Commuter Line yang Tepat Waktu

Jalur Commuter LIne

Beberapa minggu lalu saya dikejutkan oleh teman kerja saya yang menyatakan bahwa ia pulang kantor naik commuter line. Yang saya ketahui rumahnya berada di daerah Grogol dan tidak ada commuter line yang lewat sana. Yang saya ketahui tentang commuter line adalah kereta Jalur Jakarta-Bogor dan juga Tanah Abang-Serpong.

Saya lupa bahwa commuter line juga mencakup Tangerang-Duri dan juga Bekasi-Manggarai. Malah ada jalur memutar yaitu Manggarai-Jatinegara yang lewat daerah Jakarta bagian Utara.

Menurut cerita teman saya rumahnya dekat dengan stasiun Duri. Setelah saya simak lewat peta, stasiun Duri memang terletak dekat daerah Grogol. Oleh karena itu tidak aneh kalau teman saya mengatakan bahwa rumahnya dekat dengan stasiun Duri.

Yang jadi pertanyaan saya ke teman saya adalah, “Kenapa kamu naik kereta? Kan kamu ikutan shuttle kantor?” Dia menjawab, “Memang kalau pagi saya naik shuttle kantor karena waktu perjalanan cuma 30 menit. Namun kalau pulang kantor waktu perjalanan sangat lama. Jam 6 sore aja shuttle saya masih di daerah Senayan. Sampe rumah bisa lebih dari jam 8 malam.”

“Sedangkan kalau saya naik kereta paling lambat jam 6 sore sudah sampai rumah.” Lanjutnya meyakinkan saya. “Kok bisa?” Tanya saya lagi. “Itu karena kereta sekarang datangnya cepat, dalam 5-10 menit sekali pasti ada kereta. Tepat waktu lagi!” 

Dua kalimat terakhir itulah yang menggugah hati saya. Datang 5-10 menit sekali dan tepat waktu! Itu adalah kata kunci dari sebuah angkutan umum sesungguhnya. Datang tepat waktu dan jarak antar kereta atau antar kendaraan tidak perlu waktu yang lama.

Setelah percakapan tersebut, di rumah saya mengecek jalur commuter line lewat website resminya. Benar saja, ada banyak jalur commuter line yang saya belum tahu sama sekali. Bahkan di website tersebut dapat dilihat jadwal kedatangan kereta untuk masing-masing stasiun.

Minggu lalu saya putuskan untuk mencoba commuter line pulang dari kantor. Sebagai perbandingan jika saya menggunakan angkutan umum pulang dari kantor ke rumah maka paling cepat saya menghabiskan waktu 1,5 jam, termasuk jalan kaki sejauh 1,5 km. Saya ingin mencoba peruntungan saya naik commuter line apakah lebih cepat atau lebih lambat dari waktu perjalanan.

Supaya tidak terlalu bingung, saya memutuskan untuk ikut teman saya yang sudah biasa naik commuter line. Waktu itu saya pulang kantor pukul 19.45. Dari depan kantor, saya dan teman saya naik Koantas Bima hingga lampu merah terdekat yang mungkin jaraknya kurang dari satu kilometer.

Setelah itu kami naik angkot biru hingga mencapai stasiun Pasar Minggu. Untuk informasi saja bahwa kantor saya terletak di Jl. Simatupang, Cilandak. Waktu perjalanan dari kantor hingga mencapai Peron Stasiun Pasar Minggu sekitar 20 menit atau sampai di Peron sekitar pukul 20.05.

Saat membeli tiket commuter line saya langsung membeli tiket multi trip yang menguras kantong saya Rp 50 ribu. Dari struk yang saya terima, harga kartu multi trip Rp 20 ribu dan nilai saldo yang ada di kartu adalah Rp 30 ribu. Saya tap kartu multi trip saya di pintu elektronik sebelum masuk Peron, dan di situ tertera saldo saya adalah Rp 30 ribu.

Rupanya dengan kedatangan sampai ke Peron pukul 20.05 kami terlambat beberapa menit untuk naik kereta ke Tanah Abang yang baru saja lewat saat kami memasuki stasiun Pasar Minggu. O ya, tujuan kami adalah kereta dari Bogor atau Depok yang melewati Tanah Abang. Jalur sebenarnya adalah Bogor atau Depok ke Jatinegara lewat Tanah Abang. Nanti saya turun di Tanah Abang dan pindah jalur ke arah Serpong hingga Kebayoran Lama, sedangkan teman saya langsung turun di Duri tanpa pindah jalur.

