Menguji Keampuhan Jurus MRT

Menurut rencana yang tersebar di berbagai billboard, MRT di kota Jakarta akan mulai dibangun tahun ini. Kabarnya MRT yang akan dibangun menghubungkan Lebak Bulus dengan Dukuh Atas dan akan mulai beroperasi tahun 2016 atau paling tidak empat tahun dari sekarang. MRT yang akan dibangun rencananya ada yang berada di bawah tanah dan ada pula yang ada di atas tanah. Kabarnya MRT tahap pertama tersebut diharapkan akan mampu membawa lebih dari 400 ribu penumpang per hari dalam tiga tahun pertama operasinya.

Dalam rencana besarnya, MRT akan dibuat dengan panjang lebih dari 100 km yang mencakup utara-selatan Jakarta dan timur-barat Jakarta. Untuk mendapatkan MRT sepanjang itu rencananya baru akan terwujud paling cepat di tahun 2027 atau 15 tahun lagi dari sekarang. Waktu yang sangat lama, dan membutuhkan kesabaran masyarakat Jakarta untuk dapat menikmati angkutan umum yang tepat waktu, nyaman dan aman.

MRT dibiayai sebagian besar dari pinjaman uang dari Jepang dan sisanya dari APBN dan APBD. Biaya yang akan dihabiskan untuk membangun proyek ini pastinya sangat besar. Lebih dari Rp 17 Triliun rupiah disiapkan hanya untuk membangun MRT dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas tersebut.

Rp 17 Triliun dalam waktu empat tahun ke depan hanya untuk menambah kapasitas angkutan sebanyak 400 ribu orang per hari dalam tujuh tahun ke depan. Kok sedikit ya?

Padahal bila mampu memanfaatkan yang ada, pemerintah kita bisa lebih efektif dan mungkin saja lebih banyak berhemat untuk membangun transportasi massal di Jakarta.

Lihat saja KRL dan Busway.

KRL sampai saat ini saja sudah mampu membawa penumpang per hari sebanyak 400 ribu orang. Busway sampai saat ini telah mampu membawa 350 ribu penumpang tiap harinya. Kombinasi keduanya saja sudah mampu membawa lebih dari 750 ribu penumpang tiap harinya. Malah targetnya tanpa harus promosi berlebihan, KRL menargetkan akan dapat membawa lebih dari 1 juta penumpang dalam waktu 5 tahun ke depan. Dan itu jauh lebih efektif, lebih cepat terasa manfaatnya dan pastinya lebih efisien karena memang tinggal memanfaatkan apa yang ada dan memperbaiki atau menambah atau mengoptimalkannya.

Jadi, ketika nantinya MRT mulai beroperasi, atau malah ketika sudah tiga tahun beroperasi, MRT baru mampu membawa sekitar 400 ribu penumpang per hari. Di saat yang sama mungkin sudah lebih dari 2 juta penumpang sudah dapat dibawa oleh moda angkutan yang tersedia saat ini. Artinya efektifitas MRT yang dibangun untuk empat tahun ke depan hanya mampu menyedot penumpang sebanyak yang mampu disedot oleh KRL pada hari ini.

Saya melihat harapan masyarakat Jakarta mengenai MRT sepertinya sangat besar dalam rangka mengurangi kemacetan di Jakarta. Namun dari rencana besar MRT yang saya lihat, saya tidak terlalu yakin bahwa MRT akan memenuhi harapan yang tinggi dari masyarakat Jakarta, paling tidak dalam waktu yang dekat.

Lihat saja, jika kapasitas angkutnya cuma 400 ribu per hari di tahun 2020, maka yang akan terjadi adalah MRT akan penuh sesak tiap harinya pada jam sibuk seperti yang terjadi dengan KRL dan Busway saat ini. Penuh sesaknya akan sangat kelewatan sehingga kenyamanan naik MRT nantinya akan sangat berkurang.

