Terhibur di Perpanjangan STNK Keliling

Menjelang dua hari sebelum pajak STNK mobil saya berakhir, saya berencana untuk memperpanjang STNK di tempat yang dekat dengan kantor. Setelah memperoleh informasi lewat website dan bertanya ke SMS 1717, saya mendapatkan informasi bahwa STNK keliling terdekat berada di Stasiun Tanjung Barat dan Mal Gandaria City.

Setelah menimbang-nimbang jarak dan waktu yang saya miliki karena hari kerja, akhirnya saya memilih memperpanjang di Stasiun Tanjung Barat. Saya berangkat dari kantor pukul 10 pagi dan sampai di Stasiun Tanjung Barat pukul 10.22. Biaya transportasi adalah taksi Rp 20.000 dan tol Rp 7.500.

Walaupun sebelumnya saya sudah melakukan fotokopi setiap berkas, termasuk KTP saya sendiri (walaupun saya memakai KTP kakak ipar untuk perpanjang STNK), tapi rupanya ada kebijakan di STNK keliling di Stasiun Tanjung Barat agar susunan dokumen yang diserahkan ke bagian pendaftaran harus sesuai dengan yang diminta.

Yang bisa melakukan penyusunan tersebut adalah tukang fotokopi yang disediakan STNK keliling tersebut. Akhirnya karena fotokopi saya tidak sesuai dengan susunan yang diminta, terpaksa saya memfotokopi kembali berkas-berkas yang dibutuhkan.

Rupanya susunan berkas adalah sebagai berikut :

Halaman paling belakang adalah formulir permohonan perpanjang STNK. Berikutnya adalah fotokopi BPKB. Berikutnya adalah fotokopi STNK dan KTP dalam satu halaman. Lalu lembar asli STNK (2 lembar) dan KTP asli dilampirkan di bagian paling depan dengan distaples. Susunannya kedua lembar STNK dilampirkan memanjang atas-bawah dan KTP berada di lembar STNK yang atas.

Ok lah, kebetulan yang antri fotokopi saat itu pun tidak banyak.

Ketika jalan ke loket pendaftaran, maka akan ketemu dengan petugas yang berada di balik loket. Seketika setelah kita menyerahkan berkas, maka petugas tersebut akan bertanya kepada kita seputar berkas yang kita serahkan.

“Bambang W itu siapa?” tanya petugas tersebut setelah membaca nama yang ada di STNK mobil yang akan saya perpanjang. “Oh itu kakak ipar saya pak,” jawab saya. “Oh nama kamu siapa?” tanyanya lagi. Saya langsung menjawab nama saya. Lalu dia bertanya kembali, “Nomor HP kamu berapa?” Saya pun memberitahukan nomor HP saya.

Setelah puas, dia lalu memasukkan berkas tersebut ke tempat yang tidak terlihat dari luar. Saya berasumsi bahwa berkas saya sudah masuk ke antrian untuk proses selanjutnya. Langsung saya lihat jam saat itu, waktu menunjukkan pukul 10.27.

Saya langsung pergi ke ATM terdekat untuk mengambil uang yang akan digunakan buat bayar. Saya sengaja gak bawa uang dari kantor karena saya tahu ada ATM dekat stasiun dan juga lebih aman tidak membawa uang tunai ketika sedang dalam perjalanan…:D

Sehabis mengambil uang saya langsung kembali ke STNK keliling. Di situ banyak orang yang sedang menunggu namanya dipanggil baik untuk bayar maupun untuk mengambil STNK yang sudah jadi. Kebetulan yang mendaftar saat itu tidak terlalu ramai karena mungkin sudah agak siang.

Sambil menunggu rupanya ada hiburan kecil-kecilan ditampilkan oleh petugas loket pendaftaran. Petugas yang saya ketahui namanya dari name tag di dadanya SWARNO, rupanya pandai mengeluarkan kata-kata yang menggelitik ketika melayani seseorang yang akan menyerahkan berkas.

Contohnya, saat dia bertanya ke seorang pria, “Maria itu siapa?” Dijawab oleh pria itu “Saya”. Lalu dia membalas, “Loh kamu kan laki gak mungkin donk namanya Maria.” Dijawab kembali oleh pria itu, “Saya beli dari dia”. “Oh, kalo gitu tahun depan balik nama ya Pak.”

Ada lagi seorang bapak dikerjainya. “Nomor telpon berapa?” tanya Pak Swarno. Bapak itu diam saja. Kemudian dia bertanya kembali dengan nada lebih keras “Nomor telpon berapa?” Bapak itu menjawab, “Tidak ada”. “Tidak ada telpon?” tanyanya dengan nada sedikit heran. “Tidak ada pak,” jawab bapak itu. “HP?” tidak mau menyerah juga. “Tidak ada juga pak!” “Ya sudah!” akhirnya nyerah juga Pak Swarno.

Saya dan banyak orang yang sedang menunggu dekat STNK keliling tersebut kadang tersenyum mendengar celotehan ringan Pak Swarno. Mungkin saat kita berhadapan langsung dengan dia, kita tidak merasakan kelucuannya karena memang nada omongnya sangat serius. Seperti yang saya ingat di kejadian berikut.

Ada seorang lelaki yang menyerahkan berkas kendaraannya yang masih berstatus leasing. Pak Swarno memerikas berkas-berkasnya dan bertanya, “Mana BPKB asli?” dijawab oleh orang tersebut, “Masih leasing pak.” “Kalo gitu, mana surat dari leasingnya?” Orang tersebut merogoh kantong celananya dan memberikan kertas yang terlipat kepada Pak Swarno. “Saya minta aslinya,” kata Pak Swarno setelah melihat bahwa surat dari leasing yang diberikan kepadanya hanya fotokopian. Orang tersebut kebingungan dan merogoh kembali celanannya. Ketika dia sedang mencari-cari surat aslinya, Pak Swarno menambahkan, “Aslinya jangan diumpetin donk, ini surat cuma sekali pakai. Tahun depan minta lagi.” Langsung saja beberapa orang tertawa kecil mendengar kata-kata “jangan diumpetin” itu.

45 menit waktu berlalu semenjak saya memberikan berkas, akhirnya nama ipar saya dipanggil dan saya disuruh membayar sejumlah uang yang besarnya sama persis dengan jumlah uang yang saya bayarkan tahun lalu. 15 menit kemudian STNK yang ditunggu-tunggu akhirnya diserahkan kepada saya. Waktu saya menerima STNK jam menunjukkan pukul 11.32 atau satu jam 10 menit setelah saya sampai di Stasiun Tanjung Barat atau satu jam lima menit setelah menyerahkan berkas.

Setelah itu balik lagi ke kantor dan sampai kantor hampir pukul 12 dengan biaya taksi Rp 23.000 dan tol RP 7.500.

Jadi total pengeluaran tambahan saya di luar biaya resmi perpanjangan adalah,

2 x taksi, 2 x tol, 1 x fotokopi

Total : Rp 60.000

Padahal kalau minta calo atau biro jasa kenalan orang rumah paling hanya nambah Rp 50.000 dari biaya resmi perpanjangan, hehehe. Gak papa, tapi kan gak akan mendapatkan hiburan dari petugas loket pendaftaran yang bernama Pak Swarno donk kalo gitu…..:D {nice1}

Leave a Reply

Your email address will not be published.