Menjadi Bebas Finansial

bebas finansial

Dulu saya tak tahu makna dari Bebas Finansial. Yang saya tahu bebas finansial artinya kita punya uang banyak sekali sehingga apa pun yang kita butuhkan terpenuhi. Namun jika bebas finansial diartikan dengan uang banyak, maka hal itu tidak terukur. Oleh karena itu bebas finansial harus terukur, berapa banyak uang yang kita butuhkan untuk menjadi bebas finansial.

Di acara Wealth Expo 2013 lalu, seorang pembicara menjelaskan tentang definisi bebas finansial. Rumusnya sederhana. Saat pengeluaran per bulan kita lebih kecil daripada penghasilan pasif kita per bulan, maka itu sudah disebut bebas finansial. Jadi kalau kita punya pengeluaran per bulan Rp 10 juta, maka selama penghasilan pasif kita lebih besar dari Rp 10 juta, maka kita sudah dapat disebut bebas finansial. Mudah kan?

Nah sekarang yang perlu ditentukan adalah berapa besar pengeluaran kita per bulan. Untuk itu kita harus menentukan gaya hidup yang kita inginkan. Misalnya angan-angan kita adalah memiliki rumah di daerah tengah kota Jakarta, dengan luas tanah dan bangunan 1000 meter. Lalu punya mobil yang minimum harganya Rp 1 miliar. Apakah pengeluaran Rp 10 juta per bulan cukup? Dari sini saja terlihat bahwa itu tidak cukup. Jadi untuk menjadi bebas finansial sangat ditentukan oleh gaya hidup kita.

Misalnya angan-angan kita adalah hidup dengan pengeluaran per bulan Rp 20 juta. Mungkin kita dapat visualisasikan orang yang kita kenal yang kira-kira memiliki pengeluaran per bulan sekitar Rp 20 juta. Kita dapat ikuti gaya hidupnya, sehingga kita dapat bayangkan bahwa dengan memiliki pengeluaran per bulan sekitar Rp 20 juta, maka kita akan memiliki gaya hidup seperti orang yang kita visualisasikan tersebut.

Nah masalahnya, untuk mendapatkan penghasilan pasif sebesar Rp 20 juta per bulan harus ngapain? Cuma ada tiga cara untuk mendapatkan penghasilan pasif. Pertama punya bisnis. Kedua punya properti. Ketiga punya aset berupa kekayaan intelektual. Jika tidak punya salah satu dari ketiganya, maka penghasilan pasif akan menjadi angan-angan belaka yang tidak akan terwujud.

Gimana caranya untuk menggapai ketiga cara di atas?

Punya bisnis. Ada dua cara untuk punya bisnis. Pertama buat bisnis sendiri. Kedua beli bisnis orang lain. Harus memilih salah satu dari kedua cara ini. Bisnis sendiri kalau susah, ya beli bisnis orang. Beli bisnis orang kan gak perlu beli keseluruhan. Beli aja sebagian kecil. Salah satu instrumennya adalah saham. Saham adalah salah satu cara punya bisnis dengan membeli bisnis orang. Punya bisnis itu ada dua keuntungannya. Pertama dapat pembagian keuntungan dan kedua dapat dijual kembali yang mudah-mudahan dengan harga yang lebih mahal.

Properti. Yah beli tanah dan atau bangunan. Siapa pun orang yang bebas finansial pasti punya properti. Baik itu untuk digunakan sendiri ataupun disewakan untuk orang lain dan ada juga yang dijual jika harganya sudah naik cukup tinggi. Apa pun niat kita memegang properti, hampir selalu saat kita jual kembali harganya naik daripada saat kita beli.

Aset kekayaan intelektual. Nah ini yang kita dapatkan dari royalti. Misalnya menulis buku dan bukunya jadi best seller. Tentunya kita akan dapat royalti sesuai dengan jumlah buku yang terjual.

