepat tercapai.

Masih ingin jadi manusia keledai yang beredar di kota Jakarta ini? Silahkan!! :p {nice1}

Leave a Reply

Your email address will not be published.