Banjir Lagi di Jakarta

Minggu lalu pada tanggal 22 November 2012, komplek rumah kami tergenang banjir. Air mulai naik sejak magrib. Air naik perlahan namun pasti hingga menggenangi jalan komplek. Saat itu saya masih berada di kantor. Saya segera pulang dan untungnya jalanan menuju rumah tidak macet. Saya menempuh perjalanan kurang dari sejam untuk sampai ke rumah.

Saat sampai depan komplek rumah, ketinggian air sudah mencapai betis orang dewasa. Gerbang komplek merupakan tempat yang paling rendah di komplek saya. Saat masuk ke dalam komplek, ketinggian air secara umum masih sedikit di atas mata kaki. Saya pun menuju rumah saya untuk memindahkan mobil yang menurut istri saya yang saat itu berada di rumah sakit untuk menemui dokter anak, masih berada di rumah.

Continue reading

Keinginan dan Kebiasaan yang Berkebalikan

Kita semua tahu dua masalah utama di Jakarta adalah macet dan banjir. Kedua masalah tersebut hampir tidak pernah hilang dari Jakarta dari tahun ke tahun. Jam sibuk maupun jam lenggang, Jakarta macet. Setiap kali musim hujan, banjir terjadi di mana-mana. Itu terus, sampai-sampai masyarakat Jakarta sudah bosen dengan kedua masalah ini dan mau tidak mau menerima masalah ini sebagai hal yang biasa.

Kita juga tahu alasan utama terjadinya macet dan banjir. Macet terjadi karena banyaknya kendaraan pribadi yang lalu lalang di Jakarta. Hal tersebut diakibatkan oleh belum baiknya sistem angkutan umum yang ada di Jakarta. Banjir disebabkan oleh sungai-sungai yang tidak mampu menampung air saat turun hujan. Hal tersebut diakibatkan oleh berkurangnya fungsi sungai menyimpan air gara-gara sampah menjadi penghuni mayoritas sungai-sungai yang mengalir di Jakarta.

Continue reading

Perjalanan Dukungan, 5 km Hari Kedua

Hari ini, seperti kemarin, saya memulai perjalanan pukul 7 pagi. Rute yang saya lewati adalah keluar komplek, lalu berjalan menuju Hutan Kota Srengseng (lewat doank) dan balik lagi ke komplek. Jarak perjalanan kira-kira 5 km. Perjalanan ditempuh dalam waktu kira-kira 1 jam. Saya menempuh perjalanan jalan besar, jalan kecil, gang dan juga pinggir kali. Di jalan besar lebih banyak ditemui ruko-ruko atau tempat usaha. Di jalan kecil, dan gang, banyak ditemui rumah-rumah sempit, walaupun ada beberapa rumah besar yang mobilnya berjejer sesuai kapasitas garasinya.

Walaupun sudah memasuki masa tenang, saya masih banyak melihat atribut kampanye dari beberapa kandidat. Bahkan di beberapa tempat, terdapat spanduk besar gambar kandidat incumbent. Malah saya juga menemukan spanduk besar tersebut di rumah ketua RT setempat, masih terpampang megah. Bagusnya, tidak satu pun atribut kampanye gambar pasangan nomor 5 saya temui. Artinya operasi semut yang dijalankan kemarin sukses. Atau memang kampanyenya tidak menyentuh hingga gang-gang yang menggerakkan ketua RT sebagai juru kampanye.

Continue reading

Manusia Keledai

Mungkin anda pernah mendengar bahwa binatang paling bodoh adalah Keledai. Kenapa begitu? Karena ada pepatah yang mengatakan bahwa “hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali.” Terus terang saya belum pernah melihat keledai, apalagi membuktikan kebodohannya. Tapi saya sering sekali melihat manusia bertindak melebihi kebodohannya keledai seperti yang digembar-gemborkan tersebut.

Contoh manusia keledai sangat banyak dan mudah sekali ditemui, apalagi di kota sebesar Jakarta ini. Kita tidak usah sulit-sulit mencarinya, tinggal nongol ke jalan raya, maka anda akan menemukan banyak sekali manusia keledai beredar. Kenapa saya bilang mereka itu manusia keledai? Perhatikan!!

Tiap hari kita merasakan kemacetan lalu lintas, mulai pagi hari, siang, sore bahkan malam hari. Jika anda memperhatikan, di jam yang sama pada arah yang sama, maka anda akan menemukan mobil dan motor yang sama lewat setiap hari. Sudah jelas itu macet, tapi kenapa mereka selalu lewat situ? Apakah itu tidak sama dengan jatuh ke lubang dua kali malah lebih?

Continue reading