Kok Betah Ya?

Tadi sore saya pulang ke rumah dari Hotel Ritz Carlton, ke rumah teman dulu di daerah Senen, kemudian menuju rumah lewat tol dalam kota. Perjalanan keseluruhan hampir 3 jam. Saya memang jarang ke arah pusat bisnis dalam beberapa tahun terakhir apalagi di jam-jam sibuk. Namun saya bisa merasakan tidak enaknya bermacet-macet di jalanan. Bahkan pantat saya rasanya sudah mulai tidak enak karena terlalu lama duduk di mobil. Padahal mobil yang saya naiki cukup enak, Kijang Innova.

Saya jadi bertanya. Kenapa orang-orang betah ya bermacet-macetan setiap hari? Betah mengantri di jalan setiap hari tanpa daya apa pun untuk memperbaiki. Perjalanan yang harusnya cuma membutuhkan setengah sampai satu jam jika jalanan lancar, dapat mencapai tiga jam karena jalanan macet. Artinya ada lebih dari dua jam waktu terbuang percuma hanya untuk menempuh perjalanan sehari-hari.

Dua jam mungkin waktu yang sedikit. Tapi kalau dihitung dalam satu tahun, artinya sekitar 400 jam setahun dihabiskan hanya untuk bermacet-macetan di jalan. 400 jam itu artinya 16,67 hari. Sayang sekali ya, 16 hari per tahun dihabiskan hanya untuk menempuh perjalanan rutin yang seharusnya bisa dipangkas hingga seperempatnya.

Rasanya macet di jalanan bukan hal baru di kota Jakarta. Sejak lama kota ini sudah terkenal dengan kemacetannya. Sudah banyak janji-janji dari para Gubernur Jakarta untuk mengatasi kemacetan, namun ternyata Jakarta makin macet tiap harinya. Dan hebatnya, tidak ada satu pun masyarakat yang menggugat pejabatnya, gubernurnya bahkan presidennya karena macet setiap hari. Padahal kita sama-sama tahu, pemerintah kita tidak peduli dengan kemacetan lalu lintas. Buktinya, pejabat sekelas gubernur atau presiden tidak pernah merasakan macet, malah membuat macet saat lewat. Dan yang pasti, angkutan umum yang beredar di Jakarta mayoritas bukan berasal dari pemerintah, melainkan dari swasta yang tidak memiliki standar pelayanan kepada masyarakat. Dan itu dibiarkan bertahun-tahun oleh pemerintah kita.

Macet di Jakarta selama ini coba diatasi dengan membuat lebih banyak jalan. Bahkan ada anekdot yang mengatakan bahwa Jakarta tahun 2014 nanti akan macet total karena pertumbuhan kendaraannya jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan jalan, sehingga tidak ada lagi jalan yang mampu menampung kendaraan yang beredar. Dengan anekdot ini seakan-akan untuk mengatasi kemacetan Jakarta, ya kita perlu membangun jalan. Pertanyaannya, jalan mana lagi yang mau dibangun di Jakarta? Jalan layang? Jalan bertingkat? Jalan bawah tanah? Jalan tol? Semua sudah ada! Jika ditambah artinya itu hanya bersifat proyek yang pastinya rawan akan perilaku korupsi.

Padahal untuk mengatasi macet itu semua orang tahu solusinya. Yaitu perbaikan angkutan umum. Namun itu tidak kunjung dilakukan atau paling tidak belum ada keberhasilan hingga saat ini.

Pertumbuhan mobil disalahkan, orang dilarang membeli mobil banyak-banyak. Padahal secara ketegasan aturan, pemerintah tidak berani melarang produsen mobil mengurangi produksi mobilnya, atau paling tidak menghentikan produksi untuk jangka waktu yah katakanlah satu tahun. Solusi pun dibuat untuk membuat orang berpikir dua kali jika ingin membeli mobil. Hasilnya adalah menaikkan pajak kendaraan bermotor secara progresif. Efektifkah? Berkurangkah macet? Tidak!

Lalu untuk apa pajak kendaraan bermotor diberlakukan secara progresif? Untuk menambah pundi-pundi pendapatan daerah, sehingga lebih punya ruang untuk melaksanakan pembangunan berbasis proyek yang rawan korupsi tentunya.

Sudah jelas bahwa menaikkan pajak kendaraan bermotor saat ini tidak berhasil mengurangi kemacetan. Kenapa tidak berhasil? Karena memang alternatifnya tidak diperhatikan. Coba lihat Busway! Itulah satu-satunya angkutan umum bus di Jakarta yang milik pemerintah selain PPD yang tidak jelas juntrungannya.

Busway sampai saat ini belum beroperasi optimal. Bahkan sangat jauh dari optimal! Padahal dalam satu tahun terakhir ini telah diberlakukan pajak progresif kendaraan bermotor. Apakah busway makin baik? Tidak!

Aneh memang yang terjadi di kota Jakarta ini. Macet terus, tidak ada satu pun yang komplain atau menyuarakan pendapatnya ke tempat yang benar. Berulang kali dibohongi oleh janji-janji politik penguasa. Pasrah pada keadaan, tidak punya ide atau kreatifitas untuk mengurangi dampak kemacetan. Dan yang pasti, semua orang ingin enaknya sendiri. Enak tanpa ngapa-ngapain. Emang paling enak seperti itu, tapi kapan tercapainya?

Oleh karena itu, sebagai permulaan bagi warga Jakarta yang bosan, yang tidak betah, yang muak dengan kemacetan, pilihlah gubernur yang benar. Jangan lagi tergiur oleh politik uang sesaat yang menyengsarakan anda lima tahun ke depan. Jangan lagi mau dibohongi oleh janji-janji politik yang muluk-muluk. Lihatlah calon yang paling baik menurut anda. Dan yang pasti, jangan golput. Golput memang sebuah pilihan, tapi menurut saya itu adalah pilihan yang bodoh. Kenapa bodoh? Loh anda tinggal di Jakarta. Tapi ketika anda disuruh memilih untuk menentukan arah kehidupan Jakarta lima tahun ke depan, eh malah gak mau berpartisipasi.

Lihat calonnya. Lihat programnya. Masuk akalkah programnya? Jika ya, pilihlah orangnya. Coblos orangnya!

Janganlah termakan oleh politik uang. Mau terus-terusan macet lima tahun ke depan tanpa ada perbaikan berarti? Ya silakan saja pilih berdasarkan siapa yang bayar paling besar. Silakan saja untuk tidak ikut berpartisipasi sama sekali. Silakan saja untuk terus bermimpi ada perbaikan padahal kita sendiri tidak ingin jadi lebih baik.

Saya sih sudah muak dengan kemacetan dan ingin semua ini berubah. Bagaimana dengan anda? {nice1}

Leave a Reply

Your email address will not be published.