Dari ketiga cara di atas, mana cara yang paling mudah dilakukan oleh seorang karyawan yang bekerja sehari-hari dari pagi hingga sore atau malam hari? Kalau bisa sih kekayaan intelektual, tapi itu membutuhkan ketekunan yang besar. Dan biasanya tidak semua orang memiliki keahlian untuk hal ini. Selanjutnya adalah properti. Bisa dibayangkan kenaikan properti di kota besar dalam lima tahun terakhir ini yang sungguh luar biasa? Mungkin saja kita dapat melipatgandakan uang kita hanya dalam kurun waktu beberapa tahun. Permasalahannya untuk properti adalah harus punya uang yang besar atau koneksi yang kuat dengan orang-orang yang mengerti bisnis properti jika tidak memiliki uang yang besar. Bisa juga dicoba beberapa tips dari pengusaha properti, misalnya beli rumah tanpa uang (dengan cara jadi makelar rumah, menjualkan rumah orang lain, kemudian dapat komisi, dan membeli rumah dari komisi-komisi yang didapat). Yang terakhir adalah punya bisnis. Modal relatif sedikit, namun agak kesulitan membagi waktu. Beli bisnis, contohnya beli saham, modal juga tidak besar, namun harus tahu seluk-beluk pasar saham.

Nah cara yang paling mudah dari ketiga cara di atas tentu adalah beli bisnis. Terutama beli bisnis dari pasar saham. Siapa pun dapat melakukannya. Tidak perlu menjadi orang yang ahli atau kreatif. Tidak perlu menjadi orang yang jago negosiasi. Yang diperlukan hanyalah belajar mendalami pasar saham, membaca segala macam bentuk referensi untuk bisa sukses di pasar saham. Kalau diperlukan ikut pelatihan-pelatihan tentang berinvestasi di pasar saham. Saya pernah baca sebuah buku tentang pasar saham. Di situ ditulis bahwa rata-rata keuntungan yang dapat diperoleh di pasar saham per hari adalah 2%. Jika satu tahun katakanlah ada 200 hari kerja efektif, maka potensi keuntungan yang dapat diperoleh di pasar saham adalah 400%. Yang jadi permasalahan adalah, harga saham yang naik 2% per hari itu gonta-ganti terus. Bukan saham yang sama. Dan tidak ada yang tahu saat itu saham mana yang naik dan saham mana yang turun. Oleh karena itu perlu belajar mendalam tentang pasar saham untuk dapat meraih keuntungan dari pasar ini.

Resiko terlibat di pasar saham adalah besar. Namun resiko yang lain lebih besar lagi jika tidak dimulai dari sekarang. Misalnya properti. Karena saat ini belum punya uang atau memiliki penghasilan yang cukup untuk membayar cicilan, maka kita menunda untuk membeli sebuah properti potensial. Semakin kita menunda, harganya semakin naik dan semakin tidak terjangkau oleh kita. Kekayaan intelektual juga begitu. Belum tentu ide kita diterima orang dengan cepat. Jika kita terus berusaha mengasah diri agar dapat memiliki kekayaan intelektual, maka waktu yang dibutuhkan pun tidak terukur. Bisa 10 tahun, bisa 20 tahun, atau kalau memang kita sangat berbakat dan memiliki keinginan kuat, mungkin hanya butuh beberapa bulan. Namun kepastian atau resikonya lebih besar apabila kita tidak memulai dari sekarang.

Resiko akan jadi paling besar apabila kita tidak melakukan salah satu dari tiga cara di atas!

Sekarang berapa sih yang kita butuhkan untuk menjadi bebas finansial? Sederhana saja. Jika kita punya Rp 5 Milyar saat ini, dan kita tempatkan uang tersebut seluruhnya di instrumen setara deposito, maka kita akan memperoleh return per bulan sekitar Rp 30 juta. Ini adalah penghasilan pasif kita. Jadi kalau kita punya pengeluaran per bulan kurang dari Rp 30 juta, maka dengan memiliki Rp 5 Milyar saat ini dan ditempatkan di instrumen setara deposito, kita telah menjadi bebas finansial. Mudah kan?

Mau punya pengeluaran lebih lagi? Akan lebih mudah tentunya setelah mencapai bebas finansial. Saya belum pernah merasakannya, tapi saya yakin pasti lebih mudah karena saat kita bebas finansial, waktu kita akan lebih banyak terpakai untuk melakukan hal-hal yang kita sukai. Dan ketika kita melakukan hal-hal yang kita sukai, seringkali hal tersebut menghasilkan uang lebih banyak daripada uang yang kita hasilkan dari pekerjaan kita.

Ayo kita target. 10 tahun lagi menjadi bebas finansial! Pasti bisa! {nice1}

Gambar diambil dari : http://www.investasisawit.com/wp-content/uploads/2013/04/financial-freedom.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published.