Saya dan Kereta

Pertama kali saya mengenal kereta adalah dari mainan kereta beserta relnya yang dibelikan Papa saya yang merupakan oleh-olehnya hasil belajar di luar negeri. Mainan tersebut sangat ekslusif, bahkan di beberapa film Holywood hanya keluarga super kaya yang memiliki mainan kereta semacam ini. Sayang mainan itu rusak seiring semakin besarnya saya. Saat ini saya tidak tahu lagi ada dimana bekas mainan saya tersebut.

Kereta asli yang pernah saya naiki pertama kali adalah kereta jarak jauh. Saya lupa waktu itu pergi kemana dan bareng siapa saja. Yang saya ingat waktu itu kereta yang saya naiki bangkunya berwarna hitam, ada busanya sedikit dan pastinya tidak memiliki air conditioner. Saya pun tidak ingat rasanya naik kereta waktu itu.

Setelah itu saya baru naik kereta lagi saat menginjak bangku kuliah. Kuliah di Depok membuat saya harus bersahabat dengan angkutan umum ini. Pagi-pagi naik ke arah Depok sudah pasti empet-empetan. Pulangnya jika di atas jam 4 sore pun demikian. Oleh karena itu saya lebih senang memilih kost dekat kampus atau pulang maksimal jam 2 siang. Saya masih ingat saat itu biaya naik kereta dari Tebet ke Depok cuma Rp 500.

Beranjak kerja saya pun jarang naik kereta. Saya punya pengalaman naik kereta saat ada pelatihan di Cepu, Jawa Tengah. Saat itu saya merupakan rekrutmen baru di perusahaan saya dan ada ikatan dinas belajar di Cepu selama 4 bulan. Bolak-balik Jakarta – Cepu – Jakarta saya naik kereta eksekutif. Saat itu belum terbiasa tidur sambil duduk, sehingga perjalanan dari setelah Maghrib hingga menjelang Subuh sungguh sangat melelahkan dan membuat saya sangat mengantuk. Enaknya itu adalah pengalaman pertama saya naik kereta yang ada air conditionernya.

Semenjak itu, saya pun semakin jarang naik kereta. Naik kereta saya berikutnya adalah ketika berada di negeri orang, yaitu Singapura dan Malaysia. Di situ saya naik yang namanya MRT. MRT sangat berbeda dengan kereta listrik Jabodetabek yang biasa saya naiki ketika kuliah dulu. Di MRT, kereta dilengkapi air conditioner. Namun berbeda dengan kereta eksekutif jarak jauh saya waktu ke Cepu, kereta ini susunan kursinya mirip dengan kereta Jabodetabek yang sering saya naiki.

Saat ini kabarnya kereta Jabodetabek yang biasa saya naiki sudah mulai dikurangi. Layanan yang diberikan oleh perusahaan pengelola kereta api adalah layanan kereta komuter yang sebagian besar merupakan kereta ber-air conditioner seperti di Singapura dan Malaysia. Sayangnya saya belum pernah mencoba kereta ber-air conditioner yang namanya komuter tersebut.

Menurut cerita yang banyak saya baca maupun dengar, kereta komuter ini masih kurang optimal pelayanannya. Kabarnya kedatangan kereta sering tidak pasti, sehingga menimbulkan penumpukan penumpang di stasiun-stasiun yang dilewatinya. Padahal, menurut kabar yang saya terima pula, moda angkutan umum ini mampu mengangkut sebanyak 400 ribu orang per harinya. Lebih banyak daripada kapasitas busway yang hanya mampu mengangkut 300 ribu orang per harinya.

Saya yakin jika pemerintah serius mengelola operasional kereta api, maka akan banyak orang yang beralih ke kereta api. Begitu banyak potensi pengurangan kendaraan bila layanan kereta api sudah optimal. Kereta api menjadi penghubung orang-orang yang bekerja atau beraktivitas di Jakarta, namun memiliki rumah di daerah Bogor, Bekasi maupun Serpong. Tiga daerah yang termasuk pesat pertumbuhannya untuk menunjang Jakarta sebagai ibukota negara.

Saat ini memang saya jarang sekali, atau malah tidak pernah naik kereta lagi. Alasannya semata-mata adalah aktivitas harian saya tidak memerlukan layanan kereta api. Saya terakhir kali naik kereta api di Jakarta adalah sekitar tahun 2010 dimana saat itu saya harus menempuh perjalanan ke arah Cikini dari kantor saya di daerah TB Simatupang. Saat itu saya merasa, kereta adalah moda angkutan tercepat, karena memang tempat yang saya tuju tidak jauh dari stasiun Cikini.

Biarpun saya bukan pengguna kereta rutin, saya yakin, kereta akan menjadi tulang punggung transportasi massal di Jakarta. Saya memiliki impian bahwa nantinya kereta api di Jakarta tidak lagi bernama kereta komuter atau kereta api listrik (KRL) lagi. Namun namanya telah diganti menjadi MRT (Mass Rapid Transport) ataupun LRT (Light Rapid Transport) dan layanannya sudah menyamai layanan serupa di Malaysia maupun Singapura.

Impian tersebut akan sejalan dengan pengalaman masa kecil saya. Masa kecil yang memiliki persepsi bahwa kereta itu adalah kendaraan eksklusif, bukan kumuh seperti yang terjadi saat ini. Kereta adalah kendaraan nyaman yang juga dinaiki oleh para eksekutif muda. Kendaraan yang jadi pilihan utama masyarakat Jakarta karena kenyamanannya, keamanannya, kemudahannya dan yang pasti hemat di ongkos.

Semoga persepsi masa kecil saya tentang kereta di Indonesia terwujud sebelum saya menginjak masa tua. {nice1}

Leave a Reply

Your email address will not be published.