Belum lagi dengan investasi langsung sebesar Rp 17 Triliun pastinya akan berakibat langsung kepada tiket MRT akan menjadi sangat mahal. Coba saja, jika tiketnya Rp 10.000 per orang, maka dalam satu hari target pendapatannya hanya Rp 4 Miliar. Dengan modal pendapatan Rp 4 Miliar per hari, maka untuk mendapatkan Rp 17 Triliun dibutuhkan lebih dari 4000 hari atau lebih dari 10 tahun. Itu baru dari sisi pendapatan. Sisi pengeluarannya belum dihitung. Intinya adalah tarif MRT nantinya saat ia beroperasi minimum adalah Rp 10.000 per orang dan tidak mungkin lebih murah daripada itu.

Mari kita tidak terlalu berharap terlalu tinggi terhadap MRT untuk solusi kemacetan Jakarta. Malah kalau dianalisa sebenarnya KRL dan Busway sudah cukup baik untuk Jakarta. Yang diperlukan adalah optimalisasi operasional keduanya, bahkan jika diperlukan integrasi antar keduanya, dengan memberikan tarif diskon jika berpindah dari satu moda angkutan ke angkutan lainnya.

Akan lebih seru jika ada integrasi waktu kedatangan. Misalnya di halte busway Cawang yang diintegrasikan dengan stasiun KRL Cawang. Ketika ada kedatangan kereta ke stasiun Cawang, maka dalam waktu kurang dari 3 menit datang pula Busway yang akan membawa penumpang ke arah Semanggi. Artinya, penumpang KRL dituntut untuk bergerak cepat agar dapat langsung melanjutkan perjalanannya naik Busway ke Semanggi tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Bagi penumpang yang santai-santai dapat menunggu waktu kedatangan Busway berikutnya, yang mungkin bisa 10-15 menit lagi.

Hal seperti ini pernah saya rasakan sewaktu naik MRT di Singapura. Di stasiun-stasiun koneksi antar jalur, saya melihat adanya integrasi waktu kedatangan. Sehingga ketika penumpang akan berpindah jalur atau koridor MRT, maka dia harus segera mempercepat langkahnya karena kereta berikutnya di jalur lain akan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama sejak dia turun dari kereta di jalurnya. Dengan berjalan ke jalur lain secara cepat, maka penumpang akan dapat mengejar keretanya. Namun jika berjalan santai-santai, maka dia harus menunggu hingga 15 menit lagi untuk menunggu kereta berikutnya.

Integrasi semacam ini memang sangat sulit untuk diterapkan, tapi bisa dilakukan bila operasionalnya dilakukan dalam satu atap. Saya bisa bayangkan jika di Jakarta tidak ada satu badan khusus untuk operasional berbagai macam moda angkutan. Saat ini Busway dan KRL tidak berada dalam atap yang sama. MRT pun sepertinya akan memiliki badan hukum tersendiri. Integrasi moda angkutan ini sulit diterapkan jika masing-masing berdiri sendiri dan beroperasi sesuai dengan tanggung jawabnya sendiri. KRL punya target. Busway juga punya target. MRT pun nanti pasti juga punya target. Bisa saja karena masing-masing punya target menyebabkan operasional yang satu dengan yang lain saling bertentangan. Namun kita semua berharap bahwa biarpun tidak di satu atap tapi masing-masing saling mendukung.

Mari kita lihat dulu bagaimana perkembangan MRT ini dan di lain pihak memberikan masukan positif terhadap operasional KRL dan Busway yang sementara ini menjadi tulang punggung angkutan umum di Jakarta. Harapan yang tinggi agar MRT menjadi solusi kemacetan sepertinya masih akan jauh, apalagi MRT ini rencananya baru optimal di tahun 2027. Masih ada 15 tahun lagi untuk berharap kepada MRT. Semoga ketika beroperasi perdana di tahun 2016 MRT Jakarta paling tidak memenuhi harapan akan moda transportasi yang tepat waktu, aman dan nyaman. Saya kurang yakin jika MRT nantinya akan memberikan tarif yang murah bagi warga Jakarta mengingat investasinya yang sangat besar dan mayoritas berasal dari uang pinjaman. {nice1}

Leave a Reply

Your email address will not be published.