Masih Mau Jauh dari Riba? Part 2

Harus diakui bahwa di jaman now, berteman baik dengan riba akan memudahkan dan membuat biaya hidup (harusnya) semakin rendah. Hal itu didukung oleh begitu banyaknya cara pembayaran dengan bau-bau riba, dan begitu banyak promo-promo yang kalau ditelisik lebih jauh sebenarnya adalah riba.

Tapi ada juga efek samping dari riba. Selain efek sampingnya secara negara adalah inflasi, efek samping juga dirasakan secara pribadi. Continue reading

Kemana Harus Berinvestasi?

investasi

Bagi yang ingin memulai berinvestasi kemungkinan besar akan bingung apa yang harus dilakukan. Bingung yang paling besar adalah bingung kemana harus menempatkan modal untuk investasi. Apakah saham? Apakah emas? Apakah properti? Atau malah bisnis pribadi? Semua contoh investasi tersebut adalah benar. Yang terpenting adalah memulainya.

Investasi pun harus disesuaikan dengan tujuannya. Tujuan menggambarkan besaran uang saat tujuannya tercapai. Di samping itu harus juga ditentukan jangka waktu untuk mencapai tujuan. Nah, jika besaran uang sudah didapatkan dan jangka waktu sudah ditentukan, tinggal memilih strategi investasi yang tepat untuk mencapai tujuan dengan jangka waktu tersebut.

Continue reading

Perjalanan Menuju Pasar Saham

Saya mulai mengenal investasi sejak tahun 2008 ketika saya menemukan seorang perencana keuangan pribadi lewat sebuah blog. Dari situ saya mulai mengenal yang namanya reksadana dan mulai menggeluti reksadana sejak saat itu. Saya sempat tidak aktif di reksadana saat akhir 2008 lalu dimana saat itu terjadi krisis dunia akibat kesalahan sistem KPR di Amerika. Saya yang mulai kenal dengan reksadana agak takut juga saat itu apalagi saat itu Nilai Aktiva Bersih reksadana yang saya pilih turun jauh sekali hingga lebih dari 50%. Saya pun sempat berhenti sementara melakukan top up reksadana sampai pertengahan tahun 2009.

Reksadana yang saya pilih cuma dua macam, yaitu reksadana saham dan reksadana pasar uang. Reksadana saham untuk jangka panjang (walaupun saat pasar modal turun sempet takut) dan reksadana pasar uang untuk jangka pendek. Saya tidak bermain di jangka menengah karena menurut saya returnnya tidak sepadan dengan penantiannya. Saya aktif melakukan top up di reksadana paling tidak Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta rupiah per bulannya. Saya memilih reksadana Manulife Dana Saham untuk reksadana saham dan Mandiri Investa Pasar Uang untuk reksadana pasar uang. Tidak ada alasan istimewa memilih keduanya. Alasan utama saya adalah top up fee keduanya adalah nol persen.

Continue reading