Sewaktu menunggu kereta, saya meminta teman saya untuk mengecek jadwal kereta berikutnya yang ke arah Tanah Abang. Dia pun mengecek smartphonenya dan melihat file dengan ekstensi pdf yang sudah didownloadnya sejak lama. Di situ terlihat bahwa kereta berikutnya yang ke Tanah Abang akan datang sekitar pukul 20.30. Saat saya ikutan melihat jadwal yang ada di Smartphonenya, satu kereta arah Jakarta Kota berhenti di depan kami. Saya lihat kereta tersebut harusnya tiba di Pasar Minggu pukul 20.14. Ketika saya lihat jam tangan saya, waktu memang menunjukkan pukul 20.14. Tepat waktu sekali!

Sesuai jadwal atau sekitar pukul 20.30 kereta menuju Tanah Abang pun datang. Jam segitu kereta menuju Tanah Abang tidak rame bahkan cenderung sepi karena kami berdua dapat tempat duduk dan tidak ada satu pun orang yang berdiri di gerbong kami. Pukul 20.55 kereta yang saya tumpangi berhenti di Tanah Abang. Saya turun dari kereta dan teman saya masih lanjut ke Stasiun Duri untuk pemberhentian terakhirnya.

Saya pun berpindah ke jalur kereta yang merupakan jalur Tanah Abang-Serpong di stasiun tersebut dan menunggu kereta di peron yang berbeda. Jadwal keberangkatan kereta selanjutnya untuk Tanah Abang-Serpong adalah pukul 21.15. Pukul 21.12 kereta sudah datang, namun berhenti cukup lama dan baru jalan kembali 21.16 atau terlambat satu menit daripada jadwal yang sudah ditetapkan.

Sebelum waktu menunjukkan pukul 21.30 saya pun sudah berada di Stasiun Kebayoran Lama. Saya turun dari kereta, tap kartu multi trip saya sebelum keluar dan saldo saya terpotong Rp 3 ribu. Selanjutnya saya naik Mikrolet ke dekat komplek rumah saya. Praktis saya baru sampai di rumah pukul 22 lewat. Waktu perjalanan saya menggunakan kereta malam itu hampir 2,5 jam atau 1 jam lebih lambat daripada rata-rata waktu saya menggunakan angkutan umum yang biasa saya naiki sehari-hari.

Satu jam lebih lama tersebut setelah saya telaah kembali rupanya berasal dari waktu tunggu saya selama berada di stasiun. Di Pasar Minggu saya menunggu hampir 30 menit sebelum kereta datang. Di Tanah Abang pun saya menunggu hampir 20 menit sebelum kereta datang. Itu saja sudah 50 menit. Belum lagi menunggu Mikrolet ngetem di malam hari yang benar-benar lama.

Artinya jika saya dapat menyiasati waktu kedatangan saya di stasiun dengan jadwal kereta Pasar Minggu-Tanah Abang dan juga Tanah Abang-Serpong, mungkin saya dapat memangkas waktu tempuh saya sebanyak maksimum 50 menit. Dan jika itu terjadi artinya waktu tempuh perjalanan saya dengan commuter line yang jaraknya lebih jauh akan sama dengan waktu tempuh saya menggunakan jalur biasa yang saya lalui setiap hari.

Saat ini saya sudah dua kali menggunakan commuter line untuk pulang kantor. Yang kedua tentunya sendiri tanpa teman saya karena sudah tahu harus berbuat apa. Waktu tempuh perjalanan kedua adalah satu tiga perempat jam atau lebih cepat daripada perjalanan perdana.

Yang saya suka mengenai commuter line adalah waktu keberangkatan dan kedatangan yang dapat diprediksi karena begitu tepat waktunya. Memang masih belum sebaik dan senyaman MRT yang ada di Singapura. Namun jika berkaca kepada kondisi KRL dalam 2-3 tahun terakhir, maka kondisi saat ini sudah jauh lebih baik.

Siapa lagi yang mau naik commuter line untuk pergi atau pulang kantor? {nice1}

Gambar diambil dari : http://jakartabytrain.com/data/wp-content/uploads/2013/03/Peta-Rute-Loopline.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published.