Sakit Menular ke Keluarga

Sejak pulang dari tugas lapangan di minggu kedua November, saya pun membawa pulang penyakit berupa batuk. Puncaknya adalah saat saya begitu lemas dan tidak berdaya di suatu hari yang menyebabkan saya tidak masuk kantor. Namun yang patut disayangkan adalah, saat saya berada di rumah, saya malah sering menemani anak saya bermain, makan, minum susu, bahkan tidur.

Akibatnya anak pun tertular dan mulai demam tinggi keesokan harinya. Saya sendiri belum juga sembuh hingga dua minggu ke depan. Anak pun menderita seperti yang saya derita. Mulai dari demam, hidung tersumbat, bersin-bersin dan juga batuk berdahak. Khusus untuk anak batuknya seperti batuk kejan.

Saya mendatangi dokter kira-kira 10 hari setelah pertama kali mulai terserang sakit. Awalnya saya hanya minum vitamin yang diberikan dokter. Namun karena ada kemungkinan batuk kejan, saya pun memulai meminum antibiotik yang diberikan. Entah karena antibiotik atau karena memang sudah waktunya penyakit itu sembuh, keadaan saya semakin membaik setelah meminum antibiotik.

Anak saya pun demikian. Awalnya saya tidak mau memberikannya obat selain obat penurun panas. Namun karena ada indikasi batuk kejan yang penyebabnya adalah bakteri, dan cukup berbahaya bagi anak umur satu tahun, maka ketika ke dokter untuk keempat kalinya dalam waktu satu minggu, saya pun memperbolehkan anak saya untuk menikmati antibiotik. Entah karena kebetulan atau tidak, tapi kondisi anak saya mulai membaik. Demam tingginya tidak pernah datang kembali. Hidung tersumbatnya juga semakin jarang. Batuk masih suka sedikit-sedikit tapi tidak separah sebelumnya.

Rupanya penyakit saya ini bukan hanya menular ke anak. Melainkan ke istri dan mertua saya. Istri dan mertua sepertinya tertular dari anak saya. Mereka berdua yang menjaga anak saya saat sakit, dan mereka pun tertular dengan gejala yang sama. Bahkan sampai saat ini istri dan mertua saya belum sepenuhnya sembuh, tidak seperti saya yang sudah mulai membaik, walaupun belum kembali 100%.

Pelajaran berharga yang dapat saya ambil dari peristiwa ini adalah, saat kita sakit, sebaiknya kita menjauh dari anak kita. Jika terpaksa harus dekat, maka sebaiknya kita memakai masker dan mencuci tangan sebelum dekat-dekat dengan anak. Memakai masker berguna saat kita tidak sengaja harus batuk atau bersin saat menggendong anak. Virus atau bakteri atau kuman dari tubuh kita tidak akan sampai ke anak. Saat tidur dekat anak pun masker harus selalu dipakai.

Cuci tangan adalah hal yang juga sangat penting. Sebelum memegang anak, usahakan agar kita selalu dalam keadaan tangan yang sudah dicuci dengan sabun. Paling tidak dengan mencuci tangan memakai sabun, tangan kita bersih dari kuman dan tangan kita tidak membahayakan anak kita.

Saat anak sakit adalah saat paling tidak enak. Walaupun sakitnya hanya flu, demam atau batuk seperti yang biasa kita alami, tapi melihatnya kesakitan, kesulitan saat tidur, kesulitan bernapas, membuat kita tidak tega melihatnya. Tapi perlu diwaspadai bahwa tidak semua penyakit pada anak membutuhkan obat-obatan dari dokter. Kebanyakan penyakit pada anak disebabkan virus, dan virus tidak ada obatnya. Jika diberikan antibiotik, obat batuk atau flu kepada anak kita, sebaiknya ditanya diagnosa sang dokter itu apa.

Kadangkala dokter hanya sekedar memberikan resep sesuai gejala, padahal gejala adalah awal dari sakit yang sesungguhnya. Jangan tiap gejala tersebut diberikan obat. Kadang gejala tersebut adalah tanda-tanda untuk sakit yang lebih berat tapi tidak diketahui karena gejalanya sudah diredam.

Jadi, jika saya menderita sakit lagi nantinya, saya akan menjauh dulu dari anak saya dan segera membeli masker jika memang terpaksa harus dekat-dekat dengannya. Cuci tangan harus lebih diseringkan agar walaupun kita sakit, anak kita tidak tertular penyakit kita.

Daya tahan tubuh anak masih belum sempurna, sebaiknya jangan menderita sakit yang sama dengan kita. {nice1}

Leave a Reply

Your email address will not be published.