Belum Berani Naik Angkot

bayar angkot

BBM sudah naik sejak minggu lalu. Tarif angkot pun langsung menyesuaikan diri dengan menaikkan tarif. Saya sampai hari ini belum berani naik angkot semenjak BBM naik. Satu-satunya angkutan umum yang saya naiki setelah BBM naik adalah busway yang tarifnya belum berubah.

Dengan kenaikan harga BBM bersubsidi maka kabar yang saya dapatkan adalah angkutan umum kecil dan menengah seperti mikrolet dan bus sedang tarifnya naik hingga 50% walaupun belum secara resmi ditetapkan pemerintah. Saya yang melihat kenaikan sepihak itu sebenarnya mau-mau saja membayar, namun karena belum ada kejelasan dari pemerintah daerah, saya pun lebih memilih tidak naik angkutan umum.

Minggu ini saya habiskan perjalanan saya dengan menggunakan sepeda motor yang selama beberapa bulan ini menemani saya untuk beraktifitas ke kantor. Tidak ada kenaikan biaya yang saya alami karena selama ini saya sudah menggunakan BBM non subsidi untuk sepeda motor saya. Dengan Rp 20 ribu saya sudah dapat menikmati perjalanan bolak-balik kantor selama tiga hari. 

Biasanya jika saya ke kantor menggunakan angkutan umum, maka biaya yang saya keluarkan adalah Rp 6.000 untuk pergi dan Rp 7.500 untuk pulang. Rinciannya adalah, Rp 2.000 naik metro mini atau mikrolet sampai ke halte busway terdekat. Lalu Rp 2.000 naik busway (di bawah pukul 7 pagi). Kemudian dilanjutkan dengan naik angkot Rp 2.000 hingga dekat ke kantor. Pulangnya adalah kebalikan dari rute pergi namun karena sore hari buswaynya sudah menjadi Rp 3.500.

Sebelum kenaikan BBM saja, saya menghabiskan uang sebesar Rp 13.500 bolak-balik kantor. Setelah kenaikan BBM ini kemungkinan saya akan menambah paling tidak Rp 4.000 per hari atau Rp 17.500. Kenaikan itu dari angkot, metromini dan mikrolet yang saya naiki karena masing-masing berpotensi naik 50%.

Sebenarnya ada potensi untuk menghemat pengeluaran angkot. Potensi tersebut berasal dari perjalanan menuju halte busway dari rumah dan sebaliknya saat pulang kantor. Jarak halte busway dari rumah saya hanya berjarak 1,5 km. Jika saya berangkat lebih pagi 10-20 menit dari biasanya, maka saya tetap dapat sampai kantor sesuai jadwal. Perjalanan kaki untuk jarak 1,5 km paling cepat saya tempuh dalam 20 menit, dengan catatan badan akan sedikit berkeringat. Jika ini saya lakukan, artinya saya dapat menghemat Rp 6.000 per hari dan berjalan paling tidak 3 km per hari yang memakan waktu sekitar 40 – 50 menit secara keseluruhan.

Asyiknya tidak perlu lagi saya melakukan olahraga secara terpisah karena sudah berjalan kaki paling tidak 40 – 50 menit per hari yang kira-kira menghabiskan kalori sekitar 300 kalori. Lumayan, penghematan sekaligus membuat badan lebih sehat dan mudah-mudahan menurunkan berat badan.

Penghematan Rp 6.000 per hari artinya selama sebulan menghemat Rp 120.000 dan setahun dapat menghemat Rp 1.440.000. Itu kalau saya berjalan setiap harinya dan dengan asumsi tidak hujan ketika berangkat kerja maupun pulang kantor. 

Yang pasti saya baru akan naik angkot lagi setelah ada pengumuman resmi dari pemerintah daerah mengenai kenaikan tarif angkot. Saya hanya mau membayar sesuai tarif resmi. Bukan apa-apa, angkot yang kita naiki layanannya buruk sekali. Jika layanan buruk, lalu buat apa memberi lebih? Kalau dasarnya kasihan saya rasa masih banyak pihak yang dapat kita beri sumbangan dan lebih tepat sasaran.

Bagaimana logikanya membayar lebih kepada orang yang sama sekali tidak peduli kepada kita. Tidak peduli dengan keamanan, kenyamanan dan juga kepentingan kita akan sampai tepat waktu ke tempat tujuan. Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri dan berbuat semaunya sendiri. Ngetem lama sekali, bahkan kadang lamanya ngetem lebih lama daripada lamanya perjalanan yang saya lalui. Jadi kenapa harus bayar lebih secara sukarela?

Semoga pemerintah daerah kita segera menetapkan tarif baru angkutan umum Jakarta. Berapa pun tarif yang ditetapkan saya akan mematuhinya. Namun umumkan dahulu, baru saya mematuhi. Jika belum ditetapkan maka saya hanya akan membayar sesuai ketentuan lama dan tidak mau membayar lebih. Oleh karena itu, untuk menghindari perdebatan dan perselisihan dengan supir dan kenek angkot, saya memilih untuk tidak menggunakan angkot sementara ini sampai tarif baru ditetapkan oleh yang berwenang. {nice1}

Gambar diambil dari : http://www.poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2012/06/naik-angkot.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published.