Proton dan Mobil Nasional

Proton adalah merk mobil yang berasal dari Malaysia. Di Indonesia mobil merk Proton telah berada di jalanan Indonesia sejak tahun 90-an, namun ekspansi mereka yang cukup serius baru sekitar beberapa tahun terakhir ini. Proton saat ini bukanlah sebuah merk mobil yang laku di Indonesia. Penjualan salah satu modelnya belum ada yang pernah menembus 10 besar penjualan mobil di tanah air.

Suka atau tidak, kita harus akui bahwa sebenarnya Malaysia telah mengungguli negara kita dalam hal mobil nasional. Sebelum krisis di tahun 90-an, kita pernah punya cikal bakal mobil nasional dengan merk Timor. Namun karena sangat politis dan terindikasi memperkaya kroni cendana, mobil nasional dengan merk Timor pun kurang laku dan perlahan-lahan hilang ditelan bumi. Timor saat ini tinggal kenangan karena setahu saya mereka tidak lagi memproduksi mobil baru sejak beberapa tahun lalu.

Lalu ada secercah harapan akan mobil nasional dengan nama Esemka. Esemka adalah mobil yang dirakit anak SMK dan dipopulerkan oleh seorang yang saat ini baru saja terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dari sisi konsepnya Esemka tidak akan lebih bagus dari Timor menurut saya. Itu karena awal mulanya Esemka menurut saya sudah salah. Paling tidak Esemka telah berhasil membawa ambasadornya menjadi seorang pejabat penting di republik ini.

Kemudian ada program baru dari pemerintah bernama Low Cost Green Car (LCGC). Inti dari program ini pemerintah akan memberikan insentif kepada pabrikan mobil yang membuat mobil berbiaya rendah dan ramah lingkungan. Seperti diketahui dua pabrikan terbesar di Indonesia sudah memperkenalkan prototipe mobil jenis ini di pameran mobil bulan lalu. Dengan harga yang ditawarkan mulai di bawah Rp 100 juta, tentunya mobil ini akan menjadi pesaing kuat mobil-mobil lain di kelas yang sama.

Dalam program LCGC dua pabrikan besar sudah bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar nasional, yaitu Astra dalam pembuatan prototipe mobil yang rencananya mulai dipasarkan tahun 2013. Hebatnya, menurut informasi yang beredar, desain mobil LCGC dari pabrikan tersebut merupakan hasil karya anak bangsa sendiri. Bahkan yang lebih hebat lagi, si pabrikan akan mengeluarkan produk pertamanya untuk negara Indonesia. Artinya belum ada satu negara pun yang menggunakan mobil ini. Indonesia adalah negara pertama yang akan menggunakan mobil ini.

Menurut saya program LCGC dapat dimanfaatkan pemerintah kita untuk membuat mobil nasional. Kenapa begitu? Pertama, sudah ada keterlibatan perusahaan nasional dalam desain dan perancangan mobil ini. Kedua, dengan adanya keterlibatan pabrikan besar, membuat mobil ini bukanlah mobil sembarangan. Ketiga, dengan adanya insentif dari pemerintah membuat mobil ini didukung oleh pemerintah dan hanya satu langkah lagi menuju mobil nasional. Keempat, logo dari mobil ini sedikit berbeda dengan logo pabrikan, sehingga membuka peluang adanya merk baru. Kelima, mobil ini bermain di cc kecil, awal dari hampir seluruh pabrikan besar saat ini bermain. Keenam, cara ini mirip dengan cara Timor di tahun 90-an dan sangat mirip dengan cara Proton di tahun 80-an.

Loh apa hubungan dengan Proton?

Awal mula terbentuknya Proton adalah dari inisiatif pemerintah Malaysia yang mencanangkan program mobil nasional. Inisiatif ini mirip dengan LCGC saat ini. Mulai dari presiden hingga mentri-mentri terkait terlibat dalam program ini. Proton memulai produksi dengan menggunakan platform sebuah pabrikan mapan dan dijual dengan harga lebih murah daripada mobil merk pabrikan mapan tersebut. Platform yang dipilih oleh Proton saat itu adalah mobil dengan cc kecil. Dengan mengusung semangat yang sama, seharusnya pemerintah mampu membuat LCGC dengan merk nasional namun memiliki kerjasama dengan pabrikan besar. Diharapkan, karena memiliki merk sendiri, mobil tersebut dapat lebih murah lagi, namun dengan dukungan bengkel dan spare part dari pabrikan besar, sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan diharapkan menjadi mobil sejuta umat berikutnya.

Di tahun-tahun awal pendirian Proton, memang yang diandalkan baru penjualan. Dengan sistem rebranding, mobil Proton laku keras di pasaran Malaysia saat itu. Dengan penjualan yang besar membuat Proton memiliki dana yang cukup untuk membangun organisasi yang besar. Sumber Daya Manusia disiapkan. Begitu SDM tersedia, maka Proton pun dapat perlahan-lahan lepas dari pabrikan mapan yang bekerja sama dengannya. Bahkan dengan dana yang cukup, Proton dapat membeli teknologi mesin Lotus. Maka itu tidak aneh jika saat ini mobil merk Proton adalah mobil dengan platform tersendiri, tidak lagi meniru platform dari pabrikan mapan seperti sebelumnya.

Indonesia dengan LCGC pun harus begitu. Mirip seperti Proton, di tahun-tahun pertama merk nasional tersebut hanyalah mengandalkan penjualan. Namun dalam jangka menengah harus dipersiapkan putra-putra terbaik supaya di kemudian hari dapat merancang mesin sendiri untuk pengembangan model. Dukungan dari pabrikan besar lama kelamaan harus dikurangi, namun harus terbentuk dulu jaringan rantai suplai yang memadai. Dengan dukungan perusahaan nasional yang memiliki keunggulan dalam jaringan, rasanya tidak akan sulit bagi pemerintah memanfaatkan LCGC untuk menjadi mobil nasional berikutnya yang lebih baik, lebih terencana, dan jauh dari prasangka politik.

Selama ini kita selalu merasa lebih hebat dari Malaysia. Namun rasanya kita harus mengubah persepsi bahwa kita dapat belajar dari Malaysia. Jika kita terus menerus membenci Malaysia yang suka memprovokasi, maka kita tidak akan maju-maju. Malaysia maju karena belajar. Indonesia pun bisa maju dengan belajar.

Jika Malaysia bisa, kenapa kita tidak? {nice1}

Leave a Reply

Your email address will not